
SURABAYA, PMP – Ekonomi Jawa Timur tumbuh hingga 5,96% pada triwulan I 2026, yang didorong oleh kenaikan konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah, di tengah perlambatan ekspor.
“Pertumbuhan ini lebih tinggi dari triwulan sebelumnya. Kenaikan konsumsi terjadi seiring peningkatan aktivitas pada momen Ramadan, Imlek, Nyepi, dan HBKN Idulfitri 2026,” papar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim dalam laporan Perkembangan dan Outlook Perekonomian Jawa Timur, yang dikutip Senin (22/6/2026).
Peningkatan kinerja ekonomi Jawa Timur triwulan I 2026 ditunjang oleh kenaikan konsumsi ritel barang sandang (pakaian), barang pribadi, rekreasi, dan konsumsi makanan minuman yang tetap tumbuh tinggi, transaksi nontunai dan elektronik, perbaikan indeks keyakinan kondisi ekonomi saat ini, belanja daerah (APBN K/L), serta impor barang modal dan barang konstruksi untuk mendukung investasi, meski tertahan oleh melambatnya kinerja ekspor, terutama luar negeri.
Lebih jauh dikatakan, dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,15%, konsumsi LNPRT 5,13%, konsumsi pemerintah 2,13%, dan investasi atau PMTB 6,66%. Sementara ekspor tumbuh 6,65% dan impor 6,23%. Net ekspor tercatat 10,14%.
Akselerasi investasi didukung pembangunan Sekolah Rakyat, revitalisasi fasilitas pendidikan, pembangunan infrastruktur jalan, serta impor barang modal. Konsumsi pemerintah meningkat ditopang Belanja Pegawai dan perbaikan Belanja Barang Jasa untuk Program MBG.
Namun pertumbuhan yang lebih tinggi tertahan oleh perlambatan ekspor, utamanya ekspor luar negeri komoditas emas perhiasan, tembaga, kayu, dan produk kimia. Dari sisi penawaran, ekonomi ditopang LU Perdagangan, Akomodasi Makan Minum, Pertanian, dan Konstruksi.
Jawa Timur menjadi kontributor terbesar kedua ekonomi nasional dengan kontribusi 14,40% terhadap PDB Nasional dan 25,16% terhadap ekonomi Pulau Jawa. Pertumbuhan 5,96% ini di atas Jawa 5,79% dan nasional 5,61%.
“Sejumlah indikator pendukung, yakni penjualan eceran tumbuh 16,03% untuk barang sandang, 12,58% untuk makanan minuman, dan 5,22% untuk barang budaya rekreasi. Transaksi BI-FAST naik 70,59% dan uang elektronik 41,24%. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini tercatat 118,13,” ungkap Ibrahim.
Belanja daerah APBN K/L tumbuh signifikan dengan Belanja Modal 290,47%, Belanja K/L 42,02%, dan Belanja Pegawai 15,29%. Impor barang modal naik 20,60% dan bahan konstruksi 66,07%. Meski begitu, ekspor LN komoditas utama masih terkontraksi seperti perhiasan -44,27% dan tembaga -5,57%.
“Untuk triwulan II 2026, ekonomi Jawa Timur tetap tumbuh kuat. Hal ini didukung optimisme konsumen, pertumbuhan transaksi kartu kredit 10,40% dan kartu debit 8,71%, serta ekspor nonmigas April 2026 yang tumbuh 55,63% untuk lemak minyak dan 80,44% untuk tembaga,” katanya.
Ibrahim menjelaskan sistem pembayaran April 2026 tumbuh positif, didorong aktivitas transfer yang naik 37,27%. Transaksi nontunai tumbuh 16,80% dan QRIS 43,11%. Uang rupiah beredar Mei 2026 mengalami net-outflow sejalan terjaganya konsumsi rumah tangga.
Hasil Rapat Dewan Gubernur BI 17-18 Juni 2026 menaikkan BI-Rate menjadi 5,75% untuk memperkuat stabilitas. Suku bunga Deposit Facility naik ke 4,75% dan Lending Facility ke 6,50%. BI juga meningkatkan intensitas intervensi valas dan menjaga SRBI Rp1.021,13 triliun per 15 Juni 2026.
Secara keseluruhan 2026, Ibrahim memrediksi ekonomi Jatim tetap solid di kisaran 4,9-5,7% yoy, dengan inflasi terkendali pada sasaran nasional 2,5±1%. Pada 2025, inflasi Jatim tercatat 1,51% dan ekonomi tumbuh 5,33%.
“Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan. Peran BI meliputi advisory pengembangan UMKM, digitalisasi sistem pembayaran, pengendalian inflasi, dan promosi investasi melalui East Java Investment Forum 2025 yang menghasilkan 4 Letter of Intent,” kata Ibrahim. (hap)












