PenaMerahPutih.com
Ekbis Headline Indeks Industri

Transaksi Digital Maybank Indonesia Naik 110%, Proaktif Dukung Nasabah Saat Pandemi

Maybank Indonesia
Maybank Indonesia. (IDX Channel)

Jakarta, pmp – Transaksi digital banking Maybank Indonesia naik signifikan 110% di sepanjang 2020, baik segmen ritel maupun korporasi.  Sementara laba bersih setelah pajak dan kepentingan nonpengendali atau patami Rp 1,3 triliun dibandingkan Rp 1,8 triliun pada 2019.

PT Bank Maybank Indonesia Tbk yang juga disebut Bank, mengumumkan Laporan Keuangan mereka tahun 2020 yang berakhir tanggal 31 Desember 2020 pada Jumat (19/2/2021).

Transaksi digital banking melalui M2U atau Maybank2U, platform digital banking untuk nasabah ritel, melonjak menjadi 10 juta transaksi dengan total dana pihak ketiga melonjak 190,2% menjadi Rp 3,4 triliun.

Sementara  total volume transaksi melalui M2E untuk nasabah korporasi naik 36,2% menjadi 970.000 transaksi dengan penghimpunan dana melonjak 78,8% menjadi Rp 14 triliun.

Kinerja Bank didukung penurunan cost of fund yang berkesinambungan, serta pengelolaan overhead cost yang efektif sehingga turun 10,7% menjadi Rp 5,7 triliun sebagai dampak dari pengelolaan anggaran biaya yang dilakukan berkelanjutan di seluruh organisasi seiring pengurangan biaya umum dan administrasi sehubungan pelaksanaan work from home selama pandemi.

Namun Bank mencatat penurunan pendapatan 10% akibat menurunnya fee income dan net interest income yang terdampak penerapan PSBB dan melambatnya aktivitas usaha di masa pandemi COVID-19. Fee based income turun 8,0% menjadi Rp 2,4 triliun dari Rp 2,6 triliun di periode sama tahun 2019.

Penurunan disebabkan Laporan Keuangan Maybank Indonesia di tahun 2019 mencatat pendapatan one-off dari penyelesaian arbitrase domestik dan pendapatan terkait perpajakan sebesar Rp 219 miliar. Apabila dihitung tanpa memasukkan pendapatan one-off , maka recurring fee income Bank tahun 2020 masih bertumbuh tipis sebesar 0,5% disebabkan pendapatan dari transaksi terkait Wealth Management dan Global Market yang tumbuh lebih dari dua kali lipat di tahun 2020. Kenaikan yang membantu mengimbangi penurunan biaya kredit dan penurunan aktivitas bisnis yang terdampak pandemi.

Baca Juga :   BI Anugerahi Maybank Indonesia ‘Bank Pendukung UMKM Terbaik’

Simpanan Nasabah Tumbuh

Pendapatan bunga bersih (net interest income) turun 11,1% menjadi Rp 7,3 triliun karena penurunan saldo kredit. Bank mengambil langkah menjaga pertumbuhan kredit secara selektif akibat pandemi.

Margin Bunga Bersih (net interest margin) turun 51 basis poin menjadi 4,6% pada akhir Desember 2020 akibat penurunan imbal hasil dari pemberian kredit (loan yields). Penurunan loan yields terjadi seiring turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia dan akibat dari restrukturisasi kredit kepada nasabah yang terdampak pandemi Covid-19.

Bank akan terus disiplin menentukan suku bunga pinjaman dan senantiasa aktif dalam pengelolaan likuiditas untuk memitigasi tekanan pada margin.

Sementara simpanan nasabah, termasuk dana yang terkumpul melalui platform digital banking, tumbuh 4% menjadi Rp 115 triliun dari Rp 110,6 triliun. Total dana CASA terdongkrak 13% menjadi Rp 45,8 triliun per Desember 2020 dibandingkan Rp 40,5 triliun pada Desember 2019.

Hal ini didukung strategi Maybank Indonesia mengurangi dana berbiaya tinggi dengan meningkatkan penggunaan digital banking dan upaya menambah jumlah nasabah korporasi.

Beban provisi kredit meningkat 16,5% menjadi Rp 2,1 triliun pada Desember 2020 disebabkan penerapan standar akuntansi baru PSAK 71. Selain itu Bank juga mengambil langkah konservatif mengalokasikan provisi di hampir seluruh portofolio bisnis sebagai respons terhadap pandemi COVID-19.

Bank juga aktif menjaga kualitas aset dan liabilitas untuk memastikan agar dapat menjalankan operasional yang didukung ketersediaan funding dan cost yang optimal setiap saat.

Rasio Kredit terhadap Simpanan/Loan-to-Deposit (LDR-Bank saja) berada pada tingkat yang sehat sebesar 79,2% sementara Rasio Cakupan Likuiditas/Liquidity Coverage Ratio (LCR-Bank saja) berada di level 214,1% per Desember 2020, jauh melampaui kewajiban minimum sebesar 100%.

CAR Kokoh 24,3%

Demi mengelola risiko di tengah pandemi, Bank secara responsif mengambil langkah memantau aset di seluruh segmen bisnis dan bersama-sama para nasabah mengevaluasi dampak pandemi terhadap bisnis mereka.

