PenaMerahPutih.com
Ekbis Headline Indeks Industri

Dukung Gubernur Jatim Percepat PEN, Bank UMKM Salurkan Dana Bergulir Rp 150 M dan Kredit Petani Rp 200 M

Bank UMKM
Gubernur Jatim Khofifah serahkan bantuan dana kredit kepada pelaku UMKM disaksikan Dirut Bank UMKM Jatim Yudhi Wahyu Maharani.(Humas Bank UMKM)

Surabaya, pmp – Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menegaskan upaya masif pengendalian COVID-19 dengan protokol kesehatan harus tetap seimbang dengan pemulihan ekonomi. Bank UMKM Jatim mendukung kebijakan gubernur dengan menyalurkan dana bergulir guna membangkitkan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah di berbagai daerah.

“Harapannya adalah bagaimana kita bisa menyeiringkan antara pergerakan ekonomi dan pengendalian COVID-19,” kata Gubernur Khofifah saat kunjungan kerja dan nggowes bareng di Lumajang, Minggu (27/9/2020).

Menurut Khofifah, pergerakan ekonomi bisa dilakukan dengan  menemukan format bagaimana menyalurkan akses perkreditan dari perbankan kepada para pelaku UMKM di Jatim.

“Harapan kami adalah pelaku-pelaku UMKM, mungkin juga pelaku di sektor agro, wisata, perdagangan dan seterusnya, mereka akan ketemu format bagaimana mengakses  perkreditan yang ada di Bank Jatim dan Bank UMKM Jawa Timur dalam skema PEN atau Pemulihan Ekonomi Nasional,” harap Khofifah.

Menindaklanjuti harapan Gubernur Khofifah, Dirut Bank UMKM Jawa Timur  Yudhi Wahyu Maharani mengatakan, Bank UMKM telah menyalurkan  dana bantuan berupa kredit dari Pemprov Jatim yakni dana bergulir (Dagulir) dan Paket Kredit Petani Jawa Timur (PKPJ) untuk mendukung pemulihan ekonomi. Besaran dana yang dialokasikan masing-masing Dagulir senilai Rp 150 miliar dan PKPJ senilai Rp 200 miliar.

“Bantuan dana  berupa kredit dari Pemprov ini diberikan dengan bunga murah, yakni 4% dan 6% setahun. Dana ini akan disalurkan di setiap cabang. Harapannya di era new normal ini perekonomian segera pulih. Akses permodalan dan bantuan permodalan dari Pemrpov Jatim ini bisa mendongkrak kembali perekonomian  terutama sektor UMKM,” kata Yudhi saat ditemui di Grha UMKM, Jalan Ciliwung, Surabaya, Rabu (30/9/2020).

Menurut Yudhi, sudah ada beberapa kabupaten dan kota di Jatim yang menerima penyaluran bantuan dana ini yakni Lumajang, Probolinggo, Kota Pasuruan, Sumenep dan Pamekasan. Rencananya akan menyusul penyaluran dana di Kediri dan Trenggalek.

Pimpinan Divisi Pemasaran Bank UMKM Jawa Timur, Eddy Suleksono mengatakan, dari alokasi PKPJ sebesar Rp 200 miliar, sampai Agustus 2020 sudah disalurkan Rp 187,542 miliar kepada 6.219 nasabah. Rasio kredit macet (non performing loan/NPL) PKPJ rendah yakni 1,29%.

Baca Juga :   Melanglang Buana Berkat Tari Sekar Kedaton dan Remo

“Sedangkan dari alokasi Dagulir sebesar Rp 150 miliar ini, hingga Agustus 2020 sudah disalurkan Rp Rp 112, 733 miliar kepada 716 nasabah existing,” katanya.

Hingga posisi 29 September 2020, Dagulir masih tersisa Rp 39,5 miliar. Dari jumlah tersebut, lanjut Eddy, ada kredit sebesar Rp 15,85 miliar yang telah melewati tahap survei kelayakan, feasible dan bankable yang akan direalisasikan pada bulan Oktober.

