EkbisHeadlineIndeksMakro

Ekspansi Kredit Lebih Berhati-Hati Hadapi Tekanan Inflasi di Jatim Awal 2026

×

Ekspansi Kredit Lebih Berhati-Hati Hadapi Tekanan Inflasi di Jatim Awal 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi – Kepala OJK Jatim Yunita Linda Sari dalam Temu Media, di Surabaya, Rabu (19/11/2025). Humas OJK Jatim

SURABAYA, PMP – Kinerja intermediasi perbankan di Jawa Timur pada Februari 2026 tetap menunjukkan kondisi yang terjaga, meskipun pertumbuhan kredit cenderung melambat dan bank masih menerapkan penyaluran pembiayaan secara selektif.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Jawa Timur, Yunita Linda Sari menyampaikan kredit perbankan tercatat sebesar Rp620.090 miliar, tumbuh 1,97 persen (year on year/yoy). Pertumbuhan ini sedikit lebih tinggi dibanding posisi Desember 2025 (1,90 persen yoy), namun masih jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2024 (8,62 persen yoy). Secara tahunan berjalan, kredit tercatat terkontraksi -0,89 persen (ytd), yang menunjukkan adanya penyesuaian penyaluran kredit pada awal tahun.

“Kondisi ini mengindikasikan bahwa dunia usaha dan rumah tangga di Jawa Timur masih melakukan penyesuaian terhadap tingkat suku bunga, permintaan domestik, serta ketidakpastian ekonomi global, sehingga ekspansi kredit berlangsung lebih berhati-hati,” kata Yunita Linda Sari dalam keterangan resmi, Senin (25/5/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, perkembangan inflasi menunjukkan adanya peningkatan tekanan pada awal tahun 2026. Inflasi Jawa Timur pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,88 persen (yoy), meningkat signifikan dibandingkan inflasi akhir tahun 2025 yang masih berada pada kisaran 2,93 persen (yoy). Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas pangan strategis, tarif energi, serta komoditas nonpangan seperti emas perhiasan.

Baca Juga :  OJK Gelar Evaluasi Kinerja BPR/BPRS Se-Jawa Timur 2022

Namun demikian, pada Maret 2026 inflasi Jawa Timur tercatat mulai melandai menjadi sebesar 3,79 persen (yoy), meskipun masih berada di atas titik tengah sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 ± 1 persen. Secara bulanan, inflasi Maret 2026 tetap terjadi seiring meningkatnya permintaan masyarakat selama periode Ramadan, khususnya pada kelompok makanan, minuman, dan transportasi.

Tekanan inflasi pada awal tahun 2026 terutama bersumber dari komoditas pangan bergejolak (volatile food), seperti cabai dan daging, serta komponen administered prices dan komoditas dengan bobot besar seperti emas. Selain itu, peningkatan mobilitas masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional turut mendorong inflasi pada kelompok transportasi.

“Namun demikian di tengah kondisi tersebut, sektor jasa keuangan di Jawa Timur tetap mampu menjalankan fungsi intermediasi secara optimal dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha. Hal ini menjadi penting mengingat meningkatnya tekanan inflasi pada awal tahun 2026 yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi secara umum,” tandas Yunita Linda Sari.

Baca Juga :  OJK Dukung Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan 1.000 Guru Jatim

Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat menjadi Rp830.757 miliar dengan pertumbuhan 4,19 persen (yoy). Pertumbuhan DPK ini lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 (3,50 persen yoy), menandakan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap perbankan tetap kuat dan penghimpunan dana berjalan baik. Secara ytd, DPK tumbuh 1,61 persen, lebih tinggi dibandingkan Februari 2025 (0,94 persen ytd), sehingga memberikan ruang likuiditas yang lebih longgar bagi perbankan.

Sejalan dengan itu, rasio LDR/FDR tercatat 74,64 persen, turun dari 76,52 persen pada Desember 2025. Penurunan rasio ini menunjukkan bahwa pertumbuhan dana yang dihimpun lebih cepat dibandingkan penyaluran kredit, sehingga ruang ekspansi kredit ke depan masih tersedia.

Dari sisi profil risiko, kualitas kredit masih dalam batas terjaga, meskipun terdapat tren kenaikan rasio kredit bermasalah. Rasio NPL Gross meningkat menjadi 3,63 persen (dari 3,37 persen pada Desember 2025), sementara NPL Net naik menjadi 1,57 persen (dari 1,47 persen).

“Kenaikan ini mencerminkan proses normalisasi kualitas kredit pasca-restrukturisasi serta tekanan pada beberapa sektor usaha tertentu, namun secara umum masih berada pada level yang dapat dikelola oleh industri perbankan,” kata Yunita.

Baca Juga :  Chief Economist IEI Sunarsip : Potensi Jawa Timur dan Bank Daerah Berperan Besar Terhadap Ekonomi Nasional

Likuiditas perbankan tetap berada pada level yang memadai. Rasio AL/DPK tercatat 26,63 persen dan AL/NCD sebesar 119,78 persen, keduanya jauh di atas ambang batas ketentuan (masing-masing 10 persen dan 50 persen). Meskipun AL/DPK sedikit menurun dibanding Desember 2025 (26,74 persen), posisi ini tetap menunjukkan kemampuan bank yang kuat dalam memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek.

Di sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan di Jawa Timur tercatat 30,48 persen pada Februari 2026. Meskipun sedikit menurun dibanding Desember 2025 (31,38 persen), level CAR masih sangat tinggi dan mencerminkan struktur permodalan yang kuat untuk menyerap risiko serta mendukung ekspansi bisnis ke depan.

Yunita menilai secara keseluruhan, kondisi perbankan Jawa Timur pada Februari 2026 menunjukkan intermediasi yang tetap berjalan, likuiditas yang memadai, dan permodalan yang kuat, meskipun pertumbuhan kredit masih terbatas dan risiko kredit perlu terus dicermati.

“Hal ini menegaskan bahwa perbankan di Jawa Timur masih berada dalam kondisi stabil, dengan ruang yang cukup untuk mendorong pembiayaan secara lebih optimal seiring membaiknya permintaan kredit dan kondisi ekonomi regional,” pungkas Yunita. (hap)