PenaMerahPutih.com
Headline Indeks Tren

Ini Rahasia Masyarakat Jepang Memupuk Disiplin Anak-Anak

Houkuen Japan
Balita Jepang di Houkuen atau Daycare. (istImewa)

Jakarta, pmp – Masyarakat Jepang dikenal sangat disiplin dan taat pada aturan. Maklum saja, ternyata sejak usia dini mereka sudah diperkenalkan pada kedisiplinan karena masyarakat Jepang menyadari bukan perkara mudah membentuk pribadi disiplin jika tidak dimulai sejak balita.

Menghasilkan pribadi-pribadi disiplin dan taat aturan memang tidak bisa diperoleh secara instan. Masyarakat Jepang sejak usia dini hingga dewasa terus dijejali pelajaran-pelajaran tentang arti penting disiplin sehingga membentuk masyarakat yang disiplin.

Sebagai contoh, masyarakat Jepang tertib mengantre saat akan naik bus, kereta atau menyeberang jalan. Dan kini dunia kagum pada kedisiplinan masyarakat Jepang.

Mereka juga diajarkan untuk tidak menggunakan barang milik orang lain sejak kecil, sehingga masyarakat Jepang juga terkenal sangat sopan dan jujur.

Umumnya para ibu di Jepang yang bekerja, mereka akan cuti hingga enam bulan untuk mendampingi perkembangan anaknya. Setelah ibu kembali bekerja, anak bakal dititipkan di Houkuen atau Daycare di mana pola asuhnya sama seperti pola asuh orangtuanya.

Baca Juga :   Kuil Nishi Honganji, Warisan Hebat Arsitektur Budha di Kyoto Jepang

Sejak usia satu tahun, lazimnya anak-anak Jepang sudah diajarkan makan sendiri. Orang tua melatihnya dengan memberikan makanan dalam porsi kecil, biasanya dibuatkan nasi dengan bola-bola kecil dan si anak diajarkan menggenggam dan memakannya pelan-pelan.

Orangtua juga menyediakan peralatan makan yang lucu-lucu sehingga menarik minat si anak untuk menyentuh dan menggunakannya.

Saat sedang mendampingi anak, jarang orangtua di Jepang menggunakan ponsel karena mereka benar-benar fokus mengasuh dan mendampingi anaknya.

Menjaga Harga Diri Anak

Memasuki usia tiga tahun anak-anak Jepang bisa bersekolah di Youchien atau Taman Kanak-Kanak, di mana mereka diajarkan makan sendiri,  buang air kecil sendiri ke toilet, merapihkan kasur usai tidur siang, meletakkan sepatu pada tempatnya, juga peralatan lain. Kegiatan terus dilakukan berulang sehingga mereka terbiasa.

Baca Juga :   Jatim dan Jepang Perkuat Kerja Sama Bidang Pendidikan, Budaya dan Perdagangan

Seperti dilansir Savvytokyo, orangtua di Jepang mengelola Ma no Nisai atau Terrible Two, yaitu fase di mana anak mulai merasa dewasa dan melakukan serangkaian hal yang membuat orang tua kewalahan dengan perilakunya, seperti menangis keras, berteriak keras dan membantah.

Orang tua di Jepang pada umumnya tidak ingin terlalu ikut campur saat si anak menangis keras, berteriak atau membantah. Mereka tampaknya tidak menghiraukan hal-hal tersebut. Jika anak-anak balita mengamuk, menangis, duduk di tanah, orangtua mereka sepertinya tidak ikut campur dan membiarkannya sampai berhenti mengamuk atau menangis.

Namun setelah itu, orang tua di Jepang akan mencari waktu yang tepat untuk memberitahu si anak dan mengajaknya berdiskusi mengapa sang anak sampai mengamuk atau menangis keras. Orang tua akan berdiskusi secara pribadi untuk menjaga harga diri anak.

Baca Juga :   Miyakawa Katsutoshi: Sejak Prof NA Jadi Gubernur, Banyak Investor Jepang Minati Sulsel

Itu sebabnya orang tua di Jepang kebanyakan tidak langsung memarahi anak-anak di depan umum untuk menjaga harga diri anak, kecuali si anak sudah benar-benar keterlaluan.

Selain itu orang tua di Jepang juga selalu menerapkan Shitsuke pada anak-anak, dalam bahasa Jepang artinya disiplin atau bisa juga diterjemahkan menjadi ‘pelatihan atau pengasuhan’, di mana orang tua selalu berperilaku bagus yang harus ditiru anak-anak.

Orang tua di Jepang fokus mengajarkan anak-anak untuk berperilaku baik secara berulang, serta secara pribadi mereka akan mengoreksi perilaku yang tidak sesuai.

Pelatihan dan pengasuhan yang diberikan kepada anak-anak sejak kecil inilah yang akhirnya membentuk pribadi-pribadi disiplin dan taat aturan di negeri matahari terbit.(sekar ayu/bim)