Pertumbuhan Jumlah Kendaraan Lebih Pesat, Pemprov Jatim Fokus Infrastruktur Jalan

Juni 19, 2017

Pentingnya merealisasi pembangunan infrastruktur di Jatim dalam Forum Diskusi Jurnalis Surabaya (FDJS), Senin (19/6/2017).

Surabaya, penamerahputih.com – Perbandingan antara pertumbuhan jumlah kendaraan dengan pembangunan infrastruktur jalan raya di wilayah Jawa Timur tidak seimbang. Pertumbuhan jumlah kendaraan 10-12 persen, sementara pembangunan infrastruktur jalan hanya 0,1 persen.

“Pembangunan infrastruktur jalan di Jatim masih mencapai 0,1 persen,  sementara pertumbuhan kendaraan di kisaran 10 hingga 12 persen,” kata Martin Ma’ruf, Kepala Bidang Bina Teknik, Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Bina Marga Provinsi Jatim, pada diskusi bertema ‘Merealisasi Pembangunan Insfrastruktur Demi Pertumbuhan Ekonomi di Jatim’ yang digelar Forum Diskusi Jurnalis Surabaya, Senin (19/7/2017).

Oleh sebab itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga terus melakukan perbaikan jalan provinsi melalui proyek rekonstruksi jalan. Kegiatan yang dilakukan mulai dari pelebaran, pemeliharaan, perbaikan, hingga pemantapan. Tahun ini, Pemprov Jatim melakukan rekonstruksi di 24 titik lokasi yang tersebar di beberapa daerah.

Rekonstruksi peningkatan struktur jalan dengan kondisi rusak ringan atau rusak berat, serta pelebaran jalan nasional dan jalan provinsi, dilakukan mengingat volume lalu lintas yang melebihi kapasitas jalan sepanjang jalan.

Wilayah Kondisi Tanah Labil

Beberapa ruas jalan yang menjadi sasaran proyek pemantapan di tahun 2017 di antaranya Kalisat-Bondowoso, Babat-Ploso, atau Manyar-Gresik. Anggaran pemantapan jalan berkisar Rp 4 miliar-Rp 5 miliar per kilometer (Km), tergantung lokasi dan kondisi jalan.

“Intinya yang paling banyak adalah di jalan daerah-daerah yang kondisinya labil,” ungkap Martin.

Sementara dari sisi kemantapan jalan nasional, sesuai kerataan jalan (International Roughness Index/IRI) berada di kisaran 94,23 persen, sedang kemantapan jalan provinsi mencapai 90,70 persen. Melalui proyek pemantapan jalan, diharapkan kondisi kemantapan jalan akan terus meningkat.

Pemprov Jatim juga terus melakukan pemeliharaan rutin jalan dengan peralatan mekanis pada seluruh ruas jalan provinsi, baik pada kondisi baik dan sedang. Sebab kondisi jalan yang bagus bisa diharapkan menekan biaya ekonomi.

“Kerusakan jalan meningkatkan biaya ongkos angkut. Kalau jalan rusak, otomatis dari daerah tidak bisa tepat waktu dalam mengirimkan hasil-hasil perdagangan atau pertanian. Sebagai contoh petani di daerah yang mengangkut hasil pertanian dengan waktu yang lebih lama ketika jalan rusak,” tegasnya.

Sementara itu, Gentur Prihantono, staf ahli Gubernur bidang Ekonomi dan Pembangunan dan Ketua LPJKP Jatim menambahkan, perkuatan insfrastruktur jalan tidak hanya dilakukan pemerintah Jatim, namun harus bersinergi dengan pemerintah daerah.

“Contohnya pembangunan Jembatan Suramadu yang saat ini sudah ramai. Sebelumnya kami mengira kawasan jembatan itu bakal sepi. Namun ternyata ramai. Hal itu disebabkan pemerintah daerah memanfaatkan lahan yang kosong untuk dijadikan pusat perdagangan,” ungkap Gentur.

Oleh sebab itu ke depan, pihaknya mempergunakan strategi bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya saat selesai dibangun, tapi juga memberi manfaat jangka panjang.(sha)