Dirjen Ilmate Taufiek Bawazier: Industri Baja Tembus Ekspor Meski Tertekan COVID-19

September 15, 2020

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Dirjen Ilmate) Kemenperin Taufiek Bawazier.(Humas Kemenperin)

Jakarta, pmp – Taufiek Bawazier, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Dirjen Ilmate), menyatakan Kementerian Perindustrian terus memacu industri baja demi mendongkrak ekspor. Sektor industri baja terus menunjukkan grafik pertumbuhan di masa pandemi.

“Industri baja tetap menunjukkan daya saing dan terbukti mampu menembus pasar ekspor, sekaligus memperlihatkan pertumbuhan permintaan meski dalam tekanan dampak COViD-19,” kata Taufiek Bawazier saat melepas ekspor 1.200 ton baja produksi PT Tatalogam Lestari ke Pakistan, di kawasan industri Cikarang, Jawa Barat, Senin (14/9/2020).

Oleh sebab itu, menurut Dirjen Ilmate, pemerintah melalui Kemenperin terus berupaya meningkatkan pertumbuhan industri baja nasional dengan mendorong terciptanya iklim usaha industri yang kondusif dan kompetitif guna meningkatkan utilisasi serta kemampuan inovatif pada sektor tersebut.

Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan, antara lain regulasi impor baja berdasar supply-demand, memfasilitasi harga gas bumi bagi sektor industri sebesar 6 dolar AS/MMBtu guna menekan biaya produksi, atau Izin Operasional Mobilitas dan Kegiatan Industri (IOMKI) yang memberikan jaminan bagi industri agar dapat tetap beroperasi dengan protokol kesehatan ketat.

“Kebijakan-kebijakan tersebut dirumuskan dengan maksud memberikan jaminan dan kesempatan bagi industri nasional, khususnya industri baja agar dapat bersaing di pasar domestik maupun ekspor,” tegas Taufiek.

Menurutnya, pemerintah juga terus mengupayakan peningkatan demand di pasar domestik, salah satunya dengan mendorong bahan baku baja dalam negeri untuk mendukung proyek strategis nasional atau konstruksi nasional yang sedang digalakkan pemerintah.

Pemerintah menggandeng Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) dan Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi).

Demand terbesar produk baja adalah dari konstruksi yang menyerap sekitar 51% dari produksi dalam negeri sehingga pabrik-pabrik baja dalam negeri bisa dibangkitkan utilitasnya,” kata Taufiek.

Industri Logam Dasar Tumbuh

Dirjen Ilmate menambahkan, pada triwulan II 2020, industri logam dasar tumbuh 2,76% dan memberi kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Pertumbuhan industri dapat meningkatkan utilitas dan diharapkan juga bisa memberikan multiplier effect yang bagus buat daerah-daerah. Di sini pemerintah dan semua stakeholder berperan agar industri bisa memberikan produktivitas tinggi,” ujar Taufiek.

Sejak pandemi pada Maret hingga April, PT Tata Metal Lestari terus melakukan ekspor secara reguler ke beberapa negara tujuan. Kali ini melakukan ekspor ke destinasi baru, yakni Pakistan dan Thailand dengan perkiraan volume 1.200 ton. Perusahaan memproduksi baja lapis zinc aluminium, antara lain dengan merek Nexalume dan baja ringan TASO.

“Kami menilai upaya yang telah ditempuh PT Tata Metal Lestari dan PT Tatalogam Lestari bisa menjadi contoh best practice bagi industri lain. Ini bagian dari upaya bersama menjaga produktivitas industri dan ekonomi,” tambahnya.

Kemenperin sendiri terus melakukan pemantauan atas penerapan protokol kesehatan guna mencegah COVID-19 di lingkungan kerja sektor industri, yaitu mewajibkan perusahaan industri dan kawasan industri yang memegang IOMKI untuk melaporkan aktivitasnya secara rutin setiap minggu.

“Sesuai aturan pemerintah, perusahaan juga diwajibkan melakukan monitoring terhadap seluruh karyawan guna mencegah penularan di dalam maupun di luar area pabrik,” katanya.(bhimo)