Moh Qosim: QA Siapkan 356 Ambulan Desa, 5.000 Lapangan Kerja, Tambahan Dana Desa Rp 1 Miliar

September 30, 2020

Gresik, pmp – Mohammad Qosim- dr Asluchul Alif (QA), pasangan calon bupati dan wakil bupati nomor 1 Pilkada Gresik, menyiapkan delapan strategi atau misi agar Gresik menjadi lebih unggul dan maju. Mulai dari betonisasi jalan kabupaten  512,56 km, mobil ambulan bagi 356 desa dan kelurahan, juga tambahan dana desa Rp 1 miliar per desa dan kelurahan.

Tak hanya itu, masih ada BPJS Kesehatan bagi warga yang belum tersentuh, insentif bagi para guru, lima sentra PKL dan UMKM di Bawean, Cerme, Driyorejo, Sedayu dan Gresik, hingga membuka 5 ribu lapangan kerja per tahun. Semua untuk mewujudkan visi menjadikan Kabupaten Gresik semakin religius, sehat, berkelanjutan dan sejahtera untuk semua.

“Jadi cara berpikirnya tidak boleh lagi sekedar bagaimana membangun Kabupaten Gresik, tapi berpikir lebih jauh bagaimana kita harus lebih maju dan lebih unggul dibandingkan kabupaten dan kota lain,” kata Mohammad Qosim, calon bupati yang juga Ketua PKB Gresik, saat ditemui di kediamannya, Senin (28/9/2020).

Menurut Qosim, delapan misi Qosim-Alif (QA) mengambil falsafah delapan penjuru mata angin yang maksudnya pemerintahan Kabupaten Gresik di bawah kepemimpinan QA harus menjangkau dan melayani seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Bagaimana strategi membuka 5 ribu lapangan kerja per tahun bagi masyarakat Gresik? Untuk apa tambahan Dana Desa Rp 1 miliar tiap desa? Apa tujuan diciptakan Kartu Petani Bangkit, Kartu Nelayan Bangkit, Kartu PKL dan UMKM Bangkit? Mengapa dibangun lima sentra PKL dan UMKM di lima wilayah?

Berikut wawancara dengan Mohammad Qosim yang didampingi penasihat Relawan Sejati QA, relawan militan nonparpol yang beranggotakan seribu lebih orang yang siap mensosialisasikan visi dan misi QA:

 

Apa misi pertama paslon QA?

Misi kami pertama penguatan Gresik sebagai Kota Santri dan Kota Wali. Itu harga mati. Sebab lazimnya kalau industri dan perdagangan sudah masuk, maka pondasi religi secara perlahan bisa terkikis. Jika industri dan perdagangan maju, maka orang mulai abaikan sholat, mulai tidak rajin khotmil Al Quran, atau tidak mau lagi sholawatan.

Nah, kami tidak mau hal itu terjadi. Makanya penguatan Gresik sebagai Kota Santri dan Kota Wali justru semakin kita perkokoh. Untuk menjaga masyarakat yang kerja di sektor industri, kita akan masukkan dan dorong nuansa keagamaan ke perusahaan.

Misalnya kami buat aturan minimal harus ada mushola di pabrik, kemudian musholanya punya takmir sehingga bisa ada sholat berjamaah atau pengajian rutin. Kemudian di momen tertentu ada santunan anak yatim piatu dan dhuafa. Jadi nuansa religinya justru kita dorong dan perkokoh.

Apa misi kedua?

Kedua sehat. Kami akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Gresik. Caranya membuat semua masyarakat tanpak terkecuali harus memiliki keanggotaan BPJS Kesehatan. Bagi mereka yang sudah mampu karena diberi anugerah lebih oleh Allah SWT, tentu kami alhamdulillah.

Kami bakal fokus kepada masyarakat yang kurang beruntung, di mana masih ada sekitar 30% warga Gresik dari sekitar 1.350.000 jiwa yang belum tercover BPJS Kesehatan. Intinya jangan sampai ada anggota masyarakat yang sakit dan tidak bisa berobat hanya karena kondisi ekonomi.

Tentu bakal membutuhkan anggaran besar untuk itu?

