EkbisHeadlineIndeksIndustri

Satoria Pharma Produksi 230 Juta Botol Infus, BPOM: Perkuat Kemandirian Farmasi Nasional

×

Satoria Pharma Produksi 230 Juta Botol Infus, BPOM: Perkuat Kemandirian Farmasi Nasional

Sebarkan artikel ini
(dari kanan) Deputi 1 BPOM William Adi Teja, Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, CEO & Founder Satoria Group Alim Satria , Managing Director Satoria Pharma Adi Pranoto Alim dalam peresmian line 4 pabrik PT Satoria Aneka Industri di Pasuruan, Selasa (28/4/2026).

PASURUAN, PMP – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyambut positif langkah produsen cairan infus PT Satoria Aneka Industri (Satoria Pharma) yang terus memperbesar kapasitas produksi hingga 230 juta botol per tahun guna memenuhi kebutuhan farmasi nasional yang masih sangat besar.

“Satoria Pharma merupakan produsen infus dalam negeri yang diharapkan dapat memperkuat ketahanan farmasi nasional sekaligus menjamin ketersediaan produk yang aman, bermutu, dan berkhasiat,” kata Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) William Adi Teja, dalam peresmian pengoperasian mesin produksi (line) ke-4 di pabriknya di Kabupaten Pasuruan, Selasa (28/4/2026).

Peresmian tersebut dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dan Bupati Pasuruan H. M. Rusdi Sutejo, serta jajaran pejabat pemerintah daerah.

William menandaskan dengan peningkatan kapasitas produksi dan penambahan lini baru, BPOM  berharap industri farmasi nasional semakin mandiri. Ini mengingat ketergantungan impor bahan baku obat masih 80 persen.

“Produk obat jadi dalam negeri memang didominasi lokal, namun bahan baku masih bergantung impor hingga 70–80 persen, ini yang harus kita dorong kemandiriannya,” katanya.

Baca Juga :  BNI Beli Tiga Lantai Satoria Tower, Jadi Kantor Utama Surabaya Barat

Salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah industri garam farmasi dalam negeri yang menjadi bahan penting produksi cairan infus. Saat ini Indonesia memiliki empat perusahaan industri garam farmasi dengan tiga di antaranya berlokasi di Jawa Timur yang mampu memproduksi hingga 4.000 ton per tahun.

“Kebutuhan cairan infus di Indonesia cukup besar. Dengan populasi sekitar 280 hingga 300 juta jiwa, kebutuhan mencapai 388 juta botol per tahun. Ini peluang besar sekaligus tantangan untuk meningkatkan kemandirian industri farmasi,” ungkap William.

Deputi BPOM William Adi Teja menyerahkan sertifikat CPOB kepada CEO PT Satoria Aneka Industri, Alim Satria.

Produsen Infus Terbesar

Dalam sambutannya, CEO & Founder Satoria Group, Alim Satria menyampaikan pengoperasian Line ke-4 yang memproduksi 230 juta botol per tahun ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat fondasi industri farmasi nasional sekaligus memastikan ketersediaan produk yang berkualitas dan terjangkau.

“Dengan kapasitas tersebut, kami menjadi pabrikan infus terbesar di Indonesia. Ini sejalan dengan pertumbuhan bisnis kami yang konsisten di kisaran 25 persen per tahun, serta meningkatnya kebutuhan pasar infus nasional,” papar Alim Satria.

Satoria Pharma juga telah menyiapkan rencana pembangunan Line ke-5 dengan kapasitas tambahan 170 juta botol per tahun. Jika terealisasi pada 2028, total kapasitas produksi akan mencapai 400 juta botol per tahun.

Baca Juga :  Perkuat Kemandirian Produk Kesehatan Lokal, Satoria Bangun Pabrik Selang Infus dan Jarum Suntik

“Peresmian ini bukan hanya soal peningkatan kapasitas, tetapi juga kemajuan dalam manufaktur cerdas dan pengendalian kualitas. Ke depan, kami akan mengembangkan infus terapeutik tingkat tinggi dan infus nutrisi,” tandas Alim.

Selain ekspansi produksi, Satoria Pharma juga menargetkan penawaran saham perdana (IPO) pada 2027 guna memperkuat struktur permodalan dan memperluas penetrasi ke pasar ethical serta sektor alat kesehatan.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyalami CEO & Founder Satoria Group Alim Satria didampingi Managing Director Satoria Pharma Adi Pranoto Alim dalam peresmian line 4 pabrik PT Satoria Aneka Industri di Pasuruan, Selasa (28/4/2026).

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, juga mengapresiasi ekspansi yang dilakukan Satoria Pharma sebagai bagian dari upaya substitusi impor dan penguatan ekonomi daerah.

“Kami sangat menyambut baik, terutama karena dari pabrik ini ada potensi kerja sama dengan 14 rumah sakit milik Pemprov Jawa Timur untuk mendapatkan suplai infus,” kata Khofifah.

Menurutnya keberadaan pabrik ini dapat menjadi penguat layanan kesehatan sekaligus memperkuat pasokan cairan infus serta mampu mendukung kemandirian farmasi nasional.

Selain itu, kata Khofifah, Satoria Pharma juga berperan penting dalam mendorong substitusi impor di sektor farmasi serta pengembangan industri manufaktur berbasis hilirisasi.

Baca Juga :  Satoria Pharma Targetkan Penjualan Cairan Infus 2020 Melonjak 350%

“Sesungguhnya seluruh energi anak bangsa memungkinkan untuk meningkatkan penyediaan farmasi serta produksi bahan baku dalam negeri. Harapannya peningkatan kualitas derajat kesehatan masyarakat di Indonesia khususnya di Jawa Timur,” ujar Gubernur Khofifah.

Managing Director Satoria Pharma Adi Pranoto Alim memperlihatkan produksi cairan infus.

Managing Director Satoria Pharma, Adi Pranoto Alim menyebut bahwa saat ini perusahaan telah memasok sekitar 50 persen kebutuhan infus nasional dan menjangkau sekitar 2.700 dari total 3.400 rumah sakit di Indonesia.

“Jika kapasitas sudah optimal dan kebutuhan dalam negeri terpenuhi, kami akan memperluas pasar ekspor ke Vietnam, Kamboja, dan Filipina. Permintaan dari luar negeri sebenarnya sudah cukup tinggi,” jelasnya.

Adi menambahkan bahwa keunggulan produk Satoria adalah penggunaan teknologi ESBM (Extrusion Stretch Blow Molding) memungkinkan efisiensi biaya produksi hingga 40-50 persen dibandingkan teknologi konvensional, sehingga meningkatkan daya saing produk di pasar global.

Dengan ekspansi ini, Satoria Pharma diharapkan dapat menjadi pilar penting dalam mendorong kemandirian industri farmasi nasional sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap produk kesehatan yang berkualitas. (hap)