“Sisa Dagulir masih ada Rp 23,716 miliar. Saya optimis akhir bulan Oktober ini insya allah akan habis disalurkan,” kata Eddy.

Bank UMKM
Dirut Bank UMKM Jatim Yudhi Wahyu Maharani (kiri) dan pelaku UMKM penerima bantuan dana kredit dari Pemprov Jatim.(Humas Bank UMKM)

Bunga Murah Syarat Mudah

Eddy menilai masyarakat sangat antusias dengan bantuan dana bunga murah itu karena sangat bersaing dengan KUR (kredit untuk rakyat).

“Masyarakat antusias karena Dagulir ini bunganya murah dan bersaing dengan KUR. Dagulir ini juga memiliki fasilitas yang dicover Jamkrida (jaminan kredit daerah) sehingga jaminan material yang disediakan tidak harus penuh 100% dari plafon. Nah ini yang menarik bagi masyarakat Jatim,” kata Eddy.

Hal lain, program Dagulir ini ada pendampingan dan pembinaan nasabah dari dinas maupun biro, seperti Biro Perekonomian, Dinas Koperasi dan UMKM, Disperindag, Dinas Perkebunan, Dinas Pertanian,  termasuk Dinas PMD (Pemberdayaan Masyarakat dan Desa).

Mereka semua punya andil untuk melakukan pembinaan bagi UMKM yang dibiayai. Ada kolaborasi dan sinergitas yang bagus dari Bank UMKM dengan dinas-dinas, biro dan Jamkrida selaku penjamin kredit.

“Persyaratan pengajuan lebih mudah, terutama jaminan  boleh di bawah plafon. Ini berbeda dengan jaminan kredit komersial yang harus di atas plafon, paling tidak nilai jaminannya 110% dari plafon,” katanya.

Plafon kredit Dagulir untuk umum, di luar kredit hulu hilir hingga Rp 500 juta. Sedangkan kredit hulu hilir dan tunda jual, seperti kredit untuk pertanian dan perkebunan plafonnya sampai Rp 10 miliar.

Baca Juga :   Status Badan Hukum Bank UMKM Jawa Timur Berubah dari PD Menjadi PT

Eddy mencontohkan kredit hulu hilir pertanian yang sudah dibiayai Bank UMKM untuk kelompok tani di Ngawi sebesar Rp 1,3 miliar. Sementara kredit hulu hilir perkebunan untuk gapoktan coklat di Mojokerto dibiayai hingga Rp 10 miliar.

“Bahkan gapoktan coklat yang Mojokerto ini akan dibiayai lagi untuk kredit tunda jual sebesar Rp 10 miliar. Program kredit tunda jual ini merupakan program yang baru dilaunching Gubernur Khofifah melalui dinas perkebunan setelah kredit hulu hilir dengan maksimal dengan plafon kredit Rp 10 miliar,” katanya.

Selain gapoktan coklat Mojokerto, kredit hulu hilir dan kredit tunda jual diberikan kepada gapoktan kopi di Jember, Bondowoso, Situbondo dan Probolinggo, dengan total plafond sebesar Rp 20 miliar, terdiri dari kredit hulu hilir sebesar Rp10 miliar dan kredit tunda jual sebesar Rp10 miliar.

“Menyusul melalui program yang sama akan diberikan kepada gapoktan coklat di Blitar dengan nilai Rp 5 miliar. Rencananya realisasi di bulan Oktober,” kata Eddy.

Masih menurut Eddy, cara pengajuan PKPJ bisa langsung ke kantor cabang Bank UMKM Jawa Timur se-Jatim. Dari kesesuaian persyaratan akan dilakukan survei sesuai dengan bidang luasan lahan. Misalnya peternakan sapi, berapa volume kandang; untuk perikanan berapa volume kolam, wajarnya diisi ikan berapa; untuk padi volume luasan per 1 hektar menghasilkan berapa ton gabah, semua masing-masing sudah ada standarnya.

