
BANDUNG, PMP – Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Rifki Ismal menekankan pentingnya kedaulatan mata uang dalam menjaga kekuatan ekonomi nasional. Guna memperkuat Rupiah sebagai mata uang yang berdaulat di negara RI, kuncinya adalah kecintaan masyarakat terhadap produk lokal dan mata uang nasional.
“Inilah pentingnya makna kedaulatan mata uang bagi sebuah negara. Eksistensi suatu negara dianggap kuat jika dia punya mata uang sendiri. Kalau ada negara baru tidak punya mata uang yang diakui secara internasional, maka kedaulatannya dipertanyakan,” ujar Rizki.
Dalam forum Capacity Building Media Jatim 2026 di Bandung, pada Sabtu (14/2/2026), Rizki mengungkapkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih menjadi tantangan serius bagi perekonomian nasional karena berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Dalam satu dekade terakhir, kurs rupiah tercatat terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat, dari kisaran Rp10.000 per USD pada 2015 kini menjadi sekitar Rp16.000–Rp17.000 per USD pada 2025.
Tak hanya terhadap dolar AS, pelemahan rupiah juga terjadi terhadap mata uang regional. Pada November 2025, nilai tukar rupiah terhadap ringgit Malaysia menyentuh titik terendah sejak 2007, yakni di kisaran Rp4.011 hingga Rp4.048 per MYR. Angka ini melonjak cukup jauh dibandingkan awal tahun yang masih berada di level Rp3.400–Rp3.590 per MYR.
“Depresiasi tersebut mencerminkan pelemahan rupiah sekitar 11–15 persen terhadap ringgit Malaysia. Padahal, Malaysia merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia di Asia Tenggara, sehingga pergerakan kurs ini menjadi perhatian pelaku ekonomi dan otoritas moneter,” ungkapnya.
Padahal, keberadaan mata uang nasional merupakan simbol penting dari kedaulatan sebuah negara. Rizki mencontohkan sikap Inggris yang memilih mempertahankan mata uang poundsterling dan tidak bergabung menggunakan euro. Kebijakan tersebut, tidak semata-mata soal ekonomi, tetapi juga menyangkut identitas dan kebanggaan sebagai negara berdaulat.
Karenanya Rizki menilai mencintai dan menggunakan produk sendiri termasuk mata uang rupiah menjadi kunci dalam memperkuat rupiah.
Ketergantungan terhadap barang impor dapat ditekan sehingga mengurangi permintaan terhadap valuta asing yang pada akhirnya bisa menjaga kestabilan rupiah.
“Setiap kali impor meningkat, kebutuhan terhadap dolar atau mata uang asing ikut naik. Di situlah tekanan terhadap rupiah terus meningkat,” ungkapnya.
Rifki menegaskan, apabila masyarakat Indonesia semakin memprioritaskan konsumsi produk lokal, ketergantungan pada impor bisa ditekan. Dengan begitu, permintaan terhadap valuta asing berkurang dan stabilitas rupiah lebih terjaga.
Selain faktor domestik, tekanan eksternal, termasuk kebijakan proteksionisme sejumlah negara besar. Kebijakan tarif tinggi yang pernah diterapkan Amerika Serikat pada era kepemimpinan Donald Trump, misalnya, dinilai berpotensi menghambat ekspor Indonesia sehingga mengurangi penerimaan devisa negara.
“Jika ekspor terhambat, pasokan dolar berkurang. Ini bisa menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” jelasnya.
Rizki menilai langkah sederhana dengan memperkuat rasa bangga terhadap Indonesia yakni lebih memilih mengonsumsi produk dalam negeri dakan berdampak besar secara makroekonomi mulai dari memperkuat struktur ekonomi hingga menjaga ketahanan nilai tukar rupiah di tengah tekanan global. (hap)












