
SURABAYA, PMP – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Darmadi Sudipyo mengatakan konsep halal tidak lagi terbatas pada makanan dan minuman semata namun sudah berkembang menjadi sebuah gaya hidup (halal lifestyle) yang mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti fashion, kosmetik, pariwisata, hingga keuangan.
“Gaya hidup halal kini bukan lagi sekadar pilihan personal di ranah privat, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk menggerakkan roda perekonomian daerah dari tingkat keluarga hingga skala regional,” kata ujar Sri Darmadi Sudipyo, dalam talkshow ‘Halal Living: From Personal Choice to Regional Impact’ Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa 2026, di Grand City Mall Surabaya, Minggu (27/9/2026).
Kepala Pusat Studi Halal ITS, Prof. Setyo Gunawan mengatakan potensi nilai ekonomis halal di dunia sangatlah besar. Secara global tercatat nilail ekonomis halal mencapai 2012 sebesar USD1,6 triliun, kemudian tahun 2024 meningkat menjadi USD2,6 triliun, dan tahun 2030 diprediksi akan mencapai USD3,6 triliun.
“Indonesia sebagai negara dengan muslim terbesar harusnya memanfaatkan potensi ini. Sayangnya masyarakat kita masih berperilaku sebagai konsumen, belum produsen. Untuk mendorong hal tersebut sekarang ini produk yang beredar di Indonesia didorong untuk mendapatkan sertifikat halal,” katanya.
Prof Setyo berharap kesadaran literasi halal harus terus ditingkatkan agar Indonesia tidak hanya berstatus sebagai konsumen terbesar.
“Agar Indonesia juga mampu menjadi pemimpin global dalam penyediaan produk serta ekosistem halal yang terintegrasi secara transparan,” katanya.
Tampil juga sebagai pembicara Regional Business Lead East Java Bali Nusra Paragon Corp, Indiarto Wahyu Wicaksono mengungkapkan potensi halal market di Indonesia cukup potensial.
“Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 270 juta jiwa, dengan 87 persennya beragama Islam, menjadi market halal yang potensial,” tuturnya.
Indiarto mengungkapkan produk-produk kosmetik halal yang diproduksi Paragon Corp market pasarnya terus tumbuh signifikan. Beragam produk baru selalu disambut antusias Masyarakat.
“Apalagi sekarang kaum pria juga mulai memiliki kepedulian untuk merawat diri. Setidaknya sejak pandemi pasar segmen pria tumbuh sekitar 4 persen. Ini sudah menjadi gaya hidup tak hanya perempuan saja,” katanya. (hap)












