Peduli SDM di Rembang, Akademi Komunitas Semen Indonesia Serap 121 Mahasiwa Lokal

Oktober 29, 2017

Mahasiswa AKSI Rembang bersama Bupati Rembang Abdul Hafidz saat orientasi mahasiswa baru angkatan pertama tahun ajaran 2017-2018. (dok AKSI Rembang)

Rembang, pmp –  PT Semen Indonesia (Persero) Tbk memang belum bisa mulai menambang di Rembang. Namun mereka telah menunjukkan kepedulian terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal dengan mendirikan lembaga pendidikan tinggi setara D-2 yang diberi nama Akademi Komunitas Semen Indonesia (AKSI) Rembang.

AKSI Rembang telah mendapat izin dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada 4 Mei 2017. Saat ini, sebanyak 121 mahasiswa mengenyam pendidikan di AKSI Rembang sebagai mahasiswa angkatan pertama pada tahun ajaran 2017-2018.

“Mayoritas mahasiswa kami asli Rembang. Mahasiswa asal Pati hanya 1 orang, Blora 1 orang dan Grobogan 1 orang,” kata Moh Sugihariyadi SPd MM, Direktur AKSI Rembang, pada Sabtu (28/10/207).

Menurut Sugihariyadi, konsep pendidikan AKSI Rembang adalah pendidikan vokasi yang menghasilkan SDM dengan keahlian terapan khusus untuk mengisi kebutuhan industri yang saat ini mulai tumbuh di Rembang. Ada tiga program studi yang dibuka, yakni Otomasi Perkantoran (OPK), Teknik Operasi Mesin (TOM) dan Perawatan Mesin (PTM).

AKSI Rembang sejatinya merupakan komitmen PTSI dan anak perusahaannya PT Semen Gresik (PTSG) dalam mendukung program Bupati Rembang Abdul Hafidz untuk mengurangi jumlah pengangguran dan menurunkan angka kemiskinan di daerahnya.

Baca juga : Dituding Bakal Rusak Lingkungan, Pabrik Semen Rembang Buktikan Peduli Hutan

“Menurunkan angka kemiskinan tentu dengan mendatangkan investor untuk berinvestasi. Nah, agar masyarakat bisa berpartisipasi dengan menjadi tenaga kerja terampil di perusahaan-perusahaan yang bakal bermunculan, maka solusinya adalah mempersiapkan SDM melalui pendidikan vokasi,” papar Sugihariyadi.

Biaya pendidikan di AKSI Rembang relatif terjangkau yakni seklitar Rp 500 ribu per bulan atau Rp 3 juta per semester dan ditempuh selama 2 tahun. “Kami tidak ada biaya gedung, biaya ujian semester atau biaya lain-lainnya,” kata Sugihariyadi.

Bahkan beberapa waktu lalu, PTSG melalui program CSR (corporate social responsibilty) telah memberikan beasiswa kepada 25 mahasiswa AKSI Rembang. Masing-masing mahasiswa menerima Rp 5 juta.

Sutiyoso, Komisaris Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (tiga dari kanan) saat mengunjungi kampus AKSI Rembang. (dok Aksi Rembang)

Rembang Minim Pendidikan Tinggi

Bupati Rembang Abdul Hafidz mengungkapkan bahwa kehadiran lembaga pendidikan tinggi sangat dibutuhkan masyarakat Rembang guna meningkatkan kualitas SDM. Naiknya kualitas SDM tentu bakal berimbas pada percepatan kemajuan daerah.

“Kami sudah siapkan lahan seluas lima hektare yang sudah dihibahkan setahun lalu. Diminta membuat gedung perkuliahan pun kami siap. Apalagi ada Semen Indonesia di Rembang,” kata Bupati Hafidz saat peresmian AKSI Rembang.

Menurut Bupati, sebelum berdiri AKSI Rembang, hanya ada satu pendidikan tinggi di Rembang yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) yang berdiri tahun 2000. Oleh sebab itu, Rembang memerlukan banyak perguruan tinggi.

“Makanya kami punya keinginan di Rembang ada lembaga pendidikan vokasi yang membidik keterampilan,” tegas Bupati.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti – Kemenristek Dikti Patdono Suwignjo mengatakan, keberadaan Akademi Komunitas sangat membantu pemerintah dalam mengurangi jumlah pengangguran untuk menggenjot potensi daerah.

“Setiap lulusan yang dihasilkan Akademi Komunitas harus siap kerja. Sebab sejalan dengan target pemerintah pada 2019 tidak boleh ada lulusan Akademi Komunitas yang masih menganggur,” katanya.

Saat ini, pihak AKSI Rembang telah mendapatkan komitmen dari sejumlah perusahaan untuk menerima lulusannya. Selain PTSI dan seluruh anak perusahaannya, perusahaan lain yang menyatakan minat adalah BUMD PT Rembang Migas dan Bank Jateng.(bhimo)