Michael Jackson dan Didi Kempot di Angklung’s Day Bandung

November 25, 2019

Para Neng Geulis peserta Angklung’s Day 2019. (Tribunjabar/Gani Kurniawan)

Bandung, PMP – Alunan  bunyi angklung mampu menembus sekat-sekat dunia. Nada yang dihasilkan alat musik dari bambu itu ternyata sanggup melantunkan berbagai lagu di belahan bumi. Angklung’s Day 2019 yang digelar di Gedung Sate, diwarnai lagu beken ‘We Are The World’ Michael Jackson dan lagu campur sari ‘Perahu Layar’ yang dipopulerkan Didi Kempot.

Sebanyak 6.000 orang, mulai dari murid SD, SMP, SMA, mahasiswa, hingga anggota komunitas di Bandung dan sekitarnya, semuanya memegang angklung dan serempak menggetarkannya mengikuti komando seorang konduktor.  Mereka memeriahkan Angklung’s Day atau Peringatan Hari Angklung Sedunia yang digelar di halaman Gedung Sate, Minggu (24/11/2019).

Rangkaian lagu-lagu Nusantara ditampilkan di awal. Mulai dari  ‘Alusiau’ dari Sumatera Utara, ‘Peuyeum Bandung’ dari Jawa Barat, hingga ‘Yamko Rambe Yamko’ dari Papua. Ditutup lagu campursari Jawa ‘Perahu Layar’ yang menjadi seronok karena seluruh pemain berjoget selaras alunannya.

Pada rangkain kedua, mereka membawakan lagu-lagu mancanegara. Mulai ‘Shosholoza’ dari Afrika Selatan, ‘Besame Mucho’ Spanyol, ‘Kojo No Tsuki’ Jepang, ‘Waltzing Matilda’ Slim Dusty, serta ‘We Are the World’. Suasana terlihat dramatis karena mayoritas peserta memakai stiker berbagai bendera negara di pipi mereka.

Pada 18 November 2010, UNESCO – organisasi PBB yang membawahi bidang Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan – menetapkan angklung sebagai warisan budaya dunia. Angkulng’s Day 2019 diselenggarakan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung didukung Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemprov Jabar.

“Kali ini yang hadir seluruhnya dari 133 grup dengan peserta sekitar 6.000 orang,” kata Juju, Lektor Kepala Departemen Pendidikan Seni Tari pada Pendidikan Seni dan Desain, UPI.

Sementara Daud Ahmad, Pj Sekda Provinsi Jabar yang membacakan sambutan Gubernur Ridwan Kamil mengatakan, Angklung’s Day digelar setiap tahun untuk meningkatkan kecintaan dan kepedulian masyarakat agar menjaga kelestarian alat musik tradisional asal Jawa Barat ini. Seorang bocah bahkan mengaku sangat ingin ikut memperkenalkan angklung dengan memainkannya di luar negeri.(hps)