
SURABAYA, PMP – Bank Indonesia Jawa Timur menyerahkan buku Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) kepada Pemprov Jawa Timur yang memuat tujuh rekomendasi kebijakan utama dalam menghadapi potensi tekanan global, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah, sebagai bentuk sinergitas, kolaborasi, serta langkah adaptif guna menjaga stabilitas dan melanjutkan momentum pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahm menyatakan kinerja ekonomi Jawa Timur pada 2025 yang tetap solid, dengan pertumbuhan 5,3396 % (year on year/ yoy) menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan ke depan sekaligus memanfaatkan peluang yang ada. Ketahanan ekonomi Jawa Timur harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas sektor.
“Diperlukan sinergi dan adaptasi untuk menghadapi tantangan sekaligus menangkap peluang di tengah kondisi global saat ini,” kata Ibrahim dalam pembukaan acara Jatim Talk di Surabaya, Rabu (1/4/26).
Ketujuh rekomendasi kebijakan utama, yaitu: (1) pembangunan dan integrasi distribusi barang; (2) percepatan investasi untuk mendukung hilirisasi industri, termasuk komoditas pertanian unggulan; (3) penguatan ketahanan pangan dan agribisnis dalam pengendalian inflasi; (4) pengembangan sektor pariwisata, ekonomi syariah, dan UMKM serta optimalisasi kredit produktif; (5) optimalisasi pendapatan asli daerah pasca-opsen; (6) percepatan dan perluasan digitalisasi fiskal serta sistem pembayaran; dan (7) peningkatan produktivitas tenaga kerja dan kesejahteraan perdesaan.
Sementara Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menekankan pentingnya peran strategis Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Peran ini diwujudkan melalui penguatan kerja sama perdagangan dan investasi antar daerah, percepatan hilirisasi komoditas strategis, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif guna menjaga kesmambungan pertumbuhan ekonomi.
“Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Jawa Timur juga memegang peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan. Upaya tersebut didukung melalui hilirisasi lanjutan dari bahan baku olahan, penguatan distribusi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia,” kata Khofifah.
BI Jatim sebagai advisor pemerintah daerah terus memperkuat kolaborasi strategis, salah satunya melalui penyelenggaraan Jatim Talk bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISE) Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur bertema “Sinergi Penguatan Daya Sang Jawa Timur melalui Hilirisasi Komoditas Unggulan dan Iklim Investasi Berkelanjutan”, sekaligus menjadi bagian dari diseminasi LPP Jatim yang diterbitkan secara triwulanan. Kegiatan ini juga merupakan rangkalan menuju East Java Economic Forum (EJAVÊC) 2026 yang akan diselenggarakan pada September 2026.
Jatim Talk menjadi forum strategis untuk menyamakan persepsi dan langkah antar pemangku kepentingan dalam merespons dinamika ekonomi global, khususnya dampak konflik geopolitik. Diskusi menghadirkan berbagai narasumber, antara lam Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Ekonom Bank Mandiri, serta Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga.
Dari diskusi tersebut, mengemuka benang merah bahwa kondisi global saat ini berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian nasional maupun Jawa Timur. Namun demikian, peluang tetap terbuka melalui pemanfaatan sumber pertumbuhan baru, penguatan iklim investasi, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta dukungan kebijakan strategis yang terarah. (hap)












