PenaMerahPutih.com
Headline Indeks Polkam

Penambahan Harian COVID-19 Tertinggi Lagi, Satgas Laporkan 9.321 Kasus Baru

Sinovac
Envirotainer berisi 1.8 juta dosis vaksin Sinovac di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Kamis 31 Desember 2020. (Muchlis Jr – Biro Pers Setpres)

Jakarta, pmp – Penambahan harian kasus COVID-19 di Indonesia kembali mencatat angka tertinggi. Satuan Tugas Penanganan COVID-19 melaporkan 9.321 kasus baru pada Kamis (7/1/2021) yang berarti penambahan tertinggi terjadi berturut setelah Rabu kemarin mencatat 8.854 kasus baru.

Penambahan 9.321 kasus baru membuat total COVID-19 di Indonesia mencapai 797.723 kasus.

Sementara jumlah penderita sembuh dalam 24 jam terakhir mencapai 6.924 orang sehingga total 659.437 orang. Sebanyak 224 orang meninggal dunia sehingga total kematian 23.520 kasus.

Satgas melaporkan terdapat 68.753 orang berstatus suspek.

Tingkat Kepatuhan 3M Turun

Tingginya penambahan kasus baru COVID-19 sejak kemarin sebenarnya sudah menjadi perhatian Presiden Jokowi.

Saat rapat terbatas bersama menteri dan gubernur yang disiarkan melalui Instagram Sekretariat Presiden pada Rabu (6/1/2021), Presiden Jokowi meminta semua pihak bekerja keras mengurangi dan menghentikan dampak pandemi.

Baca Juga :   Jurus ‘Gebuk’ Presiden Jokowi dan ‘Pengusiran’ Menhan Ryamizard

Presiden kemudian mengungkap hasil survei terakhir pemerintah yang menunjukkan tingkat kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan semakin menurun.

“Kaitannya memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan itu turun. Sebab itu saya minta Komite dan Satgas agar diberikan tekanan lagi melalui komunikasi publik yang baik lewat televisi,” katanya.

Presiden Jokowi sempat menyebut sejumlah kota di berbagai negara yang saat ini kembali menerapkan lockdown.

“Dua hari lalu London lockdown, Tokyo juga sama. Bangkok yang dekat kita juga lockdown. Terakhir kemarin bukan hanya London saja, tapi Inggris juga,” paparnya.

Presiden Jokowi pun memberi penegasan. “Hati-hati ini jadi catatan kita semuanya jangan sampai terjadi lonjakan yang sangat drastis sehingga kita dipaksa untuk melakukan (lockdown),” katanya.(gdn)