Plafon pengajuan PKPJ per orangan maksimal Rp 50 juta, sedangkan kelompok maksimal Rp 250 juta.

Sementara untuk pengajukan Dagulir disesuaikan dengan bidang usahanya, apakah UMKM, pertanian atau perkebunan, perdagangan (IKM).

“Saat ini sektor yang paling banyak dibiayai masih perdagangan. Pascapandemi ini, sektor paling aman adalah pertanian, jadi arahnya ke sana. Dari survei yang dilakukan untuk mempertahankan ekonomi yang paling bagus adalah survive di bidang makanan dan minuman, yakni penguatan pangan,” kata Dirut Yudhi.

Yudhi mencontohkan dua komoditi pangan yang potensial, yakni kakao (coklat) dan kopi, di mana saat ini pemintaan pasar luar biasa. Produksi kakao sejauh ini masih belum memenuhi tingginya permintaan pasar lokal. Sedangkan komoditi kopi saat ini ekspornya terus meningkat.

Baca Juga :   Bangkitkan UMKM Pascapandemi, Khofifah Salurkan Dana Bergulir Rp 330 Miliar
Bank UMKM
Dirut Yudhi bersama Eddy Suleksono, Pimpinan Divisi Pemasaran Bank UMKM Jatim (kiri) dan Sigit Purwanto, Pimpinan Sub Divisi Marketing dan Kelembagaan Bank UMKM Jatim.(Humas Bank UMKM)

Edukasi dan Pembinaan UMKM

Sejauh ini penyerapan terbesar untuk PKPJ berasal dari Kabupaten Magetan, Ngawi, Kediri, Jember dan Nganjuk. Sedangkan penyerapan Dagulir untuk sektor perdagangan tertinggi di Surabaya dan Mojokerto, sektor pertanian di Ngawi dan sektor perkebunan di Mojokerto, Jember dan Probolinggo.

“Dalam penyaluran dana bantuan Pemprov ini ke berbagai daerah, saya selalu mengedukasi agar dana bantuan dimanfaatkan sebaik mungkin. Dana ini tidak boleh mandek karena bukan sekadar bantuan (hibah), namun dana pembiayaan murah yang terus digulirkan. Dengan begitu penyaluran dana berjalan lancar, tak hanya banknya yang sehat namun juga nasabahnya lancar dan berkembang dalam berusaha. Inilah yang ingin saya ubah mindsetnya agar Jawa Timur sehat dan maju,” papar Yudhi.

Alhasil dari edukasi, sosialisasi dan pembinaan yang dilakukan Bank UMKM bersama para dinas, tokoh desa dan dewan daerah kepada para nasabah, Yudhi bersyukur banyak di antara para nasabah yang berkembang dan naik kelas.

“Kami berharap UMKM yang sudah mendapatkan Dagulir bisa naik kelas ke semi komersial. Jadi Dagulir yang murah ini bisa dimanfaatkan untuk UMKM lain. Namun kami tetap fleksibel, jika belum bisa naik kelas ada pendampingan consulting. Yang terpenting bagaimana caranya agar UMKM di Jatim bisa kembali bangkit,” tandas Yudhi.

Dari kumulatif Rp 150 miliar, pada posisi akhir Agustus 2020 masih tersisa sekitar Rp 51 miliar yang bisa terus digulirkan dan diputar. Dari total 4.492 nasabah, kini ada 761 nasabah existing. Sejak 2003 hingga kini Bank UMKM sudah menyalurkan dana bergulir Rp 551 miliar.

“Saya berharap November ini, baik program Dagulir maupun PKPJ, sudah terserap semua, sehingga kami bisa mendapat tambahan dana Pemprov agar bisa kami salurkan lagi bagi para UMKM untuk mendukung program pemulihan ekonomi nasional,” pungkas Yudhi.(hps)