HeadlineIndeksNusantara

Keracunan MBG di Ponpes Sidoarjo Capai 664 Korban, Gubernur Khofifah Evaluasi Tata Kelola

×

Keracunan MBG di Ponpes Sidoarjo Capai 664 Korban, Gubernur Khofifah Evaluasi Tata Kelola

Sebarkan artikel ini
Gubernur Jatim Khofifah jenguk santri korban keracunan MBG di RSI Siti Hajar Sidoarjo.

SIDOARJO, PMP – Sebanyak 664 korban dari 18 lembaga pendidikan diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur pada Selasa (1/9/2026). Korban terbanyak dari Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam Sidoarjo.

Per tanggal 2 September 2026 pukul 22.00 WIB diperoleh data total 664 pasien korban yang mendapatkan perawatan medis baik di rumah sakit, fasilitas kesehatan lainnya dan di pesantren.  Dari jumlah itu sebanyak 77 pasien di antaranya sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit, 581 pasien rawat jalan, dan 6 pasien dalam observasi.

Keseluruhan korban mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan antara lain RSUD N.T. Notopuro, RS Delta Surya, RS Siti Hajar, RS Pusura, RSU Aisyiyah St Fatimah, RS Pusdik Bhayangkara, RS Arafah Anwar Medika, RS Anwar Medika, RS Assakinah Medika, PKM Porong, RS Rahman Rahim, Puskesmas Tanggulangin, Bidan Praktik Mandiri, Dokter Praktik Mandiri, dan pengobatan di Pesantren.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjenguk para santri yang diduga korban keracunan di RSI Siti Hajar di Kabupaten Sidoarjo, Kamis (3/9/2026).

Baca Juga :  Vaksin Merah Putih Mulai Uji Klinis Tahap I

Satu per satu, Gubernur Khofifah mengecek kondisi para pasien yang tengah menjalani perawatan. Lewat dialog tersebut, ia memastikan para korban mendapatkan penanganan terbaik.

Lebih lanjut Gubernur Khofifah mengajak semua pihak untuk terus berbenah dalam implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Jadi memang kita harus terus berbenah, semua lini harus melakukan monitoring dan pengawasan sekaligus merekomendasikan tidak hanya kepada BGN tetapi juga kepada SPPG setempat,” kata Gubernur Khofifah.

Ia menyampaikan dalam implementasinya, program prioritas nasional ini memang membutuhkan pengelolaan manajemen dan pengawasan yang cermat. Mulai dari bahan makanan yang digunakan hingga tersaji kepada penerima manfaat. Pemilihan bahan makanan, pengolahan, distribusi hingga tersaji pada penerima manfaat harus dilakukan perhitungan yang tepat agar makanan tetap dalam kondisi yang aman dan sehat  saat dikonsumsi.

“Ini kasusnya dimasak bersama dengan format yang sama. Yang pengirimannya relatif lebih awal itu aman. Tapi yang pengirimannya terlambat ini yang kemudian menjadikan masalah,” ungkapnya.

Baca Juga :  BI dan Pemprov Jatim Kenalkan Epik Mobile Program Pengendali Inflasi Jelang Idul Fitri

Perbedaan waktu distribusi bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya masalah. Hal ini karena setiap makanan yang dimasak juga memiliki batas waktu konsumsi yang aman.

“Bedanya adalah pada masa pengiriman dari SPPG itu ke titik penerima manfaat, jadi kalau selesai dimasak jam 5 kemudian jam 7 diantar jam 10 sudah bisa dimanfaatkan oleh penerima manfaat ini semua aman,” katanya.

Gubernur Khofifah juga menuturkan korban yang diduga keracunan ini mendapatkan suplai makanan dari SPPG yang sama yaitu dari SPPG Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.

SPPG tersebut menyalurkannya ke 18 unit penerima manfaat salah satunya ke santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam Sidoarjo.

“Saya tanya ada Kadinkes, ada Kakankemenag yang mendapatkan manfaat dari SPPG yang sama itu ada 18 unit, dari 18 unit yang lain relatif semua berjalan baik,” terangnya.

“Tapi kemudian ada yang dikirimnya baru jam 11 atau jam 11 lebih, dan dikonsumsi jam 12.30 sampai jam 1 inilah yang kemudian ditemukan ada masalah,” imbuhnya.

Baca Juga :  Pemberangkatan Kloter 38 JCH Terakhir dari Embarkasi Juanda.

Diketahui di RSI Siti Hajar Kabupaten Sidoarjo saat ini, Kamis (3/8)  terdapat 27 pasien yang sedang dalam perawatan. Dari 27 pasien tersebut 24 diantaranya dinyatakan sehat dan dapat kembali pulang hari ini, sementara 3 pasien sisanya masih dalam observasi dari dokter dan pihak rumah sakit. Jika sore ini sudah baik maka semua bisa pulang hari ini.

“Dari 27 itu, 24 insyaallah clear pagi ini bisa pulang, yang 3 nunggu observasi lagi, tapi mudah-mudahan sore juga bisa pulang jadi Insya Allah mereka sudah dalam kondisi baik,” ungkapnya.

Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa pasien yang dirawat di RSI Siti Hajar mengaku mengalami mual dan pusing. Mereka baru diperbolehkan meninggalkan rumah sakit apabila keluhan tersebut sudah tidak rasakan oleh pasien.

“Saya tanya kepada pasien mual dan pusing sudah tidak ada tapi yang Insya Allah sudah clear bisa pulang pagi ini 24 dari 27 pasien,” tegasnya. (gdn)