PenaMerahPutih.com
Headline Indeks Jalan-jalan Tren

Keren dan Inspiratif, Seluruh Pegawai Difel Café Denpasar Penyandang Disabilitas

Denpasar PMP – Sebuah kedai kopi (kafe) di Kota Denpasar, dari Ketua Kelompok Usaha Bersama (Kube) hingga semua pegawainya merupakan penyandang disabilitas.

Ya, namanya Difel Café yang terletak di Graha Nawasena, Jalan Kamboja Nomor 4, Dangin Puri Kangin, Denpasar Timur, tak hanya keren, tapi juga inspiratif.

Berada di lingkungan perkantoran hingga sekolah dan kampus, harapannya kedai kopi ini akan ramai dikunjungi yang senang nongkrong sambil minum kopi.

Menurut pengelola sekaligus sebagai Ketua Kube, I Nyoman Juniarta (42) yang akrab disapa Bli Jigo, dengan melibatkan penyandang disabilitas, mampu meningkatkan rasa percaya diri untuk para difabel dalam bekerja dan mandiri.

Apalagi di kedai kopi ini pengunjungnya berasal dari berbagai lapisan masyarakat non difabel.

Dalam dunia hospitality atau pelayanan bukan hal baru untuk Jigo.

Jigo sebelumnya pernah bekerja di kapal pesiar bagian makanan dan minuman atau food and beverage.

Musibah terjadi saat kapal pesiar tempatnya bekerja menabrak karang di tahun 2012, hingga Jigo yang saat itu coba bergelantungan untuk menyelamatkan diri, jatuh terpelanting dari ketinggian 14 meter mengenai baja kapal.

Akibatnya, kedua kaki dan punggungnya patah hingga mengalami kelumpuhan.

Dan berkat CSR dari Pertamina Patraniaga Jatim Balinus melalui Fuel Terminal Sanggaran, Jigo yang kini duduk di kursi roda mampu bangkit bahkan melibatkan para difabel lain untuk berkarya.

Setelah mengikuti pelatihan dari Pertamina sejak Juli lalu, Jigo bersama difabel lain kini mampu mengelola kedai kopi yang diberi nama Difel Café.

“Saya memilih pelatihan sebagai barista karena potensi peminat kopi di Indonesia sangat tinggi, yakni sekitar 80 persen. Selain barista, ada waiter dan waitress juga,” kata Jigo.

Baca Juga :   Pertamina Patra Niaga Beri Kejutan Manis Bagi Konsumen Jatimbalinus di Hari Pelanggan Nasional

Jika usaha ini maju, Jigo mempersilakan pegawainya yang telah memiliki kemampuan dunia barista ingin membuka usaha sendiri di rumah atau di tempat lain.

“Saya senang dan bangga kalau pegawai yang aktif di sini (Difel Café) mampu membuka usaha sendiri. Tentu kita akan merekrut lagi teman difabel untuk dilatih karena sudah banyak yang memiliki dasar-dasarnya,” katanya.

Baru satu tahun berdiri, Jigo dan para difabel lain telah mengikuti berbagai kegiatan seperti bazar.

“Kita sudah pernah mengikuti beberapa event di luar, bahkan kopi dua kilo yang kita bawa langsung ludes dalam waktu dua jam saja karena banyak peminatnya dan hasil uangnya lumayan,” katanya sambil tertawa.

Jigo mengucapkan terima kasih atas dukungan Pertamina untuk penyandang disabilitas. Jigo bahkan membuka diri untuk institusi yang ingin melibatkan para penyandang disabilitas karena sekaligus untuk menguji nyali.

“Kami berharap pelatihan dari Pertamina untuk penyandang disabilitas tidak hanya di bidang kopi saja, tetapi juga bakery atau hal lain,” ujar Jigo.

Secara umum tidak ada kesulitan memiliki pegawai yang seluruhnya difabel. “Kami merangkul semua ragam difabel, dan untuk melatih memang butuh kesabaran. Dijelaskan dan diterangkan pelan-pelan,” katanya.

