EkbisHeadlineIndeksMakro

JCFF 2026 Resmi Dibuka, BI Dorong Kopi dan Rempah Nusantara Bersaing di Pasar Global

×

JCFF 2026 Resmi Dibuka, BI Dorong Kopi dan Rempah Nusantara Bersaing di Pasar Global

Sebarkan artikel ini
Salah satu UMKM kopi peserta KFCC 2026 di Alun-Alun Kota Surabaya, Jumat (17/7/2026). penamerahputih.com/PMP

SURABAYA, PMP – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Timur resmi membuka Java Coffee & Flavours Festival (JCFF) 2026 sebagai Upaya memperkuat daya saing komoditas unggulan Jawa dan Nusantara, seperti kopi, teh, cokelat, dan rempah-rempah agar mampu bersaing di pasar global.

“Di tengah dinamika ekonomi dunia, mulai dari konflik geopolitik, ketidakpastian harga energi dan komoditas, hingga kondisi ekonomi global yang belum stabil, ekonomi Indonesia masih menunjukkan kinerja yang baik,” kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jatim, Rifki Ismal dalam pembukaan JCFF 2026 di Alun-Alun Kota Surabaya, Jumat (17/7/2026) malam.

Rifki menilai kopi, teh, cokelat, dan rempah-rempah merupakan komoditas strategis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Indonesia saat ini merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia, setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.

Baca Juga :  Tukar Uang Koin Sejumlah Rp 50 Ribu Berhadiah Motor

Produksi kopi nasional mencapai sekitar 780 ribu ton per tahun, di mana Jawa Timur menjadi sentra produksi terbesar di Pulau Jawa, yakni 53 ribu ton, jauh di atas Jawa Barat dan Jawa Tengah yang masing-masing berkisar 25 ribu ton.

“Potensi ini harus terus kita dorong agar tidak hanya menjadi komoditas unggulan nasional, tetapi juga mampu bersaing di pasar global,” tandasnya.

Melalui JCFF 2026, lanjut Rifki, Bank Indonesia menghadirkan 41 UMKM kopi binaan BI, selain pelaku usaha teh, cokelat, rempah-rempah, serta berbagai produk olahan lainnya. Sebagian besar di antaranya bahkan telah berhasil menembus pasar ekspor ke sejumlah negara seperti Jerman dan Malaysia

Selain mempromosikan produk unggulan, JCFF 2026 juga menjadi ajang penerapan transaksi digital. Seluruh transaksi di area festival dilakukan secara non-tunai menggunakan QRIS dan berbagai metode pembayaran digital lainnya.

Baca Juga :  Gubenur Jatim Arahkan Upaya Pengendalian Inflasi pada Rakor TPID

“Kami ingin inovasi digital menjadi bagian dari pengembangan UMKM. Pengunjung dapat bertransaksi dengan mudah menggunakan QRIS tanpa uang tunai,” ujarnya.

Bank Indonesia berharap penyelenggaraan JCFF 2026 mampu melampaui capaian tahun sebelumnya, di mana festival 2025 berhasil menarik sekitar 130 ribu pengunjung dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp107 miliar.

Ke depan, Bank Indonesia berkomitmen terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kualitas, produktivitas, inovasi, serta akses pasar komoditas unggulan Indonesia.

“Dengan kolaborasi yang semakin kuat, kami berharap kopi, teh, cokelat, dan rempah-rempah Indonesia semakin dikenal dunia serta memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional maupun Jawa Timur,” kata Rifki.

Baca Juga :  Bank Indonesia Dorong Penguatan Halal Lifestyle untuk Pengembangan Ekonomi Syariah

Sementara Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang turut menghadiri peresmian JCFF 2026 ini menilai festival tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi kopi dan produk unggulan Nusantara, tetapi juga menjadi wadah mempertemukan pelaku UMKM, investor, akademisi, hingga komunitas.

“Keberadaan festival seperti JCFF sangat penting karena tidak sekadar menjadi ajang pameran produk, tetapi juga membuka peluang kolaborasi bisnis,” katanya.

Wali Kota juga mengapresiasi Bank Indonesia yang secara konsisten menghadirkan kegiatan berskala nasional di Surabaya. Menurutnya, berbagai kegiatan tersebut turut memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi kota.

“Kalau bisa sering-sering mengadakan acara seperti ini di Surabaya. Semakin banyak kegiatan seperti ini, semakin besar pula dampaknya terhadap pergerakan ekonomi masyarakat,” kata Eri. (hap)