Agung Wiharto: Sejak Pak Jokowi Jadi Presiden, Konsumsi Semen Terus Naik

Mei 26, 2017

 

Agung Wiharto, corporate secretary PT Semen Indonesia (Persero) Tbk saat presentasi dalam diskusi di Gedung Rektorat ITS, Jumat (26/5/2017).

Surabaya, penamerahputih.com – Tren konsumsi semen secara nasional terus meningkat. Pembangunan infrastuktur yang menjadi program utama Presiden Jokowi terbukti ikut mendongkrak konsumsi semen secara nasional.

“Sejak tiga tahun lalu konsumsi semen terus meningkat,” kata Agung Wiharto, corporate secretary PT Semen Indonesia (Persero) TBK, seusai menjadi pembicara dalam forum diskusi ‘The Future of Cement Industries in Indonesia’, di Gedung Rektorat ITS, Jumat (26/5/2017).

Meski hanya menyedot 12 persen, namun pembangunan sarana infrastruktur terbukti menjadi pemicu dan multiflier effect buat pembangunan di sekitarnya. Dan kabar baiknya, sebagai pabrik semen BUMN, Semen Indonesia masih menguasai hampir 60 persen pasar semen di Pulau Jawa.

Lalu bagaimana kondisi paling mutakhir pabrik semen di Rembang yang tidak diizinkan menambang sesuai rekomendasi Tim KLHS? Bagaimana Semen Indonesia menyiasati agar pabrik Rembang senilai Rp 4,9 triliun bisa beroperasi? Berikut wawancaranya:

Bagaimana perkembangan pabrik semen Rembang milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk?

Pabrik semen Rembang sudah mulai beroperasi. Sebenarnya sudah sejak tahun lalu mulai operasi percobaan. Kita berharap bulan Juli sudah masuk komersial. Artinya barang yang dijual sudah masuk menjadi revenue.

Kalau sekarang, pabrik memang beroperasi tapi hasilnya masih dihitung termasuk proyek. Kalau komersial, nanti hasil penjualan masuk menjadi revenue atau pendapatan Semen Indonesia Grup.

Jika memang beroperasi, bukankah Semen Indonesia masih dilarang menambang sesuai hasil rekomendasi Tim KLHS?

Kami tidak mengambil bahan baku dari areal tambang di CAT (Cekungan Air Tanah Watuputih). Sebab hal itu sesuai hasil KLHS, meskipun secara legal tidak ada, kita tetap hormati. Mereka membuat keputusan, kami tidak boleh menambang sampai ada hasil penelitian lebih lanjut dari Kementerian ESDM.

Kementerian ESDM yang nantinya akan menentukan apakah areal penambangan milik Semen Indonesia layak ditambang atau tidak. Apakah areal pertambangan itu masuk dalam Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) atau tidak. Kita tetap  hormati meskipun data-data yang sudah ada mengatakan itu bukan KBAK.

Jadi bahan baku untuk operasi diambil dari mana?

Kita ambil dari Tuban. Kita ambil dari sekitar pabrik Rembang, tapi tidak diambil dari lahan tambang yang sekarang dilarang. Termasuk usulan Pak San Afri Awang selaku Ketua Tim KLHS, agar kami mengambil bahan baku dari sekitar. Terpenting jangan mengambil di atas CAT. Hal yang lebih penting lagi hasil rumusan tim pembahas, semua sepakat mendukung bahwa pabrik semen Rembang harus segera beroperasi.

Artinya ada peningkatan biaya produksi?

Ya pasti, meski kita tetap berupaya agar efisien. Kami mengambil bahan baku dari penambangan yang legal di sekitar kami. Semua pasti butuh ongkos operasi. Jadi pasti ada peningkatan. Tapi ini kan risiko yang harus kita ambil.

Pabrik semen Rembang milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Jadi pada Juli diharapkan produk sudah bisa dijual secara komersial?

Kita punya kapasitas produksi 14 juta ton per tahun di pabrik Tuban. Nantinya dari pabrik Rembang diharapkan ada tambahan 3 juta ton. Tapi untuk tahun ini, tambahan dari pabrik Rembang kita estimasi hanya 1 juta ton. Kan baru dimulai Juli atau awal semester II.

Apalagi pabrik baru tidak bisa langsung berproduksi sesuai kapasitas normalnya 3 juta ton. Biasanya di awal hanya 60 persen sampai 70 persen dari kapasitas. Kalau pertengahan tahun, anggap saja tambahan produksi 1,5 juta ton. Tapi kita ambil 70 persen atau sekitar 1 juta ton.

Bagaimana omset Semen Indonesia masuk triwulan kedua?

Inshaallah bagus. Omset bulan April meningkat sangat kuat. Penjualan April menutup tiga bulan pertama yang kurang bagus. Jadi penjualan Januari, Februari dan Maret terangkat oleh penjualan bulan April. Tapi ini siklus yang wajar karena Januari-Februari masih banyak turun hujan.

Kapan puncak penjualan setiap tahunnya?

Biasanya mulai tinggi di bulan Juli, Agustus, September dan Oktober. Jadi pada semester kedua. Biasanya penjualan mulai naik bulan April dan kemudian mencapai puncak pada September dan Oktober.

Bagaimana penjualan menjelang lebaran?

Penjualan di lebaran paling rendah sepanjang tahun. Sebab seminggu sebelum dan sesudah lebaran, truk-truk yang mengangkut semen tidak boleh lewat di jalan-jalan utama, misalnya jalur Pantura. Jadi sebenarnya itu konsumsi yang tertunda karena proses distribusi berhenti.

Bagaimana konsumsi semen di Pulau Jawa?

Jadi konsumsi semen di Pulau Jawa sekitar 56 persen dari total konsumsi semen nasional. Market share Semen Indonesia Group di Pulau Jawa sekitar 38 persen dan tertinggi di Pulau Jawa. Masih sesuai ekspektasi kami.

Bagaimana pengaruh pembangunan infrastruktur yang menjadi prioritas Presiden Jokowi terhadap konsumsi semen?

Sejak Pak Jokowi jadi presiden, konsumsi semen terus naik. Sejak tiga tahun lalu terus meningkat.

Benarkah seperti itu?

Lho itu riil, meski pembangunan infrastrutur hanya mengonsumsi 12 persen dari total konsumsi semen nasional. Pembangunan infrastrutur itu misalnya jalan TOL, pelabuhan, power plant, bendungan, atau jalur kereta api.

Nah, sebenarnya pembangunannya tidak banyak mengonsumsi semen karena hanya 12 persen. Tapi ingat, begitu jalan TOL selesai. Pembangunan di sekitar dan sepanjang jalan TOL meningkat drastis. Inilah yang menyebabkan naiknya kebutuhan semen. Menjadi semacam trigger. Pembangunan infrastruktur itu penting untuk multiflier effect.

Bagaimana tren pertumbuhan Semen Indonesia?

Tren pertumbuhan kami sama seperti pertumbuhan pasar semen nasional. Penjualan kami itu 25 persen semen curah untuk pembangunan infrastruktur dan proyek-proyek besar. Sementara 75 persen semen ritel. Kami sedikit lebih banyak di curah karena proyek-proyek pemerintah ambil dari kami.(sha)