PenaMerahPutih.com
Headline Indeks Wow

Menjemput Rezeki Melestarikan Semanggi

Semanggi Suroboyo
Sepincuk pecel Semanggi Suroboyo dijual Rp 10 ribu.(Hapsah)

Surabaya, pmp – Presiden Soekarno sangat suka menyantap pecel Semanggi Suroboyo. Dulu di tahun 1960-an, Mbah Sari penjual pecel semanggi asal Kampung Semanggi pernah diboyong Bung Karno naik delman beserta dagangannya dari tempat mangkal di Pasar Pendegiling ke Gedung Grahadi yang sekarang menjadi rumah dinas Gubernur Jatim di Kota Surabaya. Bung Karno meminta Mbah Sari menyajikan pecel semanggi buat dirinya dan para tamu dari Jakarta.

Kisah tentang Bung Karno, Mbah Sari dan kudapan pecel Semanggi Suroboyo rupanya menjadi kisah membanggakan yang dituturkan turun-temurun di kalangan para penjual pecel semanggi di Kampung Semanggi, sebutan untuk wilayah RW 03, Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo yang terletak di pinggiran Surabaya barat.

“Awalnya Mbah Sari tidak yakin kalau sosok yang mengajaknya naik delman itu Bung Karno. Mbah Sari baru yakin setelah seseorang di Grahadi membisikinya bahwa yang mengajaknya itu memang Presiden Soekarno,” kata Loji (50), Ketua RT 7 RW 03 yang juga petani tanaman semanggi, saat ditemui di rumahnya, Rabu (23/12/2020).

Mbah Sari termasuk salah satu generasi tahun 1960-an yang menjual pecel Semanggi Suroboyo asal Kampung Semanggi. Mbah Sari sendiri telah wafat tahun 2017 silam di usia 87 tahun. Jadi saat diboyong Bung Karno ke Grahadi tadi, usia Mbah Sari sekitar 30 tahunan.

Saat ini Kampung Semanggi bisa disebut sebagai sentra pembuatan pecel Semanggi Suroboyo untuk konsumsi warga Surabaya dan sekitarnya. Setidaknya terdapat sekitar 300 ibu penjual, 25 petani tanaman semanggi atau marsilea yang merupakan jenis paku air, plus 25 pengepul atau pencari daun semanggi. Mereka tersebar di RW 03 yang terdiri dari delapan RT.

Kudapan Semanggi Suroboyo
Berbahan dasar rebusan daun semanggi dengan ciri khas kuah sambal yang terbuat dari ubi jalar.(Hapsah)

Kudapan pecel Semanggi Suroboyo merupakan makanan tradisional yang banyak digemari warga Surabaya dan sekitarnya. Makanan yang harga per porsinya Rp 10 ribu itu, sejenis pecel yang sayuran utamanya rebusan daun semanggi, ditambah kecambah dan bunga turi sebagai penyedap, plus kerupuk puli atau kerupuk berbahan dasar beras. Tentu berbeda dengan lazimnya pecel yang sayuran utamanya adalah rebusan kangkung atau bayam ditambah kacang panjang.

Namun sebenarnya perbedaan paling mencolok antara pecel dan Semanggi Suroboyo tak lain kuah sambalnya, di mana kuah pecel berbahan baku kacang, sedangkan kuah semanggi berbahan baku ubi jalar sehingga terasa sedikit lebih manis dan legit. Sementara cara pengolahannya sama, keduanya ditumbuk halus agar menjadi kuah saat ditambahkan air.

Semanggi Suroboyo masih digemari karena banyak masyarakat yang percaya bahwa daun semanggi bermanfaat buat kesehatan, seperti meredakan flu dan demam, antidiare, radang tenggorokan, hipertensi atau darah tinggi, datang bulan tak lancar, atau infeksi saluran kencing.

Kisah Bung Karno penggemar Semanggi Suroboyo tampaknya juga bukan isapan jempol, jika melihat fakta bahwa Bung Karno pernah menghabiskan masa pendidikan sekolah menengahnya di Kota Pahlawan sebelum hijrah kuliah di ITB Bandung. Selain itu setelah jadi presiden, Sang Bung Besar memberi nama jembatan berbentuk daun semanggi empat helai yang kini fenomenal di pusat Ibu Kota Jakarta sebagai Jembatan Semanggi.

Jika menyimak buku berjudul ‘Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe’ karya Zaenuddin HM yang terbit April 2018, dipaparkan asal-usul pemberian nama itu oleh Bung Karno. Selain karena lokasinya berawa yang banyak ditumbuhi tanaman semanggi, ada filosofi tersendiri bagi Sang Proklamator.

“Menurut Bung Karno, susunan daun semanggi (empat helai dan menyatu pada pangkal tangkai) bisa melambangkan persatuan bangsa ini. Dengan bersatu kita akan menjadi kuat, demikian pula Jembatan Semanggi itu menyatukan berbagai wilayah di ibu kota, sekaligus juga berarti mempersatukan segenap bangsa ini,” tulis Zaenuddin.

Baca Juga :   Ikhtiar Kelompok Santri Tani Milenial Cetak Santripreneur
Daun Semanggi
Daun semanggi empat helai yang merupakan tanaman jenis paku air.(Hapsah)

Tiga Generasi Jualan Semanggi

Kini profesi menjual pecel Semanggi Suroboyo masih ditekuni para ibu di Kampung Semanggi. Sebanyak 60 ibu dari sekitar 300 penjual tinggal di RT 7 yang dipimpin Loji, sementara sisanya di tujuh RT lainnya di wilayah RW 03.

Para ibu ini menyebar saat berjualan pecel Semanggi Suroboyo. Tak hanya di berbagai sudut Kota Buaya seperti Pelabuhan Tanjung Perak, Kebun Binatang Surabaya, Taman Bungkul, atau areal Kantor Gubernur Jatim di seberang Tugu Pahlawan, tapi juga sampai kabupaten tetangga yakni Gresik atau alun-alun Sidoarjo yang berjarak sekitar 40 kilometer dari kampung mereka.

Para ibu penjual Semanggi Suroboyo memiliki wilayah jual masing-masing sehingga tak saling berkompetisi. Sumarlik (52) misalnya, setiap hari selepas salat subuh, dia dibonceng motor oleh anaknya jauh ke arah selatan sekitar 25 kilometer, menuju tempat berjualan di dekat pintu masuk Perumahan Pondok Wage Indah yang terletak di Kecamatan Taman Sidoarjo.

Semanggi Suroboyo Masjid Agung Surabaya
Tatik dan Astutik berboncengan dari Kampung Semanggi pukul 04.30 WIB dan tiba di Masjid Agung Surabaya pukul 05.30. (Hapsah)

Sementara Tatik Farika (45) dan Astutik (48), setiap Sabtu dan Minggu, berboncengan menempuh jarak 20 kilometer untuk berjualan di kawasan Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Masjid yang terletak di Kecamatan Jambangan di Surabaya selatan itu lebih dikenal sebagai Masjid Agung Surabaya yang merupakan masjid terbesar kedua setelah Masjid Istiqlal. Ada sekitar 10 ibu Kampung Semanggi yang berjualan di kawasan Masjid Agung.

Puluhan ibu lainnya yang setiap hari berjualan jauh seperti di alun-alun Sidoarjo dan sekitarnya yang berjarak sekitar 40 kilometer, mereka patungan menyewa angkot untuk antar-jemput. Satu angkot disewa enam penjual dengan ongkos Rp 300 ribu atau patungan Rp 50 ribu. Angkot dipastikan penuh dengan keranjang dan tentu saja plastik berisi kerupuk puli yang menjulang memakan tempat.

Para penjual yang lebih senior seperti Mbah Riyani (75), membuka lapak pinggir jalan di seberang pertokoan perumahan Citra Land yang berjarak hanya sekitar 200 meter dari rumahnya di RT 8 Kampung Semanggi. Selain Mbah Riyani masih ada belasan ibu lainnya yang berjualan di sepanjang jalan tersebut.

“Saya sudah tidak kuat lagi kalau harus berjualan jauh. Di sini saja saya berjualan dibantu Bunga (24) cucu saya. Itu pun hanya berjualan hari Selasa, Rabu dan Minggu,” kata Mbah Riyani yang mengaku telah berjualan sejak 35 tahun lalu dan mulai menetap membuka lapak di dekat rumah sejak 15 tahun belakangan.

Semanggi Suroboyo
Mbah Riyani dan Bunga cucunya. Turun temurun menjual pecel Semanggi Suroboyo.(Hapsah)

Mbah Riyani tak sendiri berjualan di lapak tersebut, tapi juga ada sahabatnya Mbah Romlah (70) yang berjualan setiap Senin, Kamis dan Minggu, juga anaknya Nasiyah (54) pada Jumat, Sabtu dan Minggu.

“Kami harus berbagi hari berjualan karena pandemi corona telah membuat jumlah pembeli turun drastis,” kata Bunga sembari menjelaskan pada hari Minggu mereka semua berjualan karena ramai pembeli.

Mbah Riyani sendiri mulai berjualan di usia 40 tahun setelah suaminya meninggal dunia. Demi menghidupi dua anak perempuannya, dia pun berjualan pecel semanggi laiknya banyak ibu di kampungnya.

Seiring berjalannya waktu, Nasiyah anak perempuan pertamanya ikut berjualan pecel Semanggi Suroboyo untuk menambah penghasilan suami yang petani. Dan kini Bunga, anak Nasiyah yang juga cucu Riyani, ikut berjualan mengikuti jejak ibu dan neneknya.

Turun temurun berjualan pecel Semanggi Suroboyo sudah lumrah di Kampung Semanggi. Mbah Sari sang legenda pun dilanjutkan Tatik Farika menantunya yang berjualan di Masjid Agung.

“Saya berjualan membantu suami yang pedagang buah keliling. Alhamdulillah, meski hanya berjualan saat hari libur karena banyak orang olah raga pagi di seputaran Masjid Agung, penghasilan dari semanggi ini lumayan,” kata Tatik.

Baca Juga :   Diplomasi Kuliner Bisa Jadi Media Promosi Desa Wisata Guna Menarik Kedatangan Wisman
Semanggi Suroboyo Masjid Agung
Tatik Farikha menjemput rezeki di kawasan Masjid Agung Surabaya.(Hapsah)

Laba 40% dari Omset

Keberadaan para ibu penjual pecel Semanggi Suroboyo mampu bertahan beberapa generasi disebabkan beberapa hal. Selain pembudidayaan tanaman semanggi mudah meski sangat bergantung ketersediaan air, penghasilan dari berjualan pecel semanggi bisa dibilang lumayan.

Menurut Bunga, pembuatan 50 porsi semanggi membutuhkan daun semanggi sebanyak satu tas kresek atau tas plastik besar yang harga per kreseknya Rp 100 ribu. Sementara untuk kuah sambal dibutuhkan 6 kilogram ubi jalar yang harga per kilogramnya Rp 8 ribu atau total Rp 48 ribu. Jika ditambah harga kecambah, bunga turi, kerupuk puli, minyak goreng, gas LPG buat kompor, juga transportasi sekitar Rp 150 ribu, maka total biaya sekitar Rp 300 ribu.

Nah, jika harga seporsi pecel Semanggi Suroboyo Rp 10 ribu, maka pendapatan dari total omset 50 porsi mencapai Rp 500 ribu. Khusus Bunga dan neneknya, juga para penjual di dekat Kampung Semanggi, harga seporsi hanya Rp 8 ribu atau pendapatan dari total 50 porsi mencapai Rp 400 ribu. Harga lebih murah karena mereka tak perlu mengeluarkan ongkos transportasi menuju tempat berjualan. Artinya keuntungan berjualan pecel semanggi sekitar 40% dari total omset.

“Tapi itu belum termasuk biaya menumbuk ubi jalar hingga lembut lho ya. Capek banget menumbuk itu,” kata Bunga tertawa.

Menumbuk ubu jalar Semanggi Suroboyo
Menumbuk ubi jalar untuk kuah sambal. Proses paling melelahkan.(Hapsah)

Baik Bunga, Tatik, Astutik, maupun Sumarlik mengaku omset mereka turun saat pandemi. Saat kondisi normal, mereka rata-rata bisa menjual 50 porsi-60 porsi per hari dan meningkat hingga 80 porsi-100 porsi di hari libur. Kini mereka hanya menjual sekitar 30 porsi di hari kerja dan 50 porsi di hari libur.

“Bawa dagangan separuh saja terjualnya lama banget. Jika dulu mulai jualan pukul 06.00 WIB, semanggi sudah habis pukul 11.00 dan bisa segera pulang bawa uang. Kini baru habis sekitar pukul 15.00, jadi kami sampai rumah menjelang maghrib. Bahkan pernah sehari hanya dapat Rp 60 ribu,” kata Astutik yang berjualan di Masjid Agung sejak tahun 2009.

Tantangan Musim Kemarau

Pembudidayaan tanaman semanggi tak merepotkan dan bahkan memberi hasil cepat. Sebagai tanaman jenis paku air, semanggi tentu memerlukan lahan berair. Sejak benih ditebar, maka sebulan kemudian daun semanggi sudah siap dipetik dan dipanen. Selepas dipetik, seminggu kemudian sudah muncul daun baru yang kembali siap dipanen.

“Lahan saya yang 700 meter persegi, setiap panen bisa menghasilkan daun semanggi lima tas kresek,” kata Loji menunjuk lahan semanggi 700 meter di belakang rumahnya.  Artinya setiap panen dia menangguk Rp 500 ribu atau dalam sebulan memperoleh Rp 2 juta dari empat kali panen.

Semanggi Suroboyo panen daun semanggi
Loji, Ketua RT 07 RW 03, Kampung Semanggi, memanen daun semanggi di lahan belakang rumah.(Hapsah)

Tanaman semanggi tak memerlukan perawatan khusus. “Pemupukan dengan NPK biasanya dilakukan tiga bulan sekali, saat daun yang dihasilkan mengecil dan pertumbuhannya melambat,” papar Loji.

Persoalan barulah muncul saat musim kemarau tiba dan air mengering. Maklum saja, lahan milik Loji dan warga Kampung Semanggi merupakan lahan tadah hujan.

“Ketika tak ada air, beberapa warga sini yang berprofesi pencari semanggi mencarinya sampai ke Gresik atau Lamongan,” kata Loji sembari menjelaskan bahwa daun semanggi bisa diperoleh di sekitar sungai-sungai besar yang airnya tak surut saat musim kering.

Para ibu penjual semanggi menyiasati musim kemarau dengan menjemur daun semanggi dan kemudian menyimpannya sebagai persediaan untuk berjualan. Semanggi yang telah dijemur bisa tahan hingga dua bulan dengan menyimpannya di freezer.

Semanggi Suroboyo
Para penjual pecel Semanggi Suroboyo dari Kampung Semanggi.(Hapsah)

Pahlawan Ekonomi Kota Surabaya

Keberadaan para ibu penjual pecel Semanggi Suroboyo yang sebenarnya termasuk pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Surabaya. Kampung Semanggi atau RW 03 baru saja lolos 150 besar dalam lomba antarkampung di Kota Surabaya yang disebut Surabaya Smart City (SSC), yang digulirkan pertengahan 2019 saat masih dipimpin Wali Kota Tri Rismaharini yang kini Menteri Sosial.

Baca Juga :   Harum dan Legitnya Cita Rasa Kopi Wonosalam

SSC memiliki cita-cita besar menjadikan kampung-kampung di Surabaya sebagai cagar budaya kota sehingga bisa menjadi destinasi wisata. Perhelatan SSC tahun 2020 diikuti sekitar 1.300 RW yang disaring menjadi 500 RW, kemudian diperas lagi menjadi 150 RW. Penilaian SSC 2020 di antaranya ketahanan pangan, partisipasi masyarakat, lingkungan bebas sampah, serta Satgas Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo atau Berani Menjaga Surabaya terkait penanganan COVID-19.

Risma sendiri selama menjabat menekankan pentingnya meningkatkan ekonomi masyarakat, terutama menggerakkan perekonomian keluarga dengan mendorong para ibu rumah tangga agar berani berwirausaha sehingga bisa mendapat penghasilan.

Pemkot Surabaya kemudian aktif memberikan pelatihan gratis di berbagai bidang usaha buat para ibu rumah tangga agar memiliki keterampilan. Nah, para ibu rumah tangga pelaku UMKM inilah yang oleh Risma dijuluki sebagai ‘Pahlawan Ekonomi Kota Surabaya’.

Ketua RW Kampung Semanggi
Ketua RW 03 Dikariyanto dan Mbah Riyani.(Hapsah)

“Keberadaan UMKM yang terdiri dari para ibu penjual pecel Semanggi Suroboyo memang menjadi faktor penting sehingga Kampung Semanggi lolos 150 besar lomba Surabaya Smart City 2020,” kata Dikariyanto (55), Ketua RW 03, saat ditemui di Kampung Semanggi, Rabu (23/12/2020).

Menurut Abah Dika, begitu dia dipanggil warga, RW 03 yang terdiri dari sekitar 1.000 kepala keluarga dan 4.000 warga memang menjadi dikenal warga Surabaya berkat keberadaan para ibu penjual pecel semanggi. Apalagi kini, beberapa warga Kampung Semanggi secara kreatif telah mengolah daun semanggi menjadi camilan keripik atau jus.

Abah Dika dan beberapa tokoh warga, seperti Abdul Wachid, Loji, atau Latif, juga terus berupaya agar Kampung Semanggi dan seluruh pelaku usaha di dalamnya bisa meningkat kesejahteraannya. Mereka rajin melobi berbagai pihak agar membantu memfasilitasi warga Kampung Semanggi.

Upaya para sesepuh Kampung Semanggi itu, rupanya menarik perhatian PT Astra International Tbk yang mengulurkan tangan dan kemudian menggandeng Kampung Semanggi sebagai bagian dari Kampung Berseri Astra (KBA) pada tahun 2020 ini.

KBA merupakan program Kontribusi Sosial Berkelanjutan Astra yang diimplementasikan pada masyarakat dengan konsep pengembangan yang mengintegrasikan empat pilar program, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan. Kampung Semanggi menjadi bagian dari program lingkungan dan diberi nama KBA Semanggi Surabaya.

UMKM Semanggi Suroboyo
Para ibu pelaku UMKM dijuluki Pahlawan Ekonomi Kota Surabaya.(Hapsah)

“Pihak Astra di antaranya membantu mengupayakan agar budidaya tanaman semanggi bisa dilakukan sepanjang tahun dengan konsep hidroponik atau membuat lahan tanam buatan yang airnya tak bakal kering,” kata Abah Dika sembari mengabarkan upaya tersebut melibatkan para pakar kampus.

Tak hanya itu, nantinya juga dibuat gapura dan pusat wisata kuliner Semanggi Surabaya di Kampung Semanggi untuk menarik kedatangan pembeli maupun wisatawan, sekaligus mewujudkan Kampung Semanggi sebagai cagar budaya Kota Surabaya.

Dukungan dari Pemkot Surabaya maupun entitas bisnis seperti PT Astra International Tbk sejatinya merupakan semangat majukan Indonesia dengan melestarikan Semanggi Suroboyo agar tak rontok diterjang hiruk-pikuk berbagai kuliner modern yang datang menyerbu.

Syukurlah masih sangat banyak pihak yang mengingat pesan Bung Karno yang mewanti bangsa Indonesia agar menjaga baik-baik warisan budaya dan semangat perjuangan leluhur, melalui pidatonya yang fenomenal saat peringatan Hari Kemerdekaan ke-21 Republik Indonesia pada Rabu 17 Agustus 1966, yakni Jas Merah atau “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”.(Siti Hapsah Agustin)