EkbisHeadlineIndeksIndustri

Kuatkan Permodalan dan Investasi, Suparma Tak Bagikan Dividen Tunai Tahun Buku 2025

×

Kuatkan Permodalan dan Investasi, Suparma Tak Bagikan Dividen Tunai Tahun Buku 2025

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, PMP – Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan PT Suparma Tbk (SPMA), emiten industri kertas dan tisu memutuskan untuk tidak membagikan dividen tunai kepada para pemegang saham untuk tahun buku 2025. Keputusan ini diambil meskipun laba komprehensif tahun berjalan perseroan mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,6% menjadi Rp 104,8 miliar jika dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya.

Direktur PT Suparma Tbk, Hendro Luhur  mengatakan laba bersih yang tidak dibagikan sebagai dividen tunai, setelah dikurangi dana cadangan wajib sebesar Rp 20 miliar, akan dialokasikan untuk memperkuat struktur permodalan dan investasi.

“Fokus investasi tersebut mencakup peningkatan kapasitas mesin Refuse Derived Fuel (RDF) serta pembangunan mesin pendukung untuk Mesin Kertas No. 11 (PM 11),” papar Hendro Luhur pada paparan publik perseroan usai RUPS Tahunan di Surabaya, Selasa (30/6/2026).

Sebagai gantinya, perseroan memutuskan untuk membagikan dividen saham dengan jumlah sebanyak-banyaknya sebesar 1.230.095.230 lembar saham. Langkah ini merupakan bagian dari kapitalisasi saldo laba perusahaan yang mencapai nilai maksimal Rp 492.038.092.000.

Baca Juga :  Suparma Optimis Penuhi Target Penjualan Rp2,6 Triliun Akhir 2023

Hendro Luhur mengatakan, rasio pembagian dividen saham yang ditetapkan adalah 100:30. Hal ini berarti setiap pemegang 100 saham lama dengan nilai nominal Rp 400 per lembar akan memperoleh tambahan 30 saham baru dengan nilai nominal yang sama.

“Tujuan utama pembagian dividen saham ini adalah untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan. Dengan modal disetor yang lebih kuat, Suparma akan lebih mudah dalam memperoleh alternatif pendanaan di masa depan untuk mendukung pengembangan usaha,” katanya

Selain itu, kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas saham Suparma di pasar modal karena bertambahnya jumlah saham yang beredar. Penambahan jumlah saham ini secara teoritis akan menurunkan harga saham per lembar, sehingga membuka peluang bagi investor dengan modal terbatas untuk ikut bertransaksi.

Baca Juga :  Lewati Krisis Pandemi, Suparma Optimis Penjualan 2021 Capai Rp 2,5 Triliun

Terkait kinerja keuangan, Suparma membukukan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 0,41% menjadi Rp 2,74 triliun sepanjang tahun 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh naiknya kuantitas penjualan sebesar 2,5% yang mencapai 235,1 ribu metrik ton (MT), dengan kontribusi utama dari produk Kraft dan Duplex.

Perseroan juga berhasil mencatatkan peningkatan marjin laba kotor menjadi 15,9% pada tahun 2025 dari sebelumnya 15,1% di tahun 2024. Keberhasilan ini didukung oleh efisiensi di mana beban pokok penjualan mengalami penurunan tipis sebesar 0,45% di tengah kenaikan nilai penjualan.

Lima Bulan Pertama 2026

Sementara itu sepanjang lima bulan pertama tahun 2026, realisasi penjualan bersih Perseroan telah mencapai Rp 1,17 triliun. Angka tersebut setara dengan 39,1% dari total target tahunan yang telah dicanangkan perseroan.

Dari sisi operasional, kuantitas produksi kertas hingga Mei 2026 telah menyentuh angka 97.994 MT atau sekitar 39,2% dari target produksi setahun penuh sebesar 250.000 MT. Target produksi tahun 2026 ini sendiri tumbuh sebesar 10,7% dari target tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Cetak Pertumbuhan Laba 2022, Suparma Tak Bagikan Dividen Tunai

“Pada tahun 2026, Perseroan telah menetapkan target penjualan bersih yang optimis sebesar Rp 3 triliun. Target ini merepresentasikan kenaikan sebesar 7,1% dibandingkan dengan target penjualan yang ditetapkan pada tahun 2025,” ujar Hendro Luhur.

Sementara itu terkait investasi PM 11, Perseroan telah mengalokasikan anggaran belanja modal sebesar US$23 juta. Proyek ambisius ini mencakup pengadaan mesin utama, suku cadang, hingga pembangunan infrastruktur pendukungnya.

Hendro Luhur mengungkapkan bahwa perusahaan telah menandatangani kontrak pembelian mesin utama PM 11 dengan pemasok asal Finlandia senilai EUR6,35 juta. Investasi besar ini diproyeksikan akan meningkatkan kapasitas terpasang perusahaan secara signifikan, yakni sebesar 27.000 MT.

“Jika berjalan sesuai rencana, PM 11 ditargetkan dapat berproduksi secara komersial pada triwulan keempat tahun 2026,” pungkas Hendro Luhur. (hap)