
SURABAYA, PMP – Keberanian Eko Wuryanto, petani Teh Gambyong, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah memilih jalan yang tak mudah guna mengangkat potensi lokal agar dikenal luas kini membuahkan hasil nyata. Kerja kerasnya membangun Rumah Produksi Teh Gambyong ini mampu memberi penghidupan dan banyak harapan bagi para petani dan masyarakat setempat.
Berawal dari pengamatan Eko yang kala itu masih bekerja di sebuah perusahaan teh, melihat adanya tren wisatawan yang berdatangan ke kawasan Kemuning untuk menikmati pemandangan kebun teh pada 2010. Namun perasaannya terusik kala wisatawan yang datang, saat ingin merasakan minum teh khas Kemuning atau pun ingin membeli produk olahan sebagai oleh oleh, ternyata justru tidak ada di pasar setempat.
“Orang datang setelah puas menikmati pemandangan kebuh teh tentunya ingin merasakan minum teh khas Kemuning, tapi justru tidak ada. Disitulah saya berpikir dan melihat peluang untuk dikembangkan,” kata Eko dalam kegiatan Capacity Buliding Media yang digelar Bank Indonesia Jatim dalam kunjungan ke Rumah Produksi Teh Gambyong, Selasa (6/10/2026).
Sayangnya keinginan Eko masih terbentur dilema etis karena saat itu masih tercatat sebagi karyawan pabrik teh. Namun keinginannya yang kuat merintisusaha sendiri, mendorong Eko mengambil keputusan berani untuk resign (mengundurkan diri) dari tempatnya bekerja pada 2012.
Jalan untuk mandir ternyata penuh liku dan tak semulus yang dibayangkan. Namun karena kecintaan Eko terhadap dunia teh membuatnya tetap bersemangat untuk mewujudkan keinginannya.
“Bayangkan waktu pertama buka pada 2014, keuntungan satu bulan hanya sekitar Rp300 ribu, kira-kira setara dengan gaji saya selama tiga hari ketika masih bekerja di perusahaan. Berat memang, tapi saya berpikir lebih jauh ke depan. Manfaat tak hanya untuk saya tapi mengangkat potensi lokal ini,” kata Eko mengisahkan awal usahanya.
Dengan modal awal Rp8 juta, Eko merintis usaha produksi dengan peralatan sederhana yang dibuat sendiri dan sumber daya yang ada dibantu 5-6 mitra petani.” Peralatan tersebut bahkan masih disimpan hingga sekarang sebagai kenangan dari perjalanan awal usaha saya,” kenangnya.
Eko menceritakan ketika awal produksi sekitar 50 kilogram per bulan yang belum tentu terserap pasar. “Namun berkat pendampingan dari Bank Indonesia (BI), usaha kami mulai berkembang mulai dari kapasitas produksi, kemitraan luasan lahan garapan hingga berbagai inovasi untuk memperluas akses pasar,” ujar Eko menjelaskan dukungan BI terhadap rumah produksinya.
Kini setelah satu dekade, kapasitas produksi sekitar 1-1,5 ton ton per bulan, dengan melibatkan 26 mitra petani dengan lahan perkebunan seluas 50 hektare. Jumlah tenaga pemetik teh juga mengalami peningkatan, dari sekitar 15 orang menjadi kurang lebih 25 orang.
“Harapan saya bagaimana para petani di kawasan ini ikut merasakan manfaatnya, karena keuntungan bukan hanya untuk saya sendiri, tetapi bagaimana 26 petani mitra saya ini benar-benar semangat dan berdaya,” kata Eko.
Di rumah produksi yang menjadi pusat aktivitas Eko dan para petani, pucuk teh yang baru dipetik melewati proses pelayuan, penggulungan dan pengeringan sebelum disimpan sebagai bahan baku untuk kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk.
Eko tidak sekadar mempertahankan teh dalam bentuk konvensional, tetapi mencoba membaca selera konsumen dengan menghadirkan teh hijau, hitam, putih, melati, jahe, serai, buah, rempah, hingga matcha yang mulai diminati sejumlah kafe dan restoran di Jakarta.
Ada pula karakter khas yang menjadi identitas produk teh tersebut berupa teh rako, yakni teh dengan sensasi rasa menyerupai kopi. “Aroma kopi dari teh ini muncul secara alami dari karakter tanah Kemuning yang dahulu lahan ini ditanami tanaman kopi,” imbuhnya.
Sementara itu, teh putih dibuat dari pucuk daun yang belum mekar dan diproses dengan pengeringan bersuhu rendah, sehingga karakter bahan bakunya tetap dipertahankan, menjadi salah satu produk yang menunjukkan upaya Eko meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
“Dari inovasi tersebut, omzet usaha yang pada 2023 berada di kisaran Rp85 juta per bulan, kini meningkat menjadi sekitar Rp250-300 juta per bulan. Sedangkan jumlah reseller bertambah dari 235 menjadi sekitar 620,” katanya.

Bertemu Pembeli di Pameran
Eko mengisahkan pesanan dalam jumlah besar yang diterima ini setelah dirinya mengikuti pameran Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 yang digelar BI Jatim di Surabaya.
