PenaMerahPutih.com
Ekbis Headline Indeks Industri

Utang Garuda Tembus Rp 31,9 Triliun, Pendapatan Turun 90 Persen

Garuda Indonesia
Pendapatan Garuda Indonesia turun 90 persen. (garuda-indonesia.com)

Jakarta, PMP – Utang maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) per 1 Juli mencapai sekitar US$ 2,2 miliar atau sekitar Rp 31,9 triliun. Pendapatan turun hampir 90 persen, sementara biaya operasional hanya bisa ditekan hingga 60 persen.

“Kalau kita lihat posisi finansial Garuda di 1 Juli 2020, cashflow yang ada di perusahaan hanya US$ 14,5 juta. Sementara pinjaman bank sebanyak US$ 1,3 miliar dan utang usaha dan pajak US$ 905 juta,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, di Jakarta, Selasa (14/7/2020).

Menurut  Irfan, membengkaknya utang maskapai BUMN ini terjadi karena pendapatan turun hampir 90 persen, sementara biaya operasional hanya bisa ditekan hingga 60 persen.

Baca Juga :   Terbang Perdana, Kargo Garuda Surabaya – Hongkong Pacu Ekspor UMKM Jatim

Irfan memaparkan, utang US$ 1,3 miliar berasal dari pinjaman bank jangka pendek US$ 668 juta. Juga  utang jangka panjang US$ 654 juta yang terdiri dari sukuk US$ 500 juta, KIK EBA US$ 100 juta dan financial lease US$ 54 juta.

“Untuk sukuk US$ 500 juta yang mulanya jatuh tempo pada 3 Juni kemarin telah selesai dan berhasil direstrukturisasi menjadi 3 Juni 2023,” jelasnya.

Sementara utang usaha US$ 905 juta terdiri dari utang bayar avtur US$ 374 juta, sewa pesawat US$ 340 juta, ground handling & traffic servicing US$ 76 juta, dan maintenance, catering, others US$ 115 juta. Adapun rata-rata outstanding utang 60-180 hari.

Baca Juga :   Ini Susunan Petinggi Baru Garuda Indonesia, Yenny Wahid Jadi Komisaris Independen

Baca juga: Dirut Garuda: Jangan Kaget Jika Ada Maskapai Tak Bertahan Lagi

Pendapatan Non-Penumpang

GIAA berharap  mampu  meningkatkan kinerja dibanding tahun lalu dengan mengandalkan penerbangan domestik dan penambahan rute baru. Diharapkan ada peningkatan sebesar US$ 357 juta per tahun.

“Pada 2019 penerbangan internasional yang mengalami kerugian sebesar US$ 216 juta per tahun bisa kita turunkan menjadi US$ 77 juta dengan cara menutup jalur London Inggris ke Nagoya Jepang dan optimalisasi jenis-jenis pesawat yang ada,” papar Irfan.

Menurut Irfan, sebelum pandemi COVID-19 GIAA memiliki sekitar 48 destinasi domestik dan 22 destinasi internasional dengan total sekitar 430 penerbangan per hari.

“Dari segi pendapatan sekitar 80% berasal dari penumpang, kargo sekitar 7%, ibadah haji sekitar 7,2%, dan lainnya sekitar 5% berkontribusi pada pendapatan,” ungkapnya.

Baca Juga :   Dirut Garuda: Jangan Kaget Jika Ada Maskapai Tak Bertahan Lagi

Saat ini Garuda mengoptimalkan pendapatan non-penumpang seperti kargo. Oleh sebab itu berencana membeli pesawat khusus kargo namun tertunda akibat dampak COVID-19.

“Ke depan kargo ini akan menjadi salah satu bisnis kita yang diharapkan mengkontribusi pendapatan perusahaan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Irfan.(hps)