Geliat UKM Sokong Warga Perak Utara Makin Tangguh

Oktober 31, 2020
CSR Pertamina

Lingkungan RW 8 Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantian, lolos 150 besar lomba Surabaya Smart City 2020.(hapsah)

Surabaya, pmp – Tangan Yeti Nofianti (45) begitu cekatan memindah dan memasukkan kue pluntir, camilan tradisional olahan tepung, dari baskom ke dalam kemasan plastik. Kue-kue itu masih hangat  karena baru digoreng Nur Hayati (42), tetangganya. Sementara Wiwik (40), tetangga lainnya, asyik menempelkan stiker bertuliskan UKM 67 pada kemasan plastik.

Yeti, Nur Hayati dan Wiwik tinggal di kawasan padat Perak Utara yang dekat dengan Pelabuhan Tanjung Perak. Kemasan plastik berlogo UKM 67 yang didominasi warna biru serta dilengkapi alamat dan nomor seluler itu merupakan penanda bahwa camilan pluntir tersebut hasil produksi para ibu yang merupakan para pelaku usaha kecil warga RT 6 RW 7, Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantian, Kota Surabaya.

“Pemberian nama di kemasan itu usulan Pak Eddy Kurniawan (Supervisor Environmental and Hygiene Industry) dari Pertamina agar produk kami punya nama sehingga masyarakat tahu dan jika mereka suka bisa langsung menghubungi kami,” papar Yeti mengenai asal-usul pemberian nama di kemasan camilan, saat ditemui di rumahnya di Jalan Teluk Nibung Barat VI Nomor 10, Selasa sore (27/10/2020).

CSR Pertamina

Yeti Nofianti (kanan) dan Wiwik mengemas camilan produk UKM 67.(hapsah)

Sementara soal nama UKM 67 merupakan kesepakatan para ibu yang merupakan UKM binaan PT Pertamina (Persero) MOR (Marketing Operation Region) V wilayah Jatimbalinus melalui Program CSR atau corporate social responsibility. Maklum saja, tempat tinggal mereka termasuk wilayah ring 1 Integrated Terminal Surabaya Group.

Camilan tradisional yang menjadi unggulan UKM 67 ini  tak hanya pluntir, tapi juga kuping gajah, opak, atau rengginang, termasuk berbagai kue basah seperti kue lumpur, sus, pastel, atau susu kedelai. Mereka juga menerima pesanan makanan khas Surabaya lainnya dari berbagai pihak seperti dinas pemkot dan rekanan, termasuk Pertamina.

Contohnya pesanan makanan kecil dari Pertamina yang rutin setiap Jumat dua minggu sekali untuk konsumsi para karyawan yang melakukan senam pagi. Pesanan makanan kecil bervariasi antara 40 kotak hingga 50 kotak.

Sementara jika Pertamina mempunyai kegiatan tertentu, para ibu UKM 67 bisa menerima pesanan nasi kotak hingga 200 porsi. Dinas pemkot pun sering memesan kue basah seperti sus dan kue lumpur, serta susu kedelai.

“Alhamdulillah kami jadi punya pemasukan. Hasil yang kami terima cukuplah buat kebutuhan sehari-hari,” kata Yeti yang memiliki dua anak.

Sejak ibunya meninggal tahun 2015, Yeti terpaksa keluar dari pekerjaan membantu seorang teman berjualan batik. Dia harus di rumah menjaga anak yang masih SD yang selama ini ditemani almarhum ibu.

Kondisi ini memaksa Yeti belajar memasak, selain karena kebutuhan juga untuk mengisi waktunya di rumah sepanjang hari. Tak hanya belajar otodidak, Yeti juga banyak belajar memasak dan berjualan dari ibu mertua, Siti Fatimaniah (69). Hasil olahan masakannya ternyata banyak disukai pembeli, seperti olahan ikan tongkol, klothok ikan asin dan ikan pare.

Yeti yang dipercaya sebagai penggerak UKM dan bendahara PKK di RT 6 sering mengajak para tetangga mengerjakan pesanan makanan dalam jumlah besar.

“Dengan mengerjakan bersama selain berbagi rezeki, pesanan bisa diselesaikan tepat waktu. Kami tidak boleh mengecewakan pembeli agar mereka kembali lagi. Terlebih sekarang ini usaha kuliner seperti kami semakin banyak,” katanya.

CSR Pertamina

Ibu-ibu di depan Bank Sampah RT 7 RW 8.(hapsah)

Belajar Sampai Tulungagung

Sebagai penerima Program CSR Pertamina, para ibu anggota UKM 67 diberi berbagai pelatihan membuat kue tradisional. Camilan pluntir dan kuping gajah merupakan hasil pelatihan yang diinisiasi Pertamina pada September 2019. Yeti dan Sulih Sri secara khusus dikirim ke Tulungagung Jawa Timur selama dua hari untuk belajar secara langsung kepada pelaku UMKM yang sudah sukses memasarkan dua jajanan tersebut.

“Membuat kuping gajah dan pluntir ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ada keterampilan khusus agar hasilnya bisa bagus dan rasanya gurih renyah,” kata Yeti.

Adonan kuping gajah harus pas agar saat digulung semua lapisan bisa menyatu. Gulungan kemudian dimasukkan freezer dengan waktu tertentu agar tidak pecah saat diiris.

“Cara menggoreng camilan ini juga ada trik khusus, seperti menggoreng irisan kuping gajah agar tidak pisah. Juga menggoreng pluntir tidak boleh menggunakan minyak lebih dari dua kali goreng karena adonan telurnya menyebabkan buih pada minyak,” tambahnya.

Syukurlah dua hari pelatihan telah membuatnya banyak paham. Tak hanya itu, sepulang dari pelatihan, Yeti dan Sulih dibelikan berbagai perlengkapan memasak mulai dari kompor, wajan, timbangan, alat giling tepung, mixer, blender, bahkan etalase untuk memajang produk.

Bulan berikutnya, Pertamina mendatangkan pelatih ke RT 6 untuk mengajari ibu-ibu membuat camilan tradisional lainnya yakni rengginang.

“Rengginang termasuk camilan tradisional yang masih banyak penggemar. Permintaan rengginang cukup tinggi, tak hanya pesanan hajatan namun juga penjualan secara online,” kata Wiwik yang juga pernah dilatih membuat camilan opak.

CSR Pertamina

Tertata rapi dan asri dengan tanaman obat keluarga.(hapsah)

Persoalan muncul saat pandemi corona datang. Produk camilan UKM 67 ikut terimbas dan penjualan merosot. Sebagai upaya promosi agar produk tetap laku, Pertamina mempersilakan produk UKM 67 dijual di Kantin Kejujuran di areal kantor. Disebut Kantin Kejujuran karena para pembeli self service, mengambil sendiri hidangan atau jajanan untuk kemudian membayar sesuai harga di tempat yang telah disediakan. Termasuk mengambil sendiri uang kembalian jika nominal yang disetor nilainya berlebih.

“Kantin Kejujuran yang digagas sejak Agustus lalu cukup membantu penjualan camilan kami. Pengunjung Kantin Kejujuran tak hanya para karyawan Pertamina namun juga para tamu. Dari display produk di Kantin Kejujuran, para tamu bisa mengenal produk UKM 67 dan alhamdulillah sudah banyak yang pesan produk kami,” kata Yeti.

Baik Yeti, Wiwik maupun Nur Hayati berharap pelatihan memasak bisa dilakukan lebih rutin, minimal setahun dua kali agar ketrampilan membuat aneka camilan makin bertambah. Mereka mengaku sangat merasakan manfaatnya, terutama saat pandemi sekarang ini.

“Banyaknya pelatihan yang diberikan mendorong kami bisa berinovasi dalam bisnis kuliner, mencari dan membuat menu yang laku dijual. Kami menjadi lebih percaya diri dalam memasarkan karena kami juga diikutsertakan dalam komunitas yang secara tidak langsung terbentuk dari para penerima CSR Pertamina,” kata Yeti.

Lolos Surabaya Smart City

Program CSR Pertamina di Kelurahan Perak Utara tak hanya buat ibu-ibu UKM 67, tapi juga RW-RW lainnya termasuk RW 8, RW 9 dan RW 10. Jenis program CSR yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing RW.

Menurut Mohammad Kamil (49), Ketua RW 8, warganya yang total berjumlah 2.227 jiwa dan tersebar di 10 RT sudah menikmati Program CSR Pertamina sejak belasan tahun lalu.

“Misalnya pada  tahun 2011 saat saya masih jadi Sekretaris RW 8, kami pernah dibantu Pertamina mesin jahit plus mesin obras empat buah juga peralatan sablon, termasuk pelatihan menjahit, mengobras dan menyablon bagi karang taruna dan warga,” kata Kamil saat ditemui di Kantor RW 8 yang disebut Balai Pelayanan Masyarakat (BPM) dan terletak di sudut Jalan Teluk Aru Utara I, Selasa (27/10/2020).

CSR Pertamina

Mohammad Kamil, Ketua RW 8 (baju hitam) di lokasi budi daya ikan nila.(hapsah)

Pelatihan itu tentu saja membuat warga memiliki keahlian dan bisa memanfaatkan mesin jahit, mesin obras dan peralatan sablon yang ada di BPM. Omset pun berdatangan dengan kisaran 100 kaos-200 kaos per bulan. Pertamina pun ikut memesan jika sedang ada kegiatan untuk event tertentu yang membutuhkan kaos.

Tak hanya itu, Pertamina juga membantu para UMKM warga RW 8 agar usahanya tumbuh. Terdapat 73 pelaku usaha mikro, kecil maupun menengah di RW 8. Contohnya Soedjono yang memiliki usaha jahit gorden, dia pernah mendapat pesanan dari Pertamina untuk pengadaan gorden kantor.

Geliat para UMKM di lingkungan kawasan padat penduduk Perak Utara,  baik di RW 7 maupun RW 8 menjadi salah satu pendukung sehingga kedua RW lolos masuk 150 besar lomba Surabaya Smart City (SSC) 2020.

SSC 2020 merupakan lomba kampung bersih dan inovatif yang digelar Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) serta diikuti lebih dari 1.300 RW. Kabar baiknya, RW 7 dan RW 8 sukses masuk 150 besar, setelah lolos saringan dari 1.300 RW menjadi 500 RW dan kemudian disaring lagi menjadi 150 RW.

Penilaian SSC 2020 di antaranya lingkungan bebas sampah, Satgas Kampung Tangguh terkait penanganan COVID-19, ketahanan pangan, serta tingkat partisipasi masyarakat.

“Alhamdulillah RW 8 masih lolos Surabaya Smart City 2020. Saat ini kami sedang menunggu penjurian di tahap 150 RW,” kata Kamil.

Menurutnya, RW 8 memiliki berbagai fasilitas untuk memenuhi empat kriteria penilaian SSC 2020. Terkait lingkungan bebas sampah, mereka memiliki Bank Sampah dan berhasil mengedukasi warga untuk menyeleksi sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik) sejak dari rumah. Upaya pengurus RW 8 didukung Pertamina dengan memberi tempat sampah warna biru untuk basah dan warna merah untuk kering yang tersebar di berbagai sudut lingkungan.

Pengurus RW 8 juga sudah terbukti berhasil membebaskan saluran air yang melintasi pemukiman mereka dari sampah sehingga lingkungan terbebas dari bau menyengat yang merupakan problem masa lalu kawasan tersebut.

“Strateginya saluran air kami beri tanda sesuai batas RT yang dilewati. Jadi jika ada bagian yang kotor, tinggal melihat sampah itu berada di wilayah RT berapa. Jadi warga RT yang bersangkutan bakal malu. Selain itu seluruh warga juga aktif mengikuti kerja bakti yang digelar setiap hari Minggu pertama awal bulan,” kata Kamil.

Masih terkait sampah, RW 8 juga memiliki banyak biopori –lubang buatan di tanah yang berdiameter sekitar 20 cm sedalam 40 meter- yang berfungsi mengalirkan genangan air agar tak banjir, sekaligus menjadi tempat membuang daun-daun agar setelah membusuk bisa dimanfaatkan menjadi kompos. Misalnya terdapat enam biopori di Jalan Teluk Nibung VII yang masuk RT 7.

Gang RT 7 tertata rimbun dan asri dengan berbagai tanaman obat keluarga. Bekas botol minuman mineral dipotong dan kemudian dicat warna-warni dijadikan pot tanaman. Beberapa warga tampak menanam kangkung secara hidroponik, juga ada lekung alias budi daya ikan lele dan kangkung di dalam satu drum plastik.

Sementara untuk menyirami seluruh tanaman di dalam gang, mereka membuat ipal atau instalasi pengolah air limbah sederhana dari dua drum plastik warna biru yang di dalamnya terdiri dari saringan, lapisan pasir, ijuk dan arang. Ipal sederhana itu mengubah air limbah di selokan menjadi air tak berwarna dan berbau yang bisa dimanfaatkan warga untuk menyiram tanaman.

CSR Pertamina

Instalasi pengolah air limbah (Ipal) sederhana yang mengubah air selokan menjadi tak berwarna dan tak berbau.(hapsah)

Pemanfaatan lahan areal kosong menjadi produktif juga dilakukan di RT 10 RW 8 dengan membuat dua kolam budi daya ikan nila. Guna menjaga kebersihan lingkungan dan aliran air, warga juga membuat biopori di antara kedua kolam yang beralaskan terpal tersebut.

“Budi daya ikan nila dengan bantuan dana CSR Pertamina ini dikelola enam warga, dua di antaranya terkena PHK. Harapannya mereka bisa kembali produktif dan ada kesempatan memperoleh penghasilan,” kata Kamil yang terjun langsung mengajari warganya cara budi daya ikan nila.

Sementara terkait program Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo, warga RW 8 memiliki rumah isolasi COVID-19 bagi warga atau tamu dari luar kota sebelum berbaur dengan masyarakat, tempat cuci tangan di setiap fasum dan seluruh RT, Alat Pelindung Diri (APD) standar pemerintah, bahkan data warga yang menjadi pasien terkonfirmasi COVID-19.