Dari sembilan pekerja, hanya enam yang aktif. Mereka dari empat organisasi, yakni Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia) Kota Denpasar, Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia) Kota Denpasar, HWDI (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia) Kota Denpasar, dan NPCI (National Paralympic Committee Indonesia) Kota Denpasar.

Baca Juga :   Dukung Program Kampung Tangguh, Pertamina Salurkan 1.200 Masker Kain

“Untuk dari tuna netra agar pertuni mencarikan yang low vision.  Kami tidak berani yang total karena ada air panas, karena jika terjadi apa-apa akan bahaya,” kata Jigo.

Sementara seorang pegawai difabel bernama Gusti Ayu Kadek Arini, mewakili Pertuni Kota Denpasar mengaku senang terlibat di Difel Café ini.

Ayu mengaku memiliki low vision dengan jarak pandang terjauh sekitar satu meter. Tugasnya di bagian seksi pengadaan barang masuk ke Kube atau bantuan yang diberikan oleh pihak lain.

Dukungan dan bantuan dari Pertamina ini membuat Ayu senang. Dia mengaku tak ada kendala atau kesulitan dalam bekerja.

Hanya saja, Ayu merasa silau jika pandangannya terkena sinar matahari. “Kalau kendala bekerja sih nggak ada. Hanya saat membuat kopi mungkin kesulitan di bagian art/ seni saat membuat gambar menggunakan foam,” kata Ayu.

Ayu juga berpesan, agar letak barang tidak dipindah tempatnya supaya dia mudah untuk mencari. Apa yang dilakukan di kedai kopi ini sama dengan seluruh pekerjaan sebagai ibu rumah tangga.

Harapannya, usaha kedai kopi ini berjalan lancar, ramai pengunjungnya yang tentu saja berdampak dengan penghasilannya.

Dari Pertamina Fuel Terminal Manajer Sanggaran, Adi Sadewo Broto menjelaskan menyediakan pelatihan dan peralatan yang dilakukan sejak Juli 2023.

Melirik memberikan CSR untuk kalangan difabel karena belum banyak yang digarap, sekaligus ini sebagai bentuk Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) membantu permasalahan sosial yang bekerja sama dengan dinas sosial.

Baca Juga :   Peringati Harpelnas, Management Pertamina Turun Langsung Sapa Pelanggan

“Dari pertamina hanya menyiapkan peralatan dan pelatihan. Untuk perekrutan tenaga kerja, kami serahkan sepenuhnya pada Kube Gantari Jaya, karena mereka yang paling tahu apa yang dibutuhkan serta resiko atau bahaya dalam pekerjaan ini,” katanya.

Total bantuan CSR yang dikucurkan untuk penyandang disabilitas sebesar Rp114 juta, yang terbagi menjadi dua.

Selain usaha kedai kopi sebesar Rp100 juta, ada juga CSR untuk penyandang disabilitas mental pembuatan dupa di rumah berdaya sebesar Rp14 juta.

Adi Sadewo menegaskan bahwa usaha ini merupakan awal dan akan terus berlanjut. Harapannya tentu dapat membantu mengenali potensi yang dapat dikembangkan di masyarakat dengan membuka lapangan pekerjaan, hingga menjadi contoh untuk yang lain.

Tak hanya menyediakan alat dan pelatihan, ke depan Pertamina akan terlibat dalam pemasaran tapi juga suplai bahan baku.

Dari jumlah disabilitas di Kota Denpasar yang mencapai 1.170 orang, sekitar 40 orang mampu produktif di bidang UMKM.

Kehadiran CSR dari instansi seperti Pertamina disambut baik Dinas Sosial Kota Denpasar, karena inilah yang disebut sebagai potensi sumber ksejahteraan sosial.

“Potensi itu bisa dari organisasi, karang taruna atau perusahaan yang salah satunya CSR dari BUMN, BUMD atau yayasan manapunsudah diatur di Pemensos 9 tahun 2020 tentang TJSL,” kata Kepala Dinas Sosial I Gusti Ayu Laxmy Saraswaty.

Bahkan di akhir tahun nanti ada agenda rutin tahunan yang digelar Pemerintah Kota Denpasar, Denpasar Festival dengan melibatkan pelaku UMKM penyandang disabilitas.(nas)