Dihajar Corona Diselamatkan Pertamina, Perajin Kulit Jocce Siap Ekspansi

Oktober 26, 2020
Jocce TAS

Moch Ali Imron pemilik Jocce di Sentra Kerajinan Kulit Tanggulangin Sidoarjo, Jawa Timur.(hapsah)

Sidoarjo, pmp – Sejenak Moch Ali Imron (46) tertegun. Matanya menerawang menyapu deretan tas kulit yang dipajang berderet di etalase dinding showroom. Ditariknya nafas panjang demi melonggarkan rasa yang menggelegak di rongga dada. Setelah menghembuskan pelan semua udara yang memenuhi paru, dia pun berujar pelan.

“Saya mungkin sudah bangkrut kalau tidak dibantu Pertamina. Pesanan sembilan puluh lima ribu masker telah menyelamatkan usaha saya yang omsetnya menurun drastis dihajar pandemi virus corona,” kata Ali Imron, perajin kulit dan pemilik showroom Jocce di Sentra Kerajinan Kulit Tanggulangin Sidoarjo (TAS), Selasa (20/10/2020).

Jocce tak hanya menjual tas, tapi juga berbagai kerajinan kulit lainnya seperti gantungan kunci, dompet, ikat pinggang, jaket, atau topi. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp 50 ribu untuk gantungan kunci hingga tas Rp 4,5 juta.

Menurut Ali Imron, sejak awal tahun, terutama saat COVID-19 mulai menyerang, omset Jocce yang rata-rata berkisar Rp 400 juta – Rp 700 juta per tahun pun tergerus hingga 85%.

Pengunjung sepi. Jika sebelumnya pengunjung per hari rata-rata sekitar 30-50 orang dan meningkat 50-70 orang pada Sabtu dan Minggu, begitu pandemi merosot hingga hitungan satu jari tangan saja per hari. Belum lagi pesanan sepatu dari luar pulau dalam jumlah seribuan pasang yang sebelumnya rutin setiap tahun juga terhenti. Termasuk pesanan rutin tas sekitar 250 buah per bulan pun macet total akibat bisnis para rekanan juga terganggu.

Guna menyiasati kondisi yang menekan dan melihat kebutuhan masker yang melejit karena gencar disosialisasikan pemerintah, Ali Imron pun berinisiatif memproduksi masker kain. Dia kemudian menawarkan masker melalui media sosial, termasuk berbagai WA Group di mana dia menjadi anggota. Pesanan berapa pun yang diterima tetap dia kerjakan, asalkan usahanya tetap jalan dan ada pemasukan.

Keuletannya berbuah ketika pada bulan Mei atau saat puasa ramadhan, PT Pertamina (Persero) MOR (Marketing Operation Region) V wilayah Jatim, Bali, NTB dan NTT (Jatimbalinus) memesan 95.000 masker kain dan 200 alat pelindung diri senilai Rp 600 juta. Gairah kembali muncul, enam penjahit di workshop Jocce yang terbiasa menjahit bahan kulit, semua dikerahkan menjahit masker kain demi menyelesaikan pesanan yang datang.

“Alhamdulillah, Pertamina telah menyelamatkan saya, juga sembilan karyawan beserta keluarganya karena saya tidak sampai merumahkan mereka,” kata Ali Imron sembari tersenyum.

Selama ini enam perajin Jocce dan tiga penjaga showroom, rata-rata mendapat penghasilan sekitar Rp 3 juta per bulan. Tak hanya itu, mereka juga diikutsertakan BPJS Ketenagakerjaan. “Tiap bulan kami bayar preminya tanpa memotong gaji yang mereka terima,” kata pria kelahiran Tanggulangin itu.

Terkait pesanan masker kepada Jocce, menurut Rustam Aji, Unit Manager Communication, Relation & CSR Pertamina MOR V, merupakan kepedulian Pertamina menjaga keberlangsungan usaha para pelaku UMKM.

“Kami memesan APD dan masker kain dari UMKM mitra binaan Program CSR dan Program Kemitraan dengan harapan dapat membantu UMKM yang bisnisnya terdampak selama pandemi. Mereka secara tidak langsung juga kami libatkan berperan menanggulangi penyebaran COVID-19,” kata Rustam.