CSR Pertamina

Posko Kampung Tangguh dan rumah isolasi milik warga RW 8.(hapsah)

Peran Aktif Masyarakat Kekuatan Utama

Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo yang melibatkan peran aktif masyarakat di tingkat RW dan RT dalam penanggulangan wabah pandemi COVID-19, tak hanya terbukti tangguh menjaga kesehatan lingkungan, namun juga meningkatkan ketangguhan ekonomi warga.

“Dampak pandemi ini justru memunculkan UKM-UKM baru di tingkat masyarakat menengah bawah, contohnya ibu-ibu UKM 67. Padahal bisnis katering skala besar banyak yang gulung tikar. Para UKM makanan di Surabaya yang muncul ini makin bervariasi,” kata Risnani Pudji Rahayu, Fasilitator Lingkungan dan UKM Pemkot Surabaya yang selama ini aktif mendampingi warga RW 7 dan RW 8 Kelurahan Perak Utara.

Menurut Riris, panggilan akrabnya, kemunculan para UKM baru ini terdorong kuatnya jaringan komunitas warga, baik di lingkungan RW atau komunitas para pelaku usaha. Komunitas-komunitas inilah yang menjadi kekuatan terciptanya peluang pasar.

“Peran aktif masyarakat dalam sebuah lingkungan, sikap gotong-royong dan kemandirian yang menjadi basis Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo menjadi kekuatan baru bagi para UKM untuk membuka akses pasar di masa pandemi. Ini menjadi modal ketangguhan ekonomi warga menghadapi dampak pandemi,” tambah Riris.

Sebelumnya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengungkapkan bahwa beberapa persoalan kota berhasil ditangani bersama-sama antara Pemkot, masyarakat dan berbagai pihak lainnya termasuk institusi bisnis melalui program CSR, mulai dari persoalan pemukiman, pertumbuhan ekonomi, permasalahan lingkungan hingga program urban farming atau bertani di lingkungan perkotaan.

“Saat masterplan Surabaya disusun puluhan tahun lalu, pemerintah kota sepakat bahwa kawasan kampung, terutama yang letaknya di bagian kota harus dilindungi sebagai cagar budaya kota,” kata Risma dalam pertemuan virtual berskala internasional memperingati Hari Habitat Dunia atau World Habitat Day 2020, Rabu (7/10/2020).

Berangkat dari perspektif kampung sebagai cagar budaya, lanjut Risma, Pemkot Surabaya membuat sejumlah proyek untuk menata kota mulai dari peremajaan kawasan, peningkatan infrastruktur, pelayanan dasar termasuk jalan, drainase, sanitasi, serta menyusun perencanaan yang melibatkan warga di kawasan tersebut.

“Setelah itu kami mengedukasi mereka tentang pentingnya kebersihan, keindahan dan tempat tinggal yang nyaman,” tegas Risma.

CSR Pertamina

Kampung sebagai cagar budaya kota.(hapsah)

Setelah tahapan tersebut berhasil, langkah berikutnya membangun kota adalah meningkatkan ekonomi masyarakat. Terutama menggerakkan perekonomian keluarga dengan mengaktifkan para ibu rumah tangga. Pemkot terlibat aktif memberikan pelatihan di bidang usaha khususnya kepada para ibu rumah tangga secara gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun. Para ibu rumah tangga inilah yang oleh Risma dijuluki sebagai Pahlawan Ekonomi Kota Surabaya.

“Sekarang manfaatnya sudah nyata. Kita mencatat peningkatan ekonomi masyarakat setempat, seiring dengan peningkatan daya beli mereka,” kata Risma.

Sementara itu, Pertamina MOR V berkomitmen untuk terus mendukung masyarakat melalui program CSR yang tersebar di area operasi Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, termasuk Kota Surabaya sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur.

“Pertamina bersama masyarakat berupaya untuk menciptakan sinergitas yang baik dan sekaligus memberikan nilai tambah kepada masyarakat di sekitar area operasi dari Pertamina,” kata CD Sasongko, Executive General Manager Pertamina MOR V, di Surabaya, Sabtu (24/10/2020).

Menurutnya, Program CSR Pertamina merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh sebuah perusahaan, khususnya Pertamina dalam menjalankan keseharian operasi bisnisnya.

“Dengan adanya program CSR, Pertamina bersama masyarakat selalu mencoba bekerja sama untuk mencapai tujuan, memecahkan permasalahan di lingkungannya dan memberikan kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat di sekitar area operasi Pertamina,” pungkas Sasongko.(hapsah)

Baca juga: Dihajar Corona Diselamatkan Pertamina, Perajin Kulit Jocce Siap Ekspansi