PenaMerahPutih.com
Headline Indeks Nusantara

Waspada La Nina, Khofifah Ingatkan Bahaya Banjir, Longsor dan Angin Kencang

Gubernur Khofifah
Gubernur Khofifah saat Apel Siaga Darurat Bencana di lapangan Makodam V Brawijaya.(Humas Pemprov Jatim)

Surabaya, pmp – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bahaya hidrometeorologi pada puncak musim penghujan pada Desember – Maret mendatang. Bahaya bisa berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, atau angin kencang.

“Tetap waspada dan siap siaga terhadap ancaman bencana hidrometeorologi akibat fenomena La Nina. Mulai dari banjir, tanah longsor dan angin puting beliung yang bisa terjadi kapan saja. Ikhtiar sambil berdoa agar semua terantisipasi tanpa korban,” kata Gubernur Khofifah saat Apel Siaga Darurat Bencana, di lapangan Makodam V Brawijaya, Senin (23/11/2020).

Menurut Khofifah, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) secara rutin merilis peringatan dini untuk mewaspadai hujan dengan  intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang dan petir. Peringatan dini hendaknya menjadi alarm bagi masyarakat untuk terus meningkatkan kesiap-siagaan dan kewaspadaan.

Baca Juga :   GP Ansor dan Aice Group Bagikan 5 Juta Masker untuk Jatim dan 19 Provinsi

“Terutama bagi mereka yang bertempat tinggal di wilayah rawan bencana. Pastikan mitigasi bencananya komprehensif,” pinta Khofifah.

Sedikitnya terdapat 22 daerah yang rawan bencana hidrometeorologi di Jawa Timur. Kawasan rawan banjir umumnya didominasi luapan sungai seperti Bengawan Solo yang luapannya membanjiri wilayah Bojonegoro, Magetan, Madiun, Lamongan, Gresik, Ngawi dan Tuban. Atau potensi banjir akibat luapan sungai Berantas di Malang Raya, Kediri, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo dan Surabaya.

Sementara potensi longsor yang harus diwaspadai di wilayah Jombang, Ponorogo, Kediri, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Malang, Batu dan Pacitan.

“Jatim menjadi salah satu provinsi yang  secara geografis serta geologis  memiliki kerentanan terhadap bencana, baik alam maupun nonalam. Maka dari itu penanganan bencana harus dilakukan dengan bersinergi dan kolaborasi antarlini, mulai pemerintah  provinsi, kota, kabupaten, kampus, swasta , media, serta  masyarakat. Prinsipnya pendekatan pentahelix disinergikan guna meminimalisir bencana,” tambahnya.

Baca Juga :   Hari Jadi Ke-75 Jatim, Gubernur Ajak Warga Gotong Royong Atasi Pandemi

Khofifah berpesan kepada pemangku kepentingan di seluruh kabupaten dan kota untuk melakukan mitigasi dan menyiapkan sejumlah skenario penanganan bencana.

“Pemulihan dampak sosial dan ekonomi akibat COVID-19 sedang dilakukan bersama- sama. Upaya tersebut jangan sampai tersendat karena adanya bencana hidrometeorologi. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk meminimalisir dampak bencana yang ditimbulkan,” pungkasnya.(hps)