
SURABAYA, PMP – Hobinya membaca sedari kecil mendorong Caitlin Gabrielle Alim, remaja 13 tahun, siswi Singapore National Academy di Surabaya, menginisiasi Gerakan Sejuta Buku, sebuah aksi yang bertujuan membantu anak-anak bisa mendapatkan akses buku yang lebih luas serta mendapat kesempatan belajar sejak dini.
Aksi perdana Gerakan Sejuta Buku ini diwujudkan melalui pengumpulan 800 buku yang kemudian didonasikan ke Panti Asuhan Don Bosco, Sekolah Dasar Don Bosco dan SD Katolik Santo Vincentius 1 Surabaya pada Senin (27/4/2026).
“Sejak kecil aku memang suka membaca. Saat pandemi, waktu itu umur 8 tahun, aku membuat channel YouTube @athomewithcaitlin berisi storytelling untuk anak-anak. Lalu umur 10 tahun, aku mulai menulis novel. Dari situ aku sadar kalau buku memang sudah jadi bagian penting dalam hidupku,” kata Caitlin
Remaja yang bercita-cita jadi penulis ini mengaku merasa sayang saat melihat banyak buku yang setelah dibaca sekali kemudian hanya diam di rak.
“Dari situ muncul ide, kenapa satu buku tidak terus berpindah tangan, dari satu orang ke orang lain, dari satu kota ke kota lain. Apalagi aku melihat tidak semua anak punya akses yang sama ke buku. Banyak yang bahkan tidak punya buku untuk dibaca. Dari situ aku merasa ingin melakukan sesuatu. Akhirnya kubikin Gerakan Sejuta Buku ini,” kata putri pertama pasangan Ivi Santoso dan Irwanto Alim.
Buku yang dikumpulkan mulai dari koleksi pribadi, dari teman dan saudara, juga organisasi pembuat buku anak-anak yang menyambut baik Gerakan Sejuta BUku ini dan ikut mendonasikan.
“Alhasil dalam beberapa bulan, aku berhasil mengumpulkan lebih dari 800 buku. Dari situ aku sadar, yang awalnya hanya untuk donasi sederhana, sepertinya berpotensi untuk berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar,” katanya.
Bagi Caitlin gerakan ini penting mengingat masih banyak anak yang belum punya cukup buku untuk belajar. Padahal, membaca itu dasar dari semua pelajaran. Dengan akses buku yang lebih baik, mereka bisa belajar lebih banyak dan punya lebih banyak pilihan di masa depan.
Dalam pengumpulan buku, program ini menyesuaikan buku dengan usia dan minat anak-anak sehingga lebih relevan dan bisan dinikmati. Kemudian akan diadakan beberapa sesi pengajaran untuk menumbuhkan minat baca yang disesuaikan dengan topik yang mereka suka dan yang ingin mereka pelajari.
“Pendekatan ini dilakukan agar bagi anak-anak membaca terasa menyenangkan, bukan kewajiban. Perasaan senang menumbuhkan kemampuan dan rasa percaya diri mereka,” imbuhnya.

Dalam pendistribusian buku akan disalurkan ke sekolah yang membutuhkan melalui kerja sama dengan komunitas lokal atau relawan melalui seleksi supaya penyalurannya tepat sasaran.
“Jadi setiap anak akan diperbolehkan meminjam satu buku. Setelah selesai, mereka bisa mengembalikan buku tersebut dan menukarnya dengan buku lain. Sistem ini dibuat supaya lebih banyak anak bisa merasakan manfaat dari buku yang sama. Selain itu, ini juga mengajarkan tanggung jawab dan kebiasaan membaca secara berkelanjutan,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SDK Santo Vincentius 1 Surabaya Drs Kukuh Riyanto M.Pd mengapresiasi gerakan yang dilakukan Caitlin tersebut.
“Remaja seusia Caitlin sudah memiliki pikiran untuk berbuat sesuatu yang positif kepada anak-anak. Padahal kebanyakan anak seusia Caitlin ini disibukkan dengan gadget. Inilah yang ptut diapresiasi,” kata Kukuh.
Tak hanya itu lanjut Kukuh, Caitlin akan memprogramkan untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak lain agar fasih berbicara dan menumbuhkan rasa percaya diri mereka,
“Nah ini menjadi terobosan yang baik, kepeduliannya mendampingi anak-anak di era sekarang, itu sangat baik. Juga buku banyak buku cerita yang dibagikan sehingga bisa menambah kosakata anak-anak,” kata Kukuh. (hap)