“Jauh-jauh pameran di Surabaya, eh saya justru bertemu pembeli yang ternyata asalnya dari Boyolali yang tidak jauh dari Kemuning, Karanganyar. Pesanannya sekitar 3.000 produk per hari, dengan nilai transaksi sekitar Rp6 juta,” ujar Eko .
Baginya pertemuan tersebut menjadi contoh bagaimana pameran tidak berhenti sebagai ruang promosi, tetapi dapat membuka rantai perdagangan baru bagi UMKM daerah ketika produk dipertemukan dengan pembeli yang membutuhkan pasokan secara berkelanjutan.
Rumah produksi teh Gambyong yang dikelola Eko bersama para petani di Kemuning itu, kini menjadi salah satu UMKM binaan BI yang mendapat dukungan melalui pendampingan produksi, penguatan peralatan, promosi dan fasilitasi pertemuan dengan calon pembeli melalui berbagai kegiatan pameran.
Bagi Eko, dukungan tersebut membantu menjawab persoalan yang selama ini menjadi salah satu keterbatasan usaha, yakni kemampuan meningkatkan kapasitas produksi, sekaligus memperluas akses pasar ketika permintaan mulai tumbuh.
Ia mengaku salah satu dampak yang paling terasa setelah mengikuti kegiatan yang difasilitasi BI adalah terbukanya pertemuan dengan pembeli dalam skala lebih besar, termasuk pesanan yang kini mencapai ribuan produk setiap hari.
Dukungan BI, sekaligus memberi ruang bagi Teh Gambyong untuk memperkenalkan produk lain seperti teh kumis kucing, teh rempah, teh rosella, dan berbagai racikan herbal yang dikembangkan mengikuti kebutuhan pasar.
Bagi BI, pendampingan terhadap UMKM, seperti Teh Gambyong, menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pelaku usaha lokal agar tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memiliki akses terhadap pasar, jejaring usaha dan peningkatan kualitas produksi.
Kini Eko sedang mempersiapkan sejumlah permintaan besar, termasuk calon pembeli ekspor yang membutuhkan pasokan sekitar 35-45 ton atau satu kontainer per bulan.
Bagi Eko, memperbesar produksi bukan semata-mata tentang mengejar omzet karena keberlanjutan usaha bergantung pada keberadaan petani yang memasok bahan baku dari kebun-kebun di sekitar Kemuning.
Di sisi lain, rumah produksi Teh Gambyong tidak hanya menjadi tempat mengolah dan menjual teh, tetapi juga ruang edukasi bagi wisatawan dan mahasiswa yang ingin melihat perjalanan teh sejak dipetik, hingga siap diseduh.
Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah dan Jawa Timur memanfaatkan kebun serta rumah produksi tersebut sebagai tempat penelitian, sementara pengunjung dapat mengenal proses pengolahan yang selama ini hanya mereka lihat dalam bentuk produk jadi.
“Jadi kami tidak hanya menjual produk, tetapi juga memberikan edukasi, mulai dari tanaman, proses pengolahan, sampai produk itu siap dinikmati,” ujar Eko.
Dari sebuah usaha kecil yang dahulu hanya menghasilkan keuntungan sekitar Rp300 ribu sebulan, Teh Gambyong kini tumbuh menjadi usaha yang menghubungkan kebun, petani, pengolah, pasar dan konsumen dalam satu rantai nilai lokal.
Pendampingan BI
Di balik upaya mendorong UMKM agar naik kelas, penguatan usaha tidak cukup hanya dengan memperkenalkan produk kepada pasar, tetapi juga membutuhkan kelembagaan yang kuat agar pelaku usaha mampu berkembang secara berkelompok.
Bank Indonesia Jawa Timur menempatkan penguatan kelembagaan melalui koperatisasi sebagai salah satu fondasi pengembangan UMKM, terutama dengan mendorong kelompok tani yang sebelumnya berjalan secara individual untuk membangun sinergi melalui kelompok tani hingga gabungan kelompok tani dan koperasi.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Jawa Timur Yono Haryono mengatakan pendekatan tersebut ditempuh karena UMKM memiliki daya tawar yang lebih kuat ketika pelaku usaha mampu bersinergi, sekaligus memudahkan mereka dalam mengembangkan produktivitas dan memperluas skala usaha.
“Setelah kelembagaan diperkuat, persoalan berikutnya adalah pembiayaan yang menjadi salah satu tantangan ketika pelaku UMKM hendak meningkatkan kapasitas produksinya, sehingga fasilitasi akses pembiayaan menjadi pilar berikutnya dalam pengembangan UMKM,” kata Yono kepada media dalam Capacity Building Media di Karanganyar, Rabu Rabu (7/10/2026).
Melalui berbagai kegiatan, seperti JCFF dan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar), BI Jatim tidak hanya mempertemukan UMKM dengan konsumen, tetapi juga mendorong terjadinya perjumpaan bisnis agar pelaku usaha memiliki akses terhadap sumber pembiayaan sesuai kebutuhan pengembangan bisnisnya.
“Kemudian dilanjutkan dengan membuka akses pasar baik pasar domestik hingga peluang ekspor, termasuk melalui berbagai pameran dan agenda perdagangan yang mempertemukan UMKM potensial dengan calon pembeli, baik dari dalam maupun luar negeri,” pungkas Yono. (hap)












