PenaMerahPutih.com
Headline Indeks Spotlight

Marcus Rashford : Saat Itu Saya Terus Yakinkan Diri Bakal Berhasil Eksekusi Penalti

Marcus Rashford gagal eksekusi penalti membentur tiang gawang Gianluigi Donnarumma
Marcus Rashford tak bisa menyembunyikan penyesalan eksekusi penaltinya membentur tiang gawang Gianluigi Donnarumma.(uefa.com via getty image)

Jakarta, pmp – Marcus Rashford menjadi sasaran teror rasisme melalui media sosial sebagai buntut kegagalannya menjadi eksekutor ketiga Three Lions pada laga final EURO 2020 antara Italia melawan Inggris yang berkesudahan 1-1 dan dilanjutkan adu penalti yang dimenangkan Azzurri 3-2 di Stadion Wembley, Senin (12/7/2021) dini hari lalu.

Rashford sendiri telah menulis pernyataan yang sangat pribadi, menyentuh dan emosional melalui akun Twitter pribadinya @MarcusRashford pada Selasa (13/7/2021) tentang kegagalannya mengeksekusi penalti serta menjawab teror rasisme yang diterimanya

“Saya bahkan siap untuk sepanjang hari menerima kritik dan meminta maaf atas penampilan saya, tendangan penalti saya yang gagal, tendangan penalti yang seharusnya menjadi gