Mahasiswi Luwu Panjat Pohon Agar Dapat Signal Demi Kuliah Online

Mei 17, 2020

Sartika dan kawan-kawan kuliah online di atas pohon. (kompas.com)

Jakarta, PMP – Beberapa mahasiswi di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, harus rela panjat pohon di atas bukit agar mendapat signal jaringan internet untuk mengikuti kuliah online di masa pandemi Corona. Maklum saja, signal begitu buruk di rumah mereka di Dusun Salu Lompo, Desa Rante Alang, Kecamatan Larompong yang terletak di bagian utara-timur Provinsi Sulsel.

Tak hanya panjat pohon, mereka harus terlebih dulu berjalan kaki sejam lebih ke perbukitan di gunung, demi mendapatkan signal jaringan internet. Sartika, salah satu mahasiswi, mengunggah aktivitas belajarnya di atas pohon melalui Instagram.

“Kami sengaja mengunggah di Instagram curhatan kami, mahasiswa di kampung yang harus bertaruh mencari signal demi menyelesaikan tugas kuliah,” kata Sartika seperti dikutip kompas.com, saat ditemui di perbukitan, Rabu (13/5/2020).

Sartika yang kuliah di Universitas Cokroaminoto Palopo, di Kota Palopo Sulsel mengaku, sudah menjalankan rutinitas naik bukit dan pohon sejak diberlakukan kebijakan kuliah secara online atau daring dari rumah.

“Sebelum naik ke gunung, biasanya kami patungan dulu untuk beli pulsa data bersama kawan-kawan mahasiswa lain,” paparnya.

Perjuangan semakin terasa berat ketika masuk bulan puasa ramadhan.

“Kendala yang kami alami jaringan yang lambat loading dan kuota internet tidak memadai. Belum lagi kami harus berjalan menanjak saat bulan puasa ini, jadi kami kadang kurang fit,” ujarnya.

Persoalan belum selesai. Sartika dan kawan-kawan kadang harus berbuka puasa di gunung karena harus mengikuti kuliah sore hari. Belum lagi jika tiba-tiba hujan turun. Bahkan demi menyelesaikan tugas, mereka pernah tiba di rumah pukul sebelas malam.

“Ada mata kuliah pagi, ada juga sore. Jadi kami di sini sampai sore online. Kadang juga sampai tengah malam karena ada tugas yang harus diselesaikan. Kadang pukul 23.00 baru kembali ke rumah,” paparnya.

Kepala Desa Rante Alang, Rosmawati mengakui, jaringan komunikasi di desanya memang kurang memadai. Dia pun mengalami kendala sama.

“Kami sendiri dalam membuat laporan selalu terlambat, karena sekarang semua sistem online. Jadi kami kadang ke gunung kerjakan laporan, kadang juga terpaksa harus ke kota,” kata Rosmawati.(bim)