PenaMerahPutih.com
Headline Indeks Perspektif Wow

Harum dan Legitnya Cita Rasa Kopi Wonosalam

Kelompok Petani Kopi Wojo, UPH Kopi Desa Carangwulung, Wonosalam, Jombang memilih biji kopi pascapanen.

Jombang, pmp – Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia setelah Brazil, Kolumbia dan Vietnam memiliki keunikan tersendiri, yakni aroma dan cita rasa kopi yang dihasilkan tergantung daerah penanaman. Tanaman kopi bisa tumbuh subur di berbagai dataran tinggi di Indonesia yang tentu saja menyajikan berbagai cita rasa kelas tinggi.

Potensi besar inilah yang mendorong Bank Indonesia (BI) Jatim membantu para petani agar mampu menghasilkan produk kopi premium bercita rasa tinggi secara kontinu.

“Tahun ini dan tahun depan BI Jatim fokus pada pengembangan kopi, sekaligus kami membantu para UMKM berbasis kopi melewati masa pandemi ini. Wilayah Jatim memiliki potensi kopi yang sangat besar,” kata Difi A Johansyah, Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, saat media gathering BI Jatim di Wonosalam, Jombang, Jumat (27/11/2020).

Menurut Difi, BI mendorong pengembangan potensi kopi jenis premium, seperti Arabica, Robusta dan origin daerah.

“Itu premium dan harganya mahal. Itu yang akan kami promosikan sehingga kami bantu pembinaan mulai  pembibitan hingga teknik pengolahan kopi agar petani mampu menghasilkan kualitas kopi yang premium,” tambahnya.

Difi menyebutkan tantangannya adalah kapasitas produktivitas kopi belum bisa kontinu. Hasil diskusi intensif BI Jatim dengan para pakar menyebutkan produktivitas kopi premium petani di Jatim masih bisa ditingkatkan dua kali lipat per hektar.

Hal itu penting mengingat permintaan kopi ternyata justru semakin meningkat di masa pandemi COVID-19. Berdasar pantauan BI, secara umum sektor pertanian di Jatim termasuk kopi tidak terlalu terpengaruh dan justru trennya meningkat.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Difi A Johansyah.

Demand kopi justru naik. Bahkan para pakar mengatakan, pada tahun 2045 nanti dunia akan kehabisan kopi. Jadi saya katakan, potensi bisnis apa yang cukup menguntungkan sekarang dan ke depan,  ya bisnis kopi,” tandas Difi.

Tantangan lain Indoesia belum mampu membuat kualitas kopi bisa konsisten. Hal yang cukup sulit mengingat Indonesia merupakan negara yang sangat dipengaruhi musim.

Baca Juga :   Menjemput Rezeki Melestarikan Semanggi

“Cara mengeringkan kopi di Sumatera dan Jawa saja sudah beda. Itu tantangan tersendiri agar kopi-kopi yang sudah baik itu bisa ditingkatkan kualitasnya,” tambahnya.

Naik Kelas Kualitas Ekspor

Khusus perkebunan kopi di Wonosolam, Jombang yang termasuk dataran tinggi di kaki Gunung Anjasmoro, terdapat beberapa areal yang bibit kopinya sudah tua sisa perkebunan Belanda sehingga produksinya semakin turun.

Guna peremajaan tanaman, BI Jatim memberi bantuan 14.500 bibit Arabika, 2.500 bibit Liberika dan 3.500 entres Robusta pada petani binaan mereka.

“Potensi kopi di Wonosalam luar biasa dan memiliki keunikan tersendiri. Bibit Liberika bisa berkembang bagus di daerah ini sehingga memiliki kekhasan. Harapan kami, petani bisa menciptakan value added yang tinggi sebagai nilai jual untuk kopi Wonosalam, khususnya jenis Excelsa,” kata Harmanta, Deputi Kepala Perwakilan BI Jatim, saat penyerahan bantuan bibit, pada Sabtu (28/11/2020).

Menurut Harmanta, BI Jatim membantu prosses dari hulu hingga hilir, mulai bantuan varietas bagus dan unggul, penanganan pascapanen, hingga packaging.  Sementara bantuan teknis yang diberikan di antaranya membina petani agar disiplin soal jadwal tanam dan memupuk, paham memelihara tanaman kopi, mengenal hama penyakit, hingga bantuan sarana dan prasana seperti mesin pengelupas kulit, alat sangrai dan giling, serta alat packaging atau kemasan.

“Harapan kami kopi Wonosalam bisa terus meningkat menjadi kualitas berstandar ekspor. Untuk itu perlu kedisiplinan dalam rutinitas dan kontinuitas kualitas maupun produksi dengan kapasitas banyak,” kata Harmanta.

BI Jatim bahkan telah mempersiapkan pembinaan korporatisasi petani melalui pembentukan kelompok, asosiasi atau koperasi agar petani lebih efektif dan efisien. Termasuk digitalisasi marketing yang sangat potensial di masa pandemi.