Kita bakal berdayakan semua sumber daya yang dimiliki Gresik. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh maka pasti dapat. Sumber daya alam ini sudah ditakar oleh Allah SWT untuk mencukupi seluruh kebutuhan manusia jika dikelola dengan baik. Jadi tidak ada yang tidak dapat mencukupi kebutuhan manusia kecuali yang salah kelola.

Kenapa kesehatan penting setelah sisi religi?

Pada kehidupan yang semakin modern ini, kesehatan sudah menjadi kebutuhan mutlak. Kita bahkan berharap, nantinya masyarakat bisa secara periodik cek kesehatan. Jangan seperti dulu, kalau badan gak remek gak budal nang rumah sakit. Begitu periksa di RS ternyata sudah komplikasi karena mereka menunggu sampai kondisi tidak bisa apa-apa lagi. Kami tidak mau seperti itu.

Kami juga bakal galakkan Germas atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, yakni olah raga rutin, rajin makan sayur dan buah, serta kontrol kesehatan minimal 6 bulan sekali.

Kami juga bakal siapkan 356 mobil ambulan yang bakal standby di tiap desa atau kelurahan, di luar ambulan yang sudah dimiliki puskesmas-puskesmas. Ambulan puskesmas  biarlah dipakai untuk kepentingan puskesms, sementara warga desa yang tiba-tiba sakit keras di malam hari, mereka tinggal lapor perangkat desa dan bisa memanfaatkan ambulan desa.

Khusus warga Pulau Bawean, kami akan siapkan helikopter atau pesawat kecil misalnya Cesna yang tidak butuh runaway panjang untuk melayani warga yang harus dirujuk ke rumah sakit di Gresik atau Surabaya yang lebih lengkap fasilitasnya.

Baca juga:

Apa misi ketiga?

Peningkatan SDM baik secara kualitas maupun kualifikasinya. SDM Gresik semakin hari harus semakin bagus. Kuncinya tentu pada aspek pendidikannya. Hal yang membuat hidup itu mudah adalah ilmu.

Man aroda dun yaa fa’alaihi bil ‘ilmi, wa man arodal akhirota fa’alaihi bil ‘ilmi, wa man aroda huma fa’alaihi bil ‘ilmi. Barang siapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah berilmu. Barang siapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barang siapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.

Jadi semuanya harus dengan ilmu, sebab SDM yang berkulitas akan mengangkat berbagai sektor kehidupan. SDM yang bagus akan gampang cari pekerjaan. Kalau dia tak mau jadi pegawai dan pilih mandiri, dia bisa menciptakan lapangan pekerjaan karena otaknya jalan.

Artinya bakal memperbaiki sektor pendidikan?

Sudah barang tentu. Dunia pendidikan itu terdiri dari raw input yakni anak didik, instrumental input yakni para guru dan kurikulum, serta environmental input atau lingkungan. Ketiganya harus diperhatikan. Anak-anak sejak dari kandungan harus dipantau gizinya. Stunting (kurang gizi) di Gresik yang 30% harus kita hilangkan.

Rasulullah bersabda Utlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi. Mendidik anak itu mulai dari kandungan sampai nanti liang lahat. Jangan sampai lahir anak yang cacat baik fisik maupun mental.

Sementara para guru selain kita tingkatkan kualitasnya, juga kita perhatikan kesejahteraannya. Jangan sampai guru yang dipandang sangat mulia, ternyata ekonominya rendah. Bagimana guru bisa menjadi teladan bagi anak-anak didiknya kalau pakaiannya lusuh?

Kesejahteran guru harus diperhatikan. Kami akan memberi insentif sesuai kebutuhan mereka. Nanti bakal ada tunjangan pengabdian bagi para guru yang sudah mengabdi 30 tahun. Kalau di ASN kan ada pensiun.

Bagaimana dengan kurikulum pendidikannya?

Kalau kurikulum dari Jakarta. Tapi nanti bakal kita dorong dengan kurikulum muatan-muatan lokal supaya anak-anak tidak tercerabut dari akarnya. Misalnya soal sejarah Sunan Giri atau Maulana Malik Ibrahim. Kalau keterampilan, Gresik juga punya batik, anak-anak SD mulai kita ajari membatik supaya terampil. Atau kita ajari membuat lampion atau damar kurung Masmundari khas Gresik.

Apa misi keempat?