Jocce TAS

Sempat oleng di masa awal pandemi corona.(hapsah)

Babak Belur Lumpur Lapindo

Pandemi corona merupakan badai kedua yang memporakporandakan bisnis Ali Imron, setelah sebelumnya banjir lumpur Lapindo pada 29 Mei 2006. Zidane, nama usaha lamanya yang dirintis sejak 2002, babak belur terdampak Lapindo meski omset per tahunnya sudah sekitar Rp 300 juta – Rp 350 juta.

Banjir lumpur Lapindo juga telah membuat Sentra Kerajinan Kulit TAS kehilangan kunjungan para pembeli. Penyebabnya, beredar luas kabar di masyarakat bahwa kawasan TAS tergenang lumpur Lapindo. Meski faktanya, Sentra Kerajinan Kulit TAS justru aman, sementara TAS yang tergenang lumpur tak lain perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera yang juga disebut TAS oleh warga sekitar. Namun kabar hoax terlanjur viral dan masyarakat menganggap Sentra Kerajinan Kulit TAS terendam lumpur.

“Saat itu tak ada pembeli datang. Apalagi akses menuju ke sentra kulit ini juga sering macet parah akibat demo warga desa korban Lapindo yang menuntut ganti rugi,” ujarnya.

Untunglah, setelah mencari berbagai informasi, Ali Imron mencoba meminta bantuan ke Pertamina yang ternyata disambut hangat Pertamina MOR V. Dia dirangkul melalui Program Kemitraan untuk menjadi UMKM mitra binaan Pertamina pada tahun 2006, serta mendapat dana pinjaman Rp 10 juta dengan bunga sangat murah 0,5% per bulan yang diangsur selama tiga tahun.

Menandai momentum menjadi mitra binaan Pertamina dan menghapus luka Lapindo, Ali Imron mengubah nama usahanya dari Zidane menjadi Occe –sebelum lahir Jocce– karena terinspirasi pabrik kulit Ecco asal Denmark di kawasan Candi Sidoarjo yang dikenal peduli terhadap karyawan dan warga sekitar pabrik.

“Menjadi mitra binaan Pertamina bagi saya bukan hanya soal dana pinjaman bunga murah, tapi ada yang lebih penting yakni bantuan membuka pasar baru, juga berbagai pelatihan seperti mengurus keuangan perusahaan atau belajar seluk beluk ekspor,” kata santri alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri selama tujuh tahun itu.

Buenos Aires Fair 2011

Harapan membuka pasar baru terpenuhi karena setiap tahun Occe minimal empat kali diajak Pertamina ikut berbagai pameran di tingkat provinsi, nasional dan bahkan internasional. Melalui pameran itulah, produk Occe mulai dikenal banyak orang dan Ali Imron mulai memiliki banyak relasi bisnis dari berbagai daerah.

Contohnya saat mengikuti pameran di Makassar tahun 2010, stan Ali Imron disinggahi salah satu pimpinan anak perusahaan Semen Tonasa yang pabriknya terletak di Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Begitu melihat produk Occe, saat itu juga pimpinan tersebut memutuskan memesan 1.080 pasang sepatu untuk seluruh karyawan Semen Tonasa. Pesanan berlanjut  setiap tahun dan baru terhenti tahun ini akibat pandemi corona.

Tak hanya ikut pameran di dalam negeri, Pertamina bahkan pernah mengajak Ali Imron mengikuti pameran di Buenos Aires, ibu kota negara Argentina.

“Saya salah satu dari empat UMKM mitra binaan Pertamina yang diajak mengikuti pameran internasional handy craft atau kerajinan tangan Buenos Aires Fair 2011,” katanya dengan mata berbinar.

Jocce TAS

Ali Imron (lima dari kiri) bersama para pelaku UMKM yang menjadi duta Indonesia di ajang pameran internasional handy craft Buenos Aires Fair 2011.(dok pribadi)

Ali Imron membawa produk tas dan souvenir kulit di pameran yang berlangsung selama 12 hari, meski dagangannya ternyata sudah ludes di hari ketiga pameran. Hal lain yang menggembirakan, dia mendapat kenalan beberapa relasi luar negeri yang berminat dengan produk kulitnya.

“Saya senang dagangan cepat laku, sekaligus bangga karena produk khas Indonesia seperti kulit maupun batik laris manis. Teman saya UMKM batik Solo yang juga mitra binaan Pertamina, produknya juga ludes dalam tiga hari. Percaya atau tidak, dua baju batik yang sudah saya pakai juga laku dijual setelah dicuci karena batik dagangan teman sudah habis. Hahaha…,” katanya tergelak.

Pelajaran lain yang dia dapat saat mengikuti pameran di Argentina adalah pentingnya belajar bahasa asing. Ali Imron terpaksa membuka kamus bahasa Spanyol agar dapat berkomunikasi sederhana dengan pengunjung pameran.

“Saya minimal menjadi tahu bahwa kata halo dalam bahasa Spanyol yang dipakai orang Argentina, berubah menjadi hola,” ujar bapak dua puteri itu,

Sementara dari hasil pelatihan ekspor yang digelar Pertamina dan diikutinya di tahun 2018, Ali Imron mengaku bisa mengekspor gantungan kunci ke Jepang dan goody bag ke Australia.

Ekspansi Buka Cabang

Menurut Ali Imron yang telah membantu ibunya berdagang di pasar sejak SMP itu, Occe telah menjadi mitra binaan Pertamina selama tiga periode. Setiap periode berlangsung tiga tahun, yakni 2006-2009 dengan dana Rp 10 juta, 2009-2012 dana Rp 40 juta dan 2012-2015 senilai Rp 75 juta.

Kabar baiknya, omset Occe per tahun pun terus tumbuh, mulai kisaran Rp 300 juta – Rp 450 juta sejak 2006, kemudian Rp 350 juta – Rp 500 juta sejak 2010, hingga Rp 400 juta – Rp 700 juta sejak 2015.

Setelah tiga periode dilalui dengan gemilang, pada tahun 2015 Ali Imron membuka usaha baru sejenis atas nama isterinya Chaulah yang diberi nama Jocce alias Bojone Occe.

Jocce yang juga menjadi mitra binaan Pertamina, bahkan lebih melesat, bisa mengembangkan sayap dengan membuka cabang di Java Mall Semarang.

Selain itu ikut berjualan di gerai duty free shop Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta Tangerang, berkat Program Sinergi BUMN antara Pertamina dengan PT Angkasa Pura II (Persero) yang memberi tempat para UMKM memasarkan produk khas Indonesia di terminal internasional, di mana banyak warga negara asing mendarat atau transit.

Jocce TAS

Berkat menjadi mitra binaan Pertamina mengikuti berbagai pameran di dalam negeri dan menjadi nara sumber media.(dok pribadi)

Kini sebagai strategi di saat masih pandemi corona, pada tahun depan Ali Imron dan Chaulah berencana ekspansi dengan membuka satu cabang guna membuka pasar baru agar produk yang terjual bertambah. Pilihannya antara sentra UMKM Tajur di Bogor yang merupakan tempat wisata dan dekat Ibu Kota Jakarta, atau Garut yang juga dekat dengan daerah wisata.

“Membuka cabang itu investasinya sekitar Rp 350 juta, di mana Rp 200 juta merupakan dana pinjaman Pertamina,” katanya.

Ali Imron mengaku tak bakal melupakan jasa besar Pertamina dan seluruh jajaran Pertamina MOR V yang selama ini aktif mendampinginya dalam menggulirkan bisnis sejak merintis, berkembang, maju, atau bahkan ketika kembali oleng dihajar pandemi corona.

“Semoga ke depan semakin banyak pelaku UMKM seperti saya yang dirangkul Pertamina agar bisa ikut memulihkan, mendorong dan memajukan perekonomian Indonesia,” harapnya.

Rp 580 Miliar 1.141 UMKM

Harapan Ali Imron tampaknya tak sekadar menggantang asap. Secara nasional selama masa pandemi corona, PT Pertamina (Persero) telah merangkul 1.141 UMKM mitra binaan baru di seluruh Indonesia yang ditargetkan diberi bantuan modal usaha senilai total Rp 580 miliar.

“Jadi sampai dengan bulan Agustus (2020), kita sudah mencatatkan sebesar 1.141 mitra binaan baru. Kita harapkan ke depan, mitra binaan yang bisa kita masukkan sebagai mitra binaan Pertamina terus bertambah. Khusus di masa pandemi ini, kami berharap suntikan modal bantuan bisa memperpanjang napas mereka,” kata Tajudin Noor, Corporate Secretary Pertamina, pada press conference secara daring SMEXPO, Selasa (8/9/2020).

Sementara itu, Pertamina MOR V selama hampir 10 bulan di tahun 2020, telah menyalurkan Rp 14 miliar bagi 191 UMKM mitra binaan mereka di empat provinsi yang kesulitan di masa pandemi.

“Pada tahun ini hingga Oktober 2020, Pertamina MOR V telah menyalurkan bantuan permodalan sebesar lebih dari Rp 14 miliar kepada 191 mitra binaan untuk pengembangan UMKM yang tersebar di empat provinsi wilayah MOR,” kata CD Sasongko, Executive General Manager Pertamina MOR V, di Surabaya, Senin (19/10/2020).

Bahkan pada Senin itu, Pertamina MOR V kembali menyalurkan bantuan modal senilai Rp 2,135 miliar bagi 25 UMKM mitra binaan di wilayah Jatimbalinus.

Jocce TAS

CD Sasongko, Executive General Manager Pertamina MOR V menyerahkan bantuan modal bagi 25 UMKM mitra binaan wilayah Jatimbalinus, di Surabaya, Senin, 19 Oktober 2020.(Humas Pertamina)

Bantuan permodalan bagi UMKM tentu saja merupakan komitmen Pertamina menjalankan Program Kemitraan, sekaligus mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional atau PEN yang diluncurkan Presiden Joko Widodo pada Kamis, 23 Juli 2020.

Melalui Program PEN, pemerintah menyalurkan dana bergulir senilai Rp 1 triliun melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) kepada koperasi dan selanjutnya kepada UMKM di seluruh Indonesia.

Presiden Jokowi meminta agar proses peminjaman dana oleh para UMKM prosesnya sederhana sehingga bisa berjalan cepat.

“Ini (dana Rp 1 triliun) segera berikan kepada koperasi-koperasi yang baik, agar koperasi juga segera memberikan kepada anggota-anggotanya para pelaku UMKM,” kata Presiden Jokowi saat peluncuran PEN melalui video yang diunggah di kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Sementara secara regional, bantuan modal bagi UMKM mitra binaan dari Pertamina MOR V tentunya juga sangat mendukung kebijakan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa yang terus berupaya keras menjaga kesinambungan bisnis para UMKM di wilayahnya.

Menurut Gubernur Khofifah, Jawa Timur memiliki 9,78 juta UMKM di mana 1,3 juta UMKM sudah mengajukan bantuan hibah PEN dari Bantuan Presiden Produktif Usaha Mikro (Banpres PUM).

“Kuota Jatim semula 1,8 juta UMKM. Saat rapat terbatas, saya sampaikan ke Presiden Jokowi bahwa kontribusi UMKM di Jatim 54% dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), maka saya minta tambahan kuota menjadi 2 juta. Beliau (Jokowi) bilang, tolong sampaikan surat langsung dan ditembuskan kepada Menteri UMKM,” papar Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, awal September lalu.

Sejatinya selain ikut menyelamatkan roda bisnis para UMKM di masa pendemi corona saat ini, menurut CD Sasongko, Program Kemitraan Pertamina bertujuan meningkatkan kemampuan UMKM agar menjadi tangguh dan mandiri.

“Sehingga UMKM mitra binaan kami sanggup memberi multiplier effect bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tegas Sasongko.

Pada akhirnya, sebagaimana harapan Ali Imron, semoga semakin banyak UMKM mitra binaan Pertamina yang menjadi tangguh demi memulihkan, mendorong dan memajukan perekonomian di negeri tercinta ini.(siti hapsah agustin)

Baca juga: