PenaMerahPutih.com
Headline Indeks Nusantara

Ini Analisa Pakar Biologi ITS Tentang 52 Ikan Paus Pilot Terdampar di Bangkalan

Paus pilot bangkalan
Ikan paus pilot yang mati terdampar di pantai Bangkalan Pulau Madura. (Humas ITS – tangkapan layar medsos @syahrirdaenk)

Surabaya, pmp – Februari dan Mei ternyata merupakan puncak migrasi ikan paus dari perairan barat daya Australia menuju Laut Banda di Kepulauan Maluku. Sebanyak 52 paus pilot atau short-finned pilot whale yang terdampar di pantai Bangkalan Pulau Madura diperkirakan bagian dari migrasi tersebut.

Analisa terhadap fenomena terdamparnya paus pilot itu disampaikan Dr Dewi Hidayati SSi MSi, Kepala Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), berdasarkan referensi ilmiah.

Menurut Dewi, berdasarkan beberapa jurnal dan laporan media massa, pada periode tertentu ikan paus akan melakukan migrasi yang dilakukan secara berkelompok. Umumnya paus yang bermigrasi melalui perairan Indonesia adalah jenis paus pilot atau short-finned pilot whale.

Berdasarkan sebuah makalah pada journals.org tentang aktivitas migrasi paus mengungkapkan, setiap tahun migrasi ikan paus dari perairan barat Australia akan mencapai puncaknya pada bulan Februari dan Mei.

Baca Juga :   Pesan Susi Pudjiastuti buat Maba ITS: Open Your Eyes, Mind and Ears
Paus pilot bangkalan
Peta migrasi ikan paus. (Humas ITS – Dok.journals.plos.org)

“Pada penelitian tersebut juga beberapa laporan lain menyebutkan bahwa paus umumnya akan melewati jalur yang sama untuk bermigrasi,” kata Dewi.

Hal itu dsebabkan paus memeliki kemampuan mengingat jalur yang dilalui setiap tahunnya karena adanya biomagnitit atau zat yang berada pada retina cetacea yang mempunyai fungsi sebagai indra magnetis yang membantu mereka mengetahui ke arah mana bergerak.

“Hal ini membuat paus peka terhadap perubahan medan magnet bumi,” tambahnya.

Berdasarkan artikel ilmiah ‘In-depth Whale Navigation: Navigating The Long Way Home’ karya Robin Marks disebutkan bahwa paus yang mengikuti ‘jalur’ magnet memang berpeluang terdampar di daerah yang jalurnya berbelok.

“Kemungkinan termasuk di beberapa perairan pantai Pulau Madura dan kawasan Selat Madura,” papar Dewi.

Menurutnya perubahan navigasi paus bisa dipengaruhi berbagai macam faktor, mulai dari cuaca ekstrem, gelombang sinar matahari, perubahan garis pantai, paus sakit dan bisa saja akibat aktivitas kilang minyak yang berada di sekitar perairan.

Baca Juga :   Smart Classroom dan Smart Laboratory ITS Gabungkan Daring dan Luring

“Karena ada juga referensi yang mengatakan bahwa rig (bangunan lepas pantai) dijadikan patokan magnetik bagi paus,” imbuh dosen anggota Laboratorium Zoologi dan Rekayasa Hewan Biologi ITS itu.

Masih menurut Dewi, banyak teori terkait anomali paus terdampar karena banyak kasus terjadi namun penyebabnya belum diketahui secara pasti.

Paus pilot bangkalan
Dr Dewi Hidayati SSi MSi, Kepala Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data, ITS. (Humas ITS)

Mitigasi Paus Terdampar

Dewi mengapresisi masyarakat yang dengan kearifan lokal telah melakukan beberapa upaya penyelamatan terhadap kawanan paus yang terdampar di Bangkalan.

“Besarnya tubuh paus yang menyebabkan dia tak dapat bermanuver kembali ke laut sehingga memang dibutuhkan bantuan langsung dari manusia,” kata Dewi.

Kini hal terpenting adalah membuat protokol langkah mitigasi mencegah dan menyelamatkan paus terdampar karena tidak hanya sekali terjadi di Indonesia. Protokol mitigasi itu bisa membantu paus selamat dalam perjalanan migrasinya.

Baca Juga :   Mahasiswa ITS Sukses Membuat Ekstrak Kulit Mangga Penghambat Karat

Hal pertama yang harus dipahami adalah mengetahui kapan dan di mana paus biasanya terdampar.

“Bisa diatasi dengan membangun pos paus di sekitar pantai. Pos ini berfungsi sebagai pemantau kondisi pantai, juga bisa membantu navigasi buat paus,” tambahnya.

Selanjutnya apabila masyarakat melihat paus terdampar, hal yang harus dilakukan adalah membantu menjaga badan paus tetap dalam keadaan basah dengan menyiram atau membasahi tubuhnya dengan air laut. Sebab penyebab paus mati karena kehilangan kadar air di tubuhnya secara drastis.

Mengenai perlakuan terhadap bangkai paus, Dewi menyarankan untuk membuang bangkainya ke laut karena dapat menjadi sumber makanan bagi predator laut lainnya, atau berkontribusi pada rantai makanan laut.

“Atau mungkin rangka paus yang mati bisa dijadikan sebagai sumber bahan pengajaran untuk mengembangkan studi tentang mamalia laut ini,” pungkasnya. (gdn)