
SURABAYA, PMP – Keberadaan Pusat Riset Pesantren dan Diniyah Jawa Timur yang diresmikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di Islamic Center Surabaya, pada Kamis (10/9/2026) diharapkan bisa mewujudkan komitmen membangun ekosistem pesantren yang mandiri, sehat, tangguh, inklusif dan berdaya saing.
“Jawa Timur memiliki ekosistem pesantren yang besar dan strategis. Pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga menjadi pusat dakwah, pembentukan karakter, dan pemberdayaan Masyarakat,” kata Khofifah saat memberikan Kuliah Umum pada acara Stadium Generale Mahasiswa/Mahasantri Baru Penerima Beasiswa Pemprov Jatim sekaligus meresmikan Pusat Riset Pesantren, Kamis.
Di tahun 2026 ini, total penerima beasiswa dari Pemprov Jawa Timur untuk kuliah S1, S2 dan juga S3 mencapai 1.100 santri dari berbagai pesantren di Jawa Timur.
Rinciannya yaitu 540 penerima untuk jenjang S1 PTKI, 285 untuk jenjang S2 PTKI, 80 untuk jenjang S3 PTKI, 105 untuk Ma’had Aly (Marhalah Ula/S1), 30 untuk kuliah S2 Universitas Al-Azhar Kairo dan 60 untuk S1/S2 STEM PTN.
” LPPD punya tugas berat tidak sekadar menyiapkan sarjana dan ulama, melainkan mampu menangkap peradaban dunia melalui pendekatan Islam moderat, Islam toleran, Islam penuh kasih dan damai dari pesantren di Jatim. Kesempatan ini merupakan amanah sekaligus investasi jangka panjang bagi masa depan SDM Jatim,” ungkap Khofifah.
Program beasiswa kuliah bagi santri pesantren di Jatim telah dijalankan sejak tahun 2019. Hingga saat ini, Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Provinsi Jawa Timur menyalurkan beasiswa kepada 7.796 santri.
Saat ini, Jawa Timur memiliki 7.347 pondok pesantren yang menjadi ruang pendidikan dan pembentukan karakter bagi sekitar 660.437 santri, dan didukung oleh 41.317 ustaz dan ustazah yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Timur.
“Data bukan sekadar angka, tetapi mencerminkan kuatnya tradisi keilmuan pesantren yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dari pesantren-pesantren di Jawa Timur telah lahir ulama, cendekiawan dan tokoh bangsa yang memberikan kontribusi penting bagi perjuangan dan pembangunan Indonesia,” tuturnya.
Di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, Khofifah mengatakan peran mahasantri dituntut semakin strategis. Menghadapi disrupsi teknologi dan Artificial Intelligence (AI), konflik geopolitik dan perang dagang, derasnya arus informasi dan polarisasi, hingga perubahan ekonomi dan dunia kerja.
Keberadaan pusat riset diyakini akan memperkuat pesantren sebagai produsen pengetahuan dan bukan sebagai objek penelitian.
“Ini begitu menakjubkan bahwa ternyata dari mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari Pemprov Jatim, baik S1, S2 yang ada di Mesir, M2 dari Ma’had Aly, maupun program S3, ternyata sudah menghasilkan produk karya intelektual yang sangat luar biasa,” kata Khofifah.
“Produk intelektual itu dipublikasi menjadi lebih 40 buku, itu adalah hasil riset mereka. Dan tahun ini, semester ini, target kami dari Indonesia khusus Jawa Timur itu nanti akan melepas 125 periset pesantren,” ujarnya.
Tidak hanya itu, penerima beasiswa yang tengah menempuh studi dj Mesir rencananya juga akan akan mempublikasi 30 buku, dimana 30 buku itu merupakan review dari 150 kitab.
Khofifah mengatakan, melalui ekosistem yang menghubungkan beasiswa, riset, repositori, rekomendasi kebijakan, hingga dampak nyata, Pusat Riset Pesantren diharapkan menjadi rumah pengetahuan. Sedangkan Riset Sanad Keilmuan (Risan Jatim) menjadi salah satu penggerak dalam merawat dan mengembangkan warisan intelektual pesantren.
Ekosistem tersebut, kata Khofifah, diperkuat melalui pelibatan 80 peneliti doktor, pemetaan sanad keilmuan, digitalisasi data, penyusunan Atlas Sanad Keilmuan Jawa Timur, hingga publikasi hasil riset sebagai rekomendasi kebijakan.
“Karya dan tradisi keilmuan pesantren tidak hanya terdokumentasi, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi fondasi inovasi dan pembangunan Jawa Timur di masa depan,” pungkasnya.
Ketua LPPD Provinsi Jatim Prof Abdul Halim Soebahar mengatakan, mahasiswa penerima beasiswa sudah melahirkan karya. Sebanyak 170 karya ilmiah mahasiswa program S3 angkatan tahun 2022 hingga tahun 2025 telah dikompilasi menjadi 17 buku.
“Semua yang ada di sini karya mahasiswa yang mendapat beasiswa dari Provinsi Jatim. Maka dalam semester ini insyaallah S2 Mesir akan mempublish 30 buku hasil resume dari 150 kitab berbahasa Arab,” tandasnya. (gdn)












