Ikan Bandeng Miliki 164 Duri, Berapa Lama dan Ongkos Mencabutinya?

Juli 12, 2020
Cabut Duri Ikan Bandeng

Juariyah dan anaknya mencabuti duri ikan bandeng.

Surabaya, PMP – Ikan bandeng lezat disantap baik dibakar, digoreng maupun disayur. Namun nikmatnya menyantap ikan bandeng seringkali terganggu dengan duri di dagingnya yang mana tahan. Selain banyak, durinya halus dan kecil sehingga kerap merepotkan.

Maklum saja, ikan yang hidup di air payau ini memiliki 164 duri di tubuhnya. Contoh sebarannya: 12 duri di perut, 42 duri bersinggungan kulit luar, 40 duri lateral, 16 duri di bagian perut atau tulang utama, serta 42 duri tulang punggung.

Banyaknya jumlah duri di daging ikan bandeng ini ternyata menjadi sumber mencari nafkah bagi sebagian orang yang tinggal di daerah-daerah sentra penghasil ikan bandeng.

Contohnya di Desa Kalanganyar, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Desa Kalanganyar merupakan salah satu tempat wisata pancing terbesar di Sidoarjo. Puluhan kolam pancing ikan bandeng dan mujair tersebar di kawasan tersebut. Sebut saja kolam pancing Gemilang 1, Mega Prima Fishing, atau Laguna.

Area wisata pancing ini ramai didatangi para pemancing mania dan masyarakat lainnya di setiap hari libur. Keberadaan kolam pemancingan tentu saja diikuti munculnya warung-warung makan yang menawarkan mengolah ikan segar hasil pancingan para pengunjung.

Selain warung makan, bermunculan pula belasan jasa ‘Cabut Duri’ ikan bandeng.

“Saya mulai menjual jasa cabut duri di sini sudah sejak 15 tahun lalu. Saat itu masih sepi. Belum ada pesaing,” kata Juariyah (53).

Juariyah memperoleh keterampilan mencabut duri ikan bandeng dari pelatihan  yang diberikan Dinas Perikanan setempat. Selain teori sehingga ibu delapan anak itu mengerti jumlah duri di ikan bandeng mencapai 164, dia juga diajarkan bagaiman cara mencabut sehingga duri bersih sementara daging tetap utuh dan tidak rusak.

“Ikan bandeng baik besar atau kecil, jumlah durinya ya tetap saja 164. Dulu waktu awal belajar, saya selalu menghitung saat mencabutinya. Sekarang sudah apal, tak perlu lagi menghitung,’ ujarnya sembari tertawa.

Kini, Juariyah dibantu anak perempuan ke-7 yang masih duduk di bangku SMU. Tak menggangu sekolah karena ibunya hanya bekerja di saat hari libur seperti Sabtu dan Minggu, menyesuaikan ramainya kedatangan para pemancing.

Alat kerja Juariyah hanyalah pisau dan pinset. Jika sudah mahir, mencabuti seluruh 164 duri di tubuh ikan bandeng hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit.

“Kalau dulu awal belajar ya bisa setengah jam lebih,” ujarnya.

Sepi Akibat COVID-19

Pada setiap hari-hari libur, Juariyah rata-rata bisa mencabut duri 150 ekor hingga 200 ekor ikan bandeng. Maklum, mayoritas pemancing dan pengunjung lebih suka membawa ikan bandengnya pulang ke rumah setelah dicabuti durinya.

Pendapatannya sempat terhenti begitu muncul pandemi COVID-19 pada Maret lalu. Apalagi pada April dan Mei ketika pemda setempat melarang tempat-tempat pemancingan beroperasi untuk mencegah penyebaran virus Corona.

“Pada puasa dan Idul Fitri lalu saya benar-benar berhenti total. Tak punya penghasilan,” kenangnya.

Syukurlah, sejak Juni lalu, usaha pemancingan sudah kembali diizinkan buka sehingga Juariyah dan puluhan ibu-ibu lainnya bisa kembali menjual jasa mereka, mencabuti duri ikan bandeng yang disebut ikan bolu oleh orang Makassar atau Bugis.

Lalu berapa harga jasa mencabuti duri ikan bandeng?

Menurut Juariyah, 15 tahun lalu jasanya dihargai Rp 2.500 per ikan. Namun sejak 5 tahun lalu naik menjadi Rp 3.000 per ikan.

“Tapi pelanggan itu bermacam-macam. Ada juga yang masih menawar Rp 3.000 jadi Rp 2.500. Alasanya dulu kan Rp 2.500. Saya tertawa dan mengiyakan saja. Toh gak banyak yang seperti itu. Rejeki sudah ada yang mengatur,” pungkasnya.(hps)