
JAKARTA, PMP — PLN Nusantara Power (PLN NP) sukses mengopimalkan kinerja Unit Pembangkitan (UP) Brantas, Jawa Timur yang telah beroperasi sejak 1972 dengan menerapkan Nusantara Control Center (NuCC) berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence /AI). Keberhasilan tersebut mendapat pengakuan internasional di ajang Asian Power Awards 2026 di InterContinental Kuala Lumpur, Malaysia, pada 15 Oktober 2026 dengan meraih penghargaan Silver kategori Sustainable Renewable Energy Initiative of the Year.
“Penghargaan ini menjadi pengakuan atas upaya perusahaan dalam mengoptimalkan aset energi terbarukan melalui teknologi digital sekaligus memperkuat efisiensi dan keberlanjutan pembangkitan,” kata Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).
Ruly menegaskan bahwa optimalisasi aset yang telah dimiliki merupakan bagian penting dari strategi perusahaan dalam mendukung transisi energi.
“Transisi energi membutuhkan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada penambahan kapasitas, tetapi juga pada bagaimana kita memaksimalkan potensi energi bersih yang sudah tersedia. Melalui teknologi digital dan AI, PLN Nusantara Power terus meningkatkan efisiensi, menjaga keandalan pembangkit, serta mengoptimalkan manfaat aset yang kami kelola bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Ruly.
Di Jawa Timur, UP Brantas mengelola 13 PLTA yang terdiri atas 28 unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 291,54 MW. Sebagian pembangkit tersebut telah beroperasi selama empat hingga lima dekade, sehingga membutuhkan pendekatan pengelolaan yang mampu menjawab tantangan penuaan peralatan, pemeliharaan, dan ketersediaan suku cadang.
Melalui NuCC, PLN NP mengintegrasikan pemantauan dan pengoperasian pembangkit dengan analisis data, teknologi IoT, serta pemeliharaan prediktif. Sistem ini didukung inovasi seperti HydroOpt untuk mengoptimalkan pemanfaatan air dan HydroBot untuk membantu operator mengenali kondisi pembangkit serta mengambil keputusan secara lebih cepat dan tepat.
Pendekatan tersebut membantu tim operasional mengantisipasi potensi gangguan, mengurangi waktu henti pembangkit, dan menggunakan sumber daya secara lebih efisien. Sepanjang 2025, UP Brantas mencatat Equivalent Availability Factor (EAF) sebesar 98,12% dan Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) sebesar 0,03%. Biaya operasi dan pemeliharaan juga berhasil ditekan sekitar 66%.
Efisiensi operasional tersebut berjalan seiring dengan kontribusi terhadap lingkungan. Sepanjang 2025, PLTA UP Brantas menghasilkan sekitar 1.480 GWh energi bersih dan berkontribusi pada penghindaran emisi sekitar 1,42 juta ton CO₂ per tahun. Optimalisasi pemanfaatan air, termasuk melalui dukungan teknologi modifikasi cuaca, turut memperkuat upaya menjaga produksi listrik dari sumber energi terbarukan.
Ke depan, PLN NP berupaya memperluas penerapan teknologi digital ke berbagai aset PLTA lainnya di Indonesia. Replikasi inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai aset, memperkuat keandalan pasokan listrik, serta membuka peluang efisiensi yang lebih luas di seluruh portofolio pembangkitan perusahaan.
“Melalui langkah tersebut, PLN Nusantara Power menegaskan komitmennya bahwa energi bersih bukan hanya tentang sumber energi yang digunakan, tetapi juga tentang bagaimana setiap sumber daya dikelola secara cerdas, efisien, dan bertanggung jawab demi keberlanjutan masa depan,” pungkas Ruly. (hap)












