Ancaman Longsor Besar di Balik Keindahan Pulau Rinca Taman Nasional Komodo

Oktober 5, 2020
Pulau Rinca

Rekahan besar di Pulau Rinca dilihat dari teluk menuju pintu masuk Dermaga Loh Buaya.(Budi Sulistijo)

Labuan Bajo, pmp –  Ada ancaman longsor besar yang mengancam jiwa manusia, satwa, maupun infrastruktur di Pulau Rinca, salah satu pulau di Taman Nasional Komodo, yang menjadi destinasi wisatawan dunia dan penelitian terhadap komodo yang merupakan hewan langka. Terdapat rekahan besar di sepanjang lereng yang berpotensi longsor di musim hujan yang sebentar lagi datang.

“Tanpa disadari di Pulau Rinca terdapat rekahan yang sangat besar sepanjang lereng yang mengancam tidak hanya fasilitas yang sedang dibangun, tetapi juga ancaman bagi komodo dan wisatawan, baik yang ada di darat maupun  perahu-perahu yang sedang berlabuh,” kata Budi Sulistijo PhD, pakar hidrogeologi dan spesialis lingkungan dari Teknik Pertambangan ITB, pada Senin (5/10/2020).

Pulau Rinca

Komodo dan rekahan besar di Pulau Rinca.(Budi Sulistijo)

Menurut Budi yang melakukan riset di Pulau Rinca, pulau tersebut memiliki populasi komodo 1.533 ekor sehingga disiapkan menjadi destinasi wisata dunia maupun pusat penelitian terhadap komodo. Selain Pulau Rinca, di Taman Nasional Komodo terdapat pula Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Nusa Kode dan Gilli Matang.

Keberadaan Taman Nasional Komodo menggerakan roda ekonomi Labuan Bajo, terbukti dengan berdirinya lapangan terbang baru yang megah dengan nama yang sama dengan binatang yang menjadi tujuan wisata yaitu Bandara Komodo.

Gerbang masuk utama Pulau Rinca yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan, baik lokal maupun luar negeri, adalah Dermaga Loh Buaya yang terletak di teluk yang relatif tenang sehingga sangat ideal untuk bersandar ataupun bermalam di kapal.

Tak Ada Early Waring System

Selain hewan komodo yang menjadi obyek utama yang ingin dilihat turis, Pulau Rinca juga memiliki kijang, kerbau dan monyet yang mudah dijumpai.

“Perlu diketahui, saat ini pembangunan fasilitas buat wisatawan dan penelitian, terutama bangunan gedung sedang giat dilakukan pemerintah,” kata Budi.

Sayangnya tanpa disadari, di Pulau Rinca terdapat rekahan yang sangat besar sepanjang lereng yang berpotensi mengancam tidak hanya fasilitas yang sedang dibangun tetapi juga wisatawan dan satwa.

“Salah satu rute pendek bagi pejalan kaki menuju gardu pandang yang baru dibangun juga melalui rekahan ini,” papar Budi.

Persolan utama, tidak dipasang tanda bahaya ataupun tindakan lain sebagai early warning sytem, baik untuk manusia maupun binatang komodo agar tidak mendekati daerah rawan longsor dan daerah yang berpotensi terdampak longsor.

“Pada musim kemarau, longsoran tidak membahayakan sarana dan prasarana pendukung wisata yang sedang dibangun, juga wisatawan dan binatang Komodo,” papar Budi.

Namun masuknya musim hujan yang sebentar lagi datang bakal memunculkan ancaman besar.

“Dengan kondisi alam yang hanya tertutup padang rumput, maka air hujan akan masuk ke dalam rekahan yang terbuka dan menjenuhkan lereng.  Kombinasi kenaikan masa jenis batuan, serta gaya-gaya lainnya akan menyebakan longsoran yang  besar dan hebat di lokasi ini,” tambah Budi.

Kondisi bakal diperburuk dengan batuan yang saat ini sudah longsor, yakni batuan  tufa yang tidak padu, berpotensi menimbulkan longsoran berbentuk lumpur dan bongkah-bongkah batuan yang mempunyai arah penyebaran luas jika terjadi pada saat hujan lebat.

Pada saat ini, lokasi antara kaki lereng yang tidak stabil dengan pantai dan Dermaga Loh Buaya merupakan zona transisi baku berupa dataran yang dapat tergenang pada saat hujan.

Padahal zona dataran basah ini justru tempat hewan-hewan berkumpul,  termasuk komodo. Juga terdapat lokasi kantor dan ruang tunggu yang menjadi tempat ideal bagi turis untuk berteduh dari terik sembari melihat komodo berjalan-jalan.

“Perlu segera disadari bahwa lokasi di sekitar Loh Buaya ini sangat berbahaya  pada musim hujan, sebab jika terjadi longsoran, maka material longsoran akan mampu menyapu sebagian sarana dan prasarana yang ada atau yang sedang dibangun pemerintah,” pesan Budi.

Pulau Rinca

Budi dan puterinya dengan latar belakang rekahan Pulau Rinca.(Budi Sulistijo)

Menurut Budi, hal terpenting dan tidak bisa dihitung kerugiannya adalah keselamatan nyawa wisatawan, peneliti, staf jaga wana atau ranger, juga hewan komodo itu sendiri.

“Jika longsoran terjadi pada saat hujan lebat, sangat mungkin terjadi suatu longsoran yang akan mengalir dengan cepat  ke pantai yang berpotensi akan menimbulkan gelombang besar yang mengancam keselamatan penumpang perahu dan isinya, juga wisatawan di dermaga,” tambahnya.

Budi mengingatkan, jika terjadi kondisi darurat akibat lonsoran, respon tanggap darurat bakal memerlukan waktu lama mengingat jarak antara Loh Buaya dengan Labuan Bajo cukup jauh, meskipun sarana komunikasi cukup baik.

Maka perlu dilakukan evaluasi total terkait keberadaan pintu masuk Loh Buaya dan segala fasilitasnya, termasuk keberadaan satwa komodo.

“Apakah satwa komodo dipertahankan dengan melakukan tindakan pengamanan dan pencegahan, atau komodo dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Ini perlu segera dilakukan menjelang datangnya musim hujan agar tidak timbul korban jiwa dan komodo itu sendiri,” pungkas Budi.(bhimo)