Baca Juga :   Kenapa Semen Rembang Begitu Menakutkan Bagi Semen Asing?

“Keberadaan korporatisasi bakal membantu petani memudahkan akses ke perbankan untuk perolehan modal guna pengembangan usaha dan inovasi. Kami berharap petani bisa naik kelas, tak hanya berhenti di skala mikro, namun bisa menjadi usaha kecil hingga menengah dan lanjut menjadi usaha besar,” kata Harmanta.

Kabar baiknya, upaya dan harapan BI Jatim mulai terwujud dengan keberhasilan Kelompok Petani Kopi Wojo, Unit Pengolahan Hasil (UPH) Kopi Desa Carangwulung, salah satu klaster binaan BI di Wonosalam, sukses meningkatkan kapasitas produksi hingga menembus pasar ekspor.

“Tahun lalu kami mendapat bantuan empat unit mesin pascapanen. Saat ini kami mampu memproduksi biji kopi hingga 15 ton per tahun dari semula hanya 1 ton-2 ton per tahun,” kata Yayak, Ketua Kelompok Petani Kopi Wojo yang beranggotakan 25 petani dengan lahan seluas 30 hektar.

Deputi Kepala Perwakilan BI Jatim Harmanta (tengah) saat penyerahan bantuan bibit kopi di Wonosalam, Jombang.

Menurut Yayak, mereka tak hanya berhasil meningkatkan kapasitas produksi, tapi juga sudah mampu menerapkan proses pascapanen yang benar sehingga menghasilkan biji kopi grade 1.

Hasilnya, harga jual biji kopi naik hampir dua kali lipat. Harga biji kopi Robusta kini mencapai Rp 40 ribu per kg dari semula di kisaran Rp 28 ribu per kg. Sedangkan harga biji kopi Excelsa dan Liberika berkisar Rp 65 ribu-75 ribu per kg.

“Peran petani dalam menghasilkan kualitas kopi grade 1 sangat penting yakni 60%. Sisanya saat roasterry atau pemanggangan 30% dan saat penyajian oleh barista 10%,” katanya.

Produksi kopi UPH Desa Carangwulung ini sudah dipasarkan ke berbagai wilayah di Jawa Timur, Sumatera, Bali dan Kalimantan. Permintaan biji kopi grade 1 ini juga datang dari buyer Singapura.

“Kopi kami sudah mampu menembus ke pasar Singapura, meski belum mampu memenuhi semua permintaan karena hasil panen masih kurang. Dengan adanya bantuan dari BI Jatim mulai dari varietas unggul, mesin, hingga kemudahan akses perbankan, kami berharap akan terus meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi yang memenuhi standar ekspor secara kontinu,” tambah Yayak.

Baca Juga :   Pendampingan Literasi Tingkatkan Kreativitas dan Standar Produksi UMKM

Gandengkan Kopi dan Pariwisata

BI Jatim sendiri sejatinya tak hanya fokus pada petani kopi di Wonosalam, tapi juga wilayah-wilayah lain yang dibawahi empat cabang BI yakni Surabaya,  Malang, Kediri dan Jember,

“Masing-masing cabang BI memiliki mitra binaan. Cabang Jember ada kopi Ijen, kopi Bondowoso dan kopi Situbondo. Sementara Cabang Malang punya kopi Dampit. Cabang Kediri punya Sendangwilis dan Cabang Surabaya punya kopi Wonosalam. Keempat cabang ini saling bersinergi membantu petani kopi Jatim,” papar Difi.

Guna mencapai target meningkatkan kopi premium di Jatim, pada tahun lalu mereka melakukan studi banding ke Kintamani Bali. “Kita belajar mengolah kopi yang baik karena mereka sukses besar kopinya,” jelas Difi.

BI Jatim bakal terus melakukan pendampingan kepada seluruh mitra binaannya. BI Jatim bahkan mentargetkan menyinergikan pengembangan kopi dengan sektor pariwisata.

“Harapan kami ke depan adalah pengembangan kopi di Jatim ini bisa berintegrasi dengan sektor pariwisata. Misal turis datang ke Gunung Bromo atau kawah Ijen, saat di rest area mereka wajib disuguh kopi lokal yang menjadi ikon masing-masing daerah,” kata Difi.

Impian yang tampaknya tak sekedar menggantang asap mengingat geliat bisnis kopi juga tumbuh pesat di perkotaan melalui warkop, café dan bahkan resto, di mana banyak generasi milenial yang juga mulai menjadikan barista atau penyaji kopi sebagai profesi.

“Menyuguhkan kopi di resto dan cafe itu tantangan dan butuh keahlian khusus. Sekarang banyak anak muda yang ingin menjadi barista meski biaya kursusnya mahal. Tapi itu justru kabar baik bagi bisns kopi di Jatim dan Indonesia,” pungkas Difi.(hps)