PenaMerahPutih.com
Headline Indeks Nusantara

Peneliti ITS Soal Pemicu Longsor Nganjuk : Tak Mendidik Jika Selalu Salahkan Hujan

Bencana tanah longsor di Desa Ngetos
Bencana tanah longsor di Desa Ngetos, Kec Ngetos, Kab Nganjuk, Jatim. (BPBD Kab Ngajuk)

Surabaya, pmp – Menuding hujan sebagai pemicu terjadinya bencana longsor, contohnya longsor Ngetos Kabupaten Nganjuk Jatim, sebagai pernyataan kurang mendidik dan harus dievaluasi, sebab hujan hanyalah salah satu faktor yang mendorong terjadinya bencana hidrometeorologis.

“Pasalnya hampir setiap terjadi bencana hidrometeorologis, pemerintah mengeluarkan pernyataan hujan adalah pemicu,” kata Dr Ir Amien Widodo MSi, peneliti kebencanaan dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS Surabaya, Rabu (24/2/2021).

Menurut Amien, hujan hanyalah salah satu faktor yang mendorong terjadinya bencana hidrometeorologis. “Bakal tak mendidik jika terus menerus menyalahkan hujan karena generasi yang akan datang tidak akan belajar dari kesalahan dan hanya akan mengulang kesalahan yang sama,” tegasnya.

Amien kemudian memaparkan, hampir semua orang saat di bangku sekolah pernah mempelajari bagaimana karakteristik gerak sebuah benda pada bidang miring, di mana bakal bergerak saat faktor rekatan atau gaya gesek berkurang atau mengecil. “Juga karena adanya penambahan beban pada benda, serta membesarnya sudut kemiringan,” jelasnya.

Sama seperti peristiwa longsor, pergerakan tanah lebih rentan terjadi di lereng-lereng gunung yang memiliki kemiringan, sebab tanah yang menempel pada lereng gunung dapat dianalogikan benda pada bidang miring.

Baca Juga :   Tim ITS Ciptakan Petis atau Alat Pencuci Tangan Otomatis, Mampu Membaca Suhu Tubuh

Jika beban tidak bertambah berat dan sudut kemiringan jauh dari titik kritis, maka bakal berkurang kemungkinan terjadinya pergerakan tanah atau longsor.

Bencana tanah longsor di Desa Ngetos
Bencana tanah longsor di Desa Ngetos, Kec Ngetos, Kab Nganjuk, Jatim. (Humas ITS)

Bekurangnya Vegetasi

Tanah gunung terbentuk karena proses pelapukan yang dipengaruhi iklim, topografi, batuan, vegetasi dan waktu. Iklim hujan dan panas di daerah tropis dapat mempercepat terjadinya proses pelapukan bebatuan, sehingga tanah di Indonesia memiliki lapisan lebih tebal.

Seiring berjalannya waktu di mana  tanah gunung menebal dan pohon-pohon membesar, akar-akar pepohonan bakal berperan memegangi tanah agar tidak terjadi longsor. Pembebanan berlebih pun dapat ditahan dan tanah menjadi lebih stabil karena tidak mudah bergeser. Sebaliknya stabilitas tanah gunung bisa berubah karena beberapa hal.

Pertama berkurangnya vegetasi karena akar serabut membantu meningkatkan sifat kohesi tanah, sedangkan akar tunjang menjadi anchor atau paku pada batuan penyokong di bawahnya.

Hilangnya vegetasi pada umumnya dikarenakan penebangan, baik legal maupun illegal, selain kebakaran hutan atau terjangan angin kencang.

Kedua, stabilitas tanah dapat terganggu karena pemotongan lereng di bagian bawah. Sudut kemiringan lereng dapat bertambah karena pemotongan yang secara alami terjadi akibat erosi, sehingga lapisan tanah akan semakin mendekati posisi kritis atau tidak ideal.

Baca Juga :   Smart Classroom dan Smart Laboratory ITS Gabungkan Daring dan Luring

“Tetapi jangan lupa aktivitas seperti penambangan, pembuatan terowongan dan pelebaran rumah, juga dapat mempercepat lapisan tanah di kemiringan lereng mendekati titik kritis,” katanya mengingatkan.

Penyebab tanah longsor. (Humas ITS)
Penyebab tanah longsor. (Humas ITS)

Akibat Ulah Manusia

Penyebab ketiga ketidakstabilan tanah adalah penambahan beban yang berketerusan, sehingga menambah berat beban yang harus ditahan lapisan tanah. Penambahan beban secara alami dapat terjadi akibat longsoran yang menimbun.

Namun menurut Amien, penyebab paling banyak penambahan beban adalah ulah manusia seperti menimbun tanah untuk membangun rumah atau penyalahgunaan lereng sebagai tempat penimbunan sampah.

Penyebab keempat, penambahan kadar air yang umumnya terjadi pada saat hujan turun terus-menerus selama beberapa jam. Namun penambahan air juga dapat terjadi dengan pengadaan kolam dan persawahan. “Termasuk rembesan septictank dapat menambah beban berat air yang harus ditanggung tanah,” paparnya.

Semakin banyak air yang menjadi tanggungan tanah, semakin kecil daya ikat atau sifat kohesi tanah. Semakin kecil sifat kohesi tanah, semakin jenuh sifat tanah dan akan semakin rentan mengalami longsoran.

Penyebab kelima adalah getaran yang dapat mengubah atau melepaskan ikatan antarbutir tanah. Getaran yang mungkin mengenai tanah, misalnya gempa alami atau getaran buatan manusia seperti kendaraan berat dan kereta api.

Baca Juga :   Tim SAR Masih Cari Enam Orang Longsor Ngetos, Pemkab Nganjuk Tetapkan Tanggap Darurat
Longsor Ngetos Nganjuk
Proses pencarian korban longsor di Ngetos Nganjuk. (BPBD Jatim)

Hasil Kajian PVMBG

Penyebab keenam atau terakhir adalah pelapukan tanah yang menyebabkan terjadinya proses kimia dalam tanah, seperti proses pelindihan senyawa atau unsur pengikat tanah dan translokasi mineral lempung yang dapat mengurangi kekuatan ikatan antarmaterial penyusun tanah. Namun faktor ini membutuhkan penelitian dan penilaian lebih detail menggunakan analisis fisik, kimia dan biologi.

“Jadi faktor air seperti hujan hanyalah satu faktor penyebab longsor karena longsor pada umumnya merupakan kombinasi beberapa faktor tersebut,” tegas Amien.

Sebagai pelengkap analisa, Amien membeberkan hasil kajian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi yang turun ke lokasi bencana longsor Cihanjuang, Kabupaten Sumedang Jabar dan Ngetos Nganjuk Jatim yang terjadi di awal 2021.

PVMBG menyebut beberapa faktor yang terekam sebagai penyebab. Bencana longsor Sumedang disebabkan kemiringan lereng yang curam, serta adanya bekas area pertambangan. Sementara longsor Nganjuk disebabkan tanah lapuk yang tebal, vegetasi kurang, endapan vulkanik yang gembur, tanah jarang dan mudah luruh terkena air. (gdn)