Tata kelola pemerintahan yang bersih dan berwibawa, good government dan clean governance atau sistem pemerintahan yang bersih. Kami sangat ingin semua pengelola pemerintahan di Gresik memiliki sifat seperti Rasulullah yakni sidiq, amanah, tabliq dan fatonah. Tapi menduplikasi Rasulullah ya tidak mungkin wong beliau itu ciptaan Allah yang sangat istimewa.

Paling tidak kami ambil sifat amanahnya, menjadi ASN yang merasa menerima amanah. Saya ingin para pejabat dan ASN di Gresik memiliki sifat amanah, sehingga mereka bekerja dan mengabdi dengan sebaik-baiknya.

Dengan begitu bakal muncul birokrat-birokrat yang bersih sehingga tercipta sistem pemerintahan yang bersih pula. Kalau birokratnya bersih, sistemnya bagus, maka pemerintahan akan berwibawa.

Bagaimana memulainya?

Indonesia ini paternalistik. Ketika para pemimpinnya baik, maka otomatis yang di bawah akan ikut menjadi baik, karena rata-rata orang Indonesia itu melihat bagaimana perilaku yang di atas atau mereka yang lebih tua.

Ujungnya karena pemerintahan amanah, betul-betul melayani masyarakat dengan baik, maka masyarakat bakal sejahtera. Itu akan mendukung terciptanya visi QA sejahtera buat semua.

Ada kaidah tassarruf al-Imam ‘ala al-ra’iyyah manutun bi al-maslahah yang artinya tugas utama pemerintah adalah mensejahterakan masyarakatnya.

Kalau di dunia modern ada Human Development Index, di mana yang pertama harus diperhatikan adalah pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan. Itu misi kami yang bakal membuat semua masyarakat Gresik di seluruh sektor kehidupan menjadi sejahtera.

Bagaimana membuat semua masyarakat di berbagai sektor bisa sejahtera?

Itu misi kelima, di mana kami akan buat pengelompokan atau klaster-klaster. Misal ada klaster petani, nelayan, UMKM, peternakan, perikanan, dll. Akan kami siapkan Kartu Petani Bangkit, Kartu UMKM Bangkit, Kartu Peternak Bangkit, Kartu Nelayan Bangkit, dsb.

Bagaimana pemanfaatan kartu-kartu itu?

Misalnya ada petani yang belum beruntung, dia akan kami beri Kartu Petani Bangkit. Dengan memiliki kartu itu, si petani akan memperoleh edukasi mulai dari penanaman hingga penjualan. Tak hanya itu, dia juga akan mendapat  bantuan bibit, pupuk, obat-obatan dan bahkan modal.

Melalui edukasi para petani akan menjadi pintar. Lahan sekecil apapun bisa dikelolanya secara maksimal. Jika biasanya tanam padi sekali setahun, ketika berilmu dia bisa tanam tiga kali setahun. Jika terbiasa tanam jagung dan padi, kita ajari tanam talas yang sanggup meningkatkan kolagen dan mengandung antioksidan sehingga harganya mahal. Talas bisa dieskpor ke Korea atau Jepang dan harganya jauh berlipat. Kami nanti bakal bantu membuka pasar ekspornya.

Kita juga akan bagikan Kartu Nelayan Bangkit karena kehidupan para nelayan stagnan. Yang untung besar tengkulak atau pengusaha-pengusaha besar. Nelayan terpaksa jual ke tengkulak dan terjadilah monopoli.

Melalui Kartu Nelayan Bangkit, para nelayan kita eduksi, kita bangunkan pabrik pengolahan ikan. Nah, kalau ada pabrik pengolahan ikan, maka akan ada penyerapan tenaga kerja. Sementara harga ikan akan baik karena kebutuhan naik. Jangan lupa, ikan tidak hanya bisa diolah jadi sarden, tapi juga bisa tepung ikan, kerupuk, dll. Maka  nelayan dan keluarga pendapatannya akan naik.

Kami juga sudah mengonsep keberadaan pasar ikan atau pelelangan ikan yang dilengkapi food court seperti di Muara Angke Jakarta, di bawah pasar ikan, di atasnya food court yang menyajikan berbagai masakan olahan ikan. Wisatawan bakal datang untuk makan ikan segar dan bakal menjadi wisata kuliner. Maka integrated tourism akan terbangun.

