
SURABAYA, PMP – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim menilai ekonomi syariah saat ini telah menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi yang menghubungkan nilai halal dan amanah dengan produktivitas serta aktivitas ekonomi yang inklusif.
“Ekonomi syariah hari ini bukan lagi sekadar sebuah potensi tetapi sudah menjadi ekosistem dan bahkan menjadi salah satu sumber kepentingan ekonomi yang semakin penting dan mampu menghubungkan nilai-nilai halal, amanah dengan produktivitas tinggi dengan aktivitas yang nyata,” kata Ibrahim dalam pembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Jawa 2026 di Grand City Mall Surabaya, Sabtu, (26/9).
Ibrahim menekankan ekonomi syariah harus didorong tidak hanya menjadi potensi tetapi juga berkembang sebagai ekosistem yang mampu memperkuat sektor riil, memperluas pembiayaan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Pulau Jawa memiliki modal kuat untuk mengembangkan ekonomi syariah karena ditopang basis industri serta usaha mikro, kecil, dan, menengah (UMKM) yang besar, pasar luas, serta jaringan pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang kuat,” katanya.
Tercatat ekonomi Jawa pada triwulan II 2026 tumbuh 5,65 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sehingga kawasan tersebut memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan halal value chain nasional, khususnya sektor makanan halal, modest fashion, dan halal tourism.
“Khusus Jawa Timur, potensi tersebut diperkuat dengan lebih dari 97 persen penduduk Muslim, lebih dari 7.000 pesantren, dan lebih dari 600 ribu santri,” imbuhnya.
Sejauh ini BI telah mendampingi 463 pondok pesantren dalam pengembangan unit usaha serta memfasilitasi sertifikasi halal bagi lebih dari 2.000 pelaku usaha dan lebih dari 270 juru sembelih halal.
Ibrahim mengatakan upaya lain yang dilakukan BI untuk mendukung dampak nyata ekonomi dan keuangan syariah adalah melalui penyelenggaraan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Jawa 2026 yang berlangsung pada 25–27 September di Surabaya.
Fesyar Jawa tahun ini diarahkan untuk beranjak dari sekadar ajang pameran menjadi platform yang menghasilkan dampak ekonomi secara langsung dan selaras dengan agenda pembangunan nasional.
“Tahun ini kita ingin melangkah lebih jauh dari showcase menuju pengembangan yang lebih impactful dengan dampak yang semakin inklusif dan selaras dengan agenda pengembangan nasional,” ujarnya.
Fesyar Jawa 2026 menghadirkan tiga program baru yakni Pasar Rakyat Halal Aman Sehat (RAHAS) dan penguatan Zona Halal Assurance System (HAS) untuk memperkuat rantai halal dan daya saing UMKM, pengembangan wakaf untuk manfaat pendidikan, serta innovative financing untuk mendukung penyediaan perumahan bagi guru madrasah dan pesantren.
Selain itu, rangkaian Fesyar mencakup 47 kegiatan melalui kolaborasi 294 lembaga dan mitra strategis serta business matching yang mempertemukan 203 UMKM dan unit usaha pesantren dengan lembaga keuangan syariah serta lebih dari 30 calon pembeli sehingga diharapkan membuka akses pembiayaan, pasar, dan jejaring usaha yang lebih luas.
Ibrahim menegaskan keberhasilan Fesyar Jawa 2026 nantinya tidak semata diukur dari jumlah kegiatan, melainkan dari dampak yang dihasilkan dalam memperkuat industri halal, memperluas pembiayaan syariah, mengoptimalkan wakaf produktif, serta mendorong UMKM dan pesantren naik kelas. (hap)