Baca Juga :   Diikuti 17.113 Pelari, Maybank Marathon Anywhere Digelar Virtual Akhir Pekan Ini

Bank memanfaatkan program relaksasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara selektif dan memfasilitasi program restrukturisasi dan menjadwal ulang pembayaran kredit untuk membantu nasabah mempertahankan kelangsungan bisnis.

Total kredit yang disalurkan di tahun 2020 turun 14,1% menjadi Rp 105,3 triliun. Segmen kredit Community Financial Services (CFS) Non-Ritel turun 23,8% menjadi Rp 36,8 triliun dan kredit CFS Ritel turun 19,3% menjadi Rp 34,0 triliun. Sementara segmen Global Banking membukukan pertumbuhan kredit sebesar 7,4% di Desember 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 34,5 triliun.

Tingkat Non-Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 4,0% (gross) dan 2,5% (net) pada Desember 2020 dibandingkan 3,3% (gross) dan 1,9% (net) pada Desember 2019. NPL Bank berangsur membaik di setiap kuartal sejak semester I 2020, yaitu berada pada 5,0% (gross) di Juni 2020 dan 4,3% (gross) di September 2020.

Bank senantiasa menempuh langkah proaktif mengantisipasi dampak dari pandemi terhadap seluruh portofolionya. Selain itu Bank juga tetap waspada dalam menjaga kualitas aset dengan melakukan pendekatan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang ketat.

Posisi permodalan Maybank Indonesia kokoh dengan Rasio Kecukupan Modal (CAR) sebesar 24,3% pada Desember 2020 dibandingkan dengan 21,4% pada periode yang sama 2019 dan total permodalan naik menjadi Rp 27,1triliun pada Desember 2020 dari Rp26,8 triliun pada Desember 2019.

Strategi ‘Sharia First’ Perbankan Syariah

Perbankan Syariah berkontribusi sebesar 16,2% terhadap laba Bank dan menyumbang 20,4% dari total aset konsolidasi Bank. Meskipun kondisi penuh tantangan, Perbankan Syariah tetap mencatat pertumbuhan total aset yang sehat, yakni mencapai Rp 35,3 triliun pada Desember 2020 atau naik 8,1% dari Rp 32,6 triliun pada Desember 2019.

Total simpanan nasabah naik 7,8% menjadi Rp 27,4 triliun dari Rp 25,5 triliun, didukung pertumbuhan tabungan Syariah sebesar 28,6%.

Baca Juga :   Transaksi Maybank2U Melejit 136%, Pandemi Pacu Digital Banking Indonesia

Kualitas aset Perbankan Syariah sedikit mengalami tekanan akibat pandemi, seperti yang diperlihatkan dari tingkat Non-Performing Financing (NPF) menjadi 3,2% (gross) dan 2,1% (net) pada Desember 2020, naik dari 2,0% (gross) dan 1,6% (net) pada Desember 2019.

Strategi ‘Sharia First’ dan implementasi Leverage Model pada Unit Usaha Syariah memainkan peran strategis bagi peningkatan kinerja Perbankan Syariah Maybank Indonesia secara signifikan.

Dengan dukungan OJK, leverage model pada Unit Usaha Syariah diperbolehkan untuk mengakses seluruh sumber daya Bank untuk mengembangkan dan memasarkan produk berbasis syariah. Hal ini yang mendongkrak pertumbuhan aset Perbankan Syariah yang impresif dalam lima tahun terakhir, yakni 17,1%.

Bank Pertama Fasilitasi Pembiayaan Vaksin

Sejak dampak pandemi COVID-19 mulai dirasakan pada kuartal kedua tahun 2020, Bank selalu memantau asetnya di seluruh segmen bisnis dan juga proaktif membantu debitur dalam menganalisa dampak pandemi terhadap bisnis mereka. Bank juga menawarkan asistensi dalam menilai apakah diperlukan restrukturisasi dan penjadwalan ulang (R&R) untuk menjaga kelangsungan bisnis debitur.

Untuk membantu upaya Pemerintah dalam pengadaan vaksin, Maybank Indonesia menjadi bank pertama yang menyediakan fasilitas pembiayaan sebesar 185 juta dolar US. Hal ini merupakan komitmen Maybank Indonesia dalam penanggulangan pandemi COVID-19.

Selain fokus mempertahankan kinerja, sepanjang tahun 2020 Maybank Indonesia berperan aktif menjalankan kegiatan sosial kemasyarakatan untuk membantu komunitas terdampak pandemi. Salah satunya melalui penyediaan alat pelindung diri (APD) yang disalurkan ke beberapa rumah sakit serta penyediaan paket makanan kepada berbagai komunitas marjinal di Jakarta dan sekitarnya.

Bank juga aktif melaksanakan program pelatihan pemberdayaan ekonomi bagi penyandang disabilitas dan komunitas marjinal melalui program RISE atau Reach Independence & Sustainable Entrepreneurship 2.0 guna membantu mereka yang terdampak pandemi agar tetap dapat menjalankan usaha. Sebanyak 35 program pelatihan dilaksanakan di 16 kota, dengan jumlah peserta mencapai 1.647 orang. (hps)