PenaMerahPutih.com
HeadlineIndeksSehat CantikTren

Penderita Hipertensi 90% Tidak Diketahui Penyebabnya, Dokter: Cek Tekanan Darah Secara Teratur

Ketua PDUI Jawa Timur dr Ade Armada Sutedja dalam simposium yang digelar Omron Healthcare Indonesia di Surabaya, Sabtu (18/5/2024).

Surabaya, PMP – Tantangan utama di Indonesia dalam menekan prevalensi penyakit kardiovaskular dan cerebrovascular seperti serangan jantung dan stroke yang berada di urutan atas dalam daftar penyebab kematian utama di Indonesia, adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemantauan tekanan darah secara teratur.

Sementara hampir 90% penderita hipertensi primer tidak diketahui penyebabnya, hanya 10% saja yang diketahui penyebabnya sebagai hipertensi sekunder dengan penyakit bawaan.

“Ada banyak faktor resiko penyebab hipertensi yang dapat dicegah, seperti kebiasaan merokok, diabetes, kelebihan berat badan atau obesitas, jarangnya melakukan aktivitas fisik, konsumsi garam berlebihan, serta konsumsi alkohol. Melakukan pola modifikasi gaya hidup dengan rutin dapat mengurangi hingga 15% kejadian komplikasi pada hipertensi,” ungkap dr  Ade Armada Sutedja Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia  (PDUI) Jawa Timur dalam simposium yang digelar Omron Healthcare Indonesia di Surabaya, Sabtu (18/5/2024).

Ade menjelaskan hipertensi dapat dicegah dengan menerapkan gaya hidup yang sehat seperti menjaga asupan makanan dan minuman, rutin berolahraga, serta menghindari pemicu stress serta deteksi dini dengan pengukuran tekanan darah berkala meskipun tanpa ada keluhan.

Jika sudah terlanjur mengalami hipertensi, lanjut Ade, seseorang tetap dapat menjaga kualitas hidup dan harapan hidupnya dengan baik dengan menjalani pengobatan yang teratur dan mengukur tekanan darah secara berkala.

Baca Juga :   Gubernur Khofifah Resmikan Mayapada Hospital Surabaya

“Salah satu langkah pencegahan yang sederhana namun efektif adalah memiliki alat ukur tekanan darah di rumah yang mudah dioperasionalkan sewaktu waktu dan akurat serta  berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat jika tekanan darah di luar batas normal,” katanya.

Di Indonesia, diagnosis hipertensi masih sangat rendah. Laporan WHO  menyatakan tingkat diagnosis hipertensi di Indonesia hanya 36%, lebih rendah dibandingkan Vietnam 47% dan India 37%.

Disebut sebagai silent killer #1 di dunia, sebanyak 15,5 juta kasus penyakit jantung terjadi di Indonesia pada 2022, meningkat dari 12,93 juta kasus pada 2021,  mengakibatkan 245.343 kematian akibat penyakit jantung koroner dan 50.620 kematian akibat penyakit jantung hipertensi tiap tahun.

Tekanan darah tinggi juga merupakan faktor risiko utama untuk stroke. Berada di urutan teratas sebagai penyebab disabilitas di dunia , stroke juga tercatat sebagai penyebab kematian utama di Indonesia, dengan peningkatan dari 1,99 juta kasus pada tahun 2021 menjadi 2,54 kasus pada tahun 2022.

Baca Juga :   Entrasol Dukung Gerakan Nasional Melawan Osteoporosis
Tomoaki Watanabe, Direktur Omron Healthcare Indonesia (kanan) menyerahkan secara simbolis 500 alat tensi digital kepada dr Ade Armada Sutedja Ketua PDUI Jawa Timur

Salah satu langkah nyata dalam menekan prevalensi serangan jantung dan stroke, Omron Healthcare Indonesia secara aktif menjalankan kampanye mengajak orang-orang yang berisiko tinggi untuk memantau tekanan darah mereka secara rutin di rumah melalui simposium bertajuk “Heart Health: Keeping Your Cardiovascular Well-being in Check” yang dihadiri oleh 100 dokter umum dari berbagai kota di Jawa Timur.

Hari ini di Surabaya, dalam memperingati Hari Hipertensi Sedunia 17 Mei 2024, Omron Healthcare Indonesia mendonasikan 500 alat tensi digital kepada dokter umum dan klinik di Jawa Timur, bekerjasama dengan PDUI Jawa Timur. Donasi alat tensi digital ini diharapkan akan semakin meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Jawa Timur, terutama untuk penanggulangan hipertensi dan stroke.

“Dengan pemantauan rutin dan pengobatan, serta berbagi data yang lebih komprehensif dengan penyedia layanan kesehatan akan memastikan perawatan hipertensi yang lebih baik,” tutur Tomoaki Watanabe, Direktur Omron Healthcare Indonesia.

Tomoaki menekankan pentingnya penderita hipertensi mendapatkan kemudahan akses pada alat ukur tensi yang akurat dan tersertifikasi. Berdasarkan survei yang dilakukan Omron Healthcare Indonesia, hanya sedikit orang yang menyadari pentingnya memonitor tekanan darah mereka sendiri di rumah, sehingga mereka sering kali hanya memeriksakan tekanan darah saat berkunjung ke fasilitas kesehatan.

Baca Juga :   Makan Keju Tak Meningkatkan Risiko Kematian Akibat Serangan Jantung dan Stroke

“Hanya 8% pasien hipertensi  direkomendasikan alat ukur tensi mandiri oleh dokter umum,” katanya.

Sementara itu untuk mendeteksi gangguan jantung, OMRON telah mengembangkan OMRON Complete, monitor tekanan darah lengan atas dengan teknologi EKG built-in yang dapat mengukur tekanan darah dan EKG secara bersamaan. Dengan kemampuan mengukur kedua faktor risiko stroke dalam satu alat akan memudahkan mereka yang mengalami AFib untuk melacak kondisi mereka dan mengetahui kapan harus mencari pengobatan.

Sedangkan untuk stroke, masyarakat bisa mulai memeriksa risiko mereka terkena stroke dengan memanfaatkan Stroke Risk Calculator di aplikasi OMRON Connect.

Dengan menjawab 20 pertanyaan yang telah teruji secara ilmiah dalam waktu hanya 3 menit, masyarakat berusia 20-90 tahun dapat memperoleh informasi mengenai tingkat risiko stroke mereka dalam 5-10 tahun ke depan.

“Kalkulator ini dikembangkan oleh Auckland University of Technology, Selandia Baru, dengan bantuan lebih dari 300 ahli stroke terkemuka dari 102 negara,” kata Eunice Teo, Product Manager, Cardiovascular & Respiratory OMRON Healthcare Singapore. (nas)