Bagaimana dengan UMKM atau PKL?

Nah, mereka juga bakal kami siapkan Kartu UMKM Bangkit dan Kartu PKL Bangkit supaya mereka mampu menjalankan usahanya dengan cara yang tidak biasa-biasa saja.

Misal para pelaku UMKM dan PKL kuliner, kita didik bagaimana memasak berbagai olahan, bagaimana menyajikan makanan, atau bagaimana etika melayani pelanggan. Kita juga akan bantu permodalan.

Bagaimana mengatasi problem PKL dan UMKM di Gresik yang tersebar di 18 kecamatan?

Alhamdulillah Gresik punya 165 ribu PKL. Kami akan buatkan sentra-sentra PKL dan UMKM yang selama ini belum ada guna menyiasati penyebaran mereka di 18 kecamatan.

Nanti akan kita bangun wilayah kerja pembantu bupati di Gresik, wilayah kerja pembantu bupati di Cerme, wilayah kerja pembantu bupati di Driyorejo, wilayah kerja pembantu bupati Sedayu dan wilayah kerja pembantu bupati Bawean. Jadi ada lima tempat yang akan kita bangun sentra PKL dan UMKM.

Mari kita hitung potensi Gresik yang memiliki 165 ribu PKL. Jika sehari keuntungan mereka Rp 10 ribu saja, itu sudah mencapai Rp 1,65 miliar. Kalau keuntungan mereka Rp 100 ribu per hari, sudah Rp 16,5 miliar, lha kalau sebulan mencapai Rp 495 miliar atau hampir setengah triliun rupiah.

Apa hal penting dari hitung-hitungan itu?

Jadi sebenarnya untuk menyejahterakan masyarakat tidak harus semuanya dari kocek pemerintah. Bahkan justru bisa terjadi simbiosis mutualisme. Kalau PKL jualannya laris dan keuntungan meningkat, maka retribusi buat pemerintah juga ada, sementara masyaralat memperoleh makanan yang bergizi.

Apa misi QA selanjutnya?

Misi keenam pembenahan infrastruktur. Berdasarkan survei yang QA lakukan, kami akan fokus peningkatan kualitas jalan. Jadi nanti seluruh jalan kabupaten di Gresik bakal dibeton sepanjang 512,56 km. Kalau jalan kabupten sudah dibeton semua, maka nanti lanjut jalan poros desa. Kalau jalan poros desa sudah oke, lanjut ke jalan desa.

Kami nanti juga akan tambah Anggaran Dana Desa (ADD) masing-masing Rp 1 miliar untuk tiap desa. Sebelumnya tiap desa sudah terima ADD antara Rp 1,6 miliar hingga Rp 2,5 miliar. Nah kita akan tambah Rp 1 miliar. Gresik memiliki 330 desa dan 26 kelurahan, jadi total kami akan gelontorkan Rp 356 miliar.

Nah tambahan Rp 1 miliar itu bisa digunakan para kades untuk mulai menyicil betonisasi jalan desa. Jadi nanti tidak perlu menunggu 5 tahun agar  seluruh jalan terbeton semua. Dana itu juga bisa dimanfatkan untuk infrastruktur pertanian seperti saluran irigasi atau jalan usaha tani (JUT), juga Jalan Irigasi Usaha Tani (JITUT).

Kenapa jalan penting bagi kami, jika jalan lancar maka perekonomian bakal menggeliat dan inflasi semakin kecil. Inflasi naik salah satunya didorong transportasi buruk. Segendel kangkung di desa yang harganya Rp 10 ribu,sampai kota Rp 25 ribu karena transportasi jelek.

Artinya bakal ada harapan perekonomian Gresik bakal semakin meningkat?

Betul, sebab daya saing perekonomian Gresik memang harus kita tingkatkan. Jadi cara berpikirnya bukan untuk internal Kabupaten Gresik, tapi kita harus menjadi yang lebih maju dan lebih unggul dibanding dengan kabupaten dan kota lain.

Maka pola pikir birokrasinya dalam revolusi industri 4,0 yang mau masuk 5,0 ini, harus kami ubah agar mindsetnya digitalisasi. Gresik Smart City harus terwujud dengan digitalisasi di segala aspek merupakan misi ketujuh. Birokrasi harus memahami pemakaian selular tidak hanya untuk telepon, sms atau WA. Bahkan saya ingin urusan KTP atau prizinan tidak harus orangnya datang ke kabupaten, cukup melalui gadget.

Terkait infrastruktur, bagaimana mengatasi problem tahunan banjir Kali Lamong?

Kami pasti akan memperhatikan persoalan lingkungan hidup karena juga terkait faktor kesehatan. Mengatasi banjir Kali Lamong merupakan prioritas utama kami. Perlu diketahui Kali Lamong  itu, seperti sungai Bengawan Solo atau sungai Brantas, kewenangan pembangunan ada di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) di Jakarta.

Selama ini untuk Kali Lamong, kami sudah mengajukan ke Jakarta tapi tidak diperbolehkan oleh BBWS dengan alasan harus ada Studi Larap yang jadi kewenangan BBWS.

Nah pada tahun ini kita sudah kembali meminta ke BBWS karena Bu Gubernur Khofifah juga risih melihatnya. Masa persoalan banjir tidak selesai-selesai?

Kali Lamong itu melewati  Mojokerto, Lamongan, Gresik dan Surabaya, jadi tidak mungkin hanya ditangani sendiri oleh Gresik. Harus ada sinergi antara kabupaten untuk mengatasi persoalan. Gresik kita tangani dengan baik tapi misal Mojokerto tidak, maka  kiriman airnya tetap saja meluber di Balongpanggang, Kedamaian, atau Mbenjeng. Sementara kalau Surabaya tidak diperbaiki  juga muncul problem karena terjadi bottle neck.

Kabar baiknya bagi warga Gresik, kami sudah melakukan Studi Larap dengan Universitas Brawijaya. Dan clear pada tahun 2021, uangnya sudah ada untuk membebaskan lahan bantaran sisi kiri-kanan sungai. Akan dibangun tangkis yang lebih besar dan kedalaman sungai dikeruk. Pada ujungnya nanti, Kali Lamong bakal sangat bermanfaat bukan hanya untuk pertanian, tapi bisa juga bahan air baku minum dan sarana wisata.

Apa misi kedelapan?

Kesempatan pekerjaan. Kami akan ciptakan 5 ribu lapangan kerja tiap tahun khusus bagi warga Gresik. Strateginya, di awal pemerintahan jika kami diberi amanah, perusahaan-perusahaan bakal kami kumpulkan, kami minta data jumlah karyawan yang mau pensiun bulan ini, bulan depan, satu semester, atau setahun.

Jangan lupa, jumlah pegawai yang pensiun pasti identik dengan kebutuhan karyawan yang bakal direkrut. Jadi kami dapat memaksimalkan perusahaan-perusahaan yang ada di Gresik untuk mempekerjakan warga Gresik.

Misal pada Maret 2021, total jumlah karyawan yang bakal pensiun sekian ribu dengan kualifikasinya seperti ini. Kalau kita bisa prediksi kebutuhan tenaga kerja untuk setahun ke depan, maka kita siapkan dan dibarengi mempersiapkan SDM-SDM yang memiliki spesifikasi yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan.

Kita akan siapkan BLK-BLK (Balai Latihan Kerja) dengan nara sumber atau pemateri kalangan akademisi, juga para praktisi dari perusahaan-perusahaan. Jika para praktisi ini ikut mendidik SDM, secara moral dia pasti tergerak untuk menarik anak-anak didiknya masuk ke perusahaannya.

Berapa jumlah perusahaan di Gresik?

Jumlah total 1.600 perusahaan dari industri besar hingga home industry. Belum lagi pengusaha properti atau developer yang membangun perumahan, kami nanti minta agar proyeknya padat karya dan pekerjanya orang Gresik. Anggota REI Gresik ada 200 perusahaan.

Kalau masing-masing dalam setahun membangun satu perumahan, artinya ada pembangunan 200 perumahan. Nah kalau setiap perumahan membutuhkan 20 pekerja padat karya warga, itu sudah melibatkan 4.000 tenaga kerja di Gresik. Jadi inshaallah 5 ribu lapangan kerja dalam setahun bisa terpenuhi.(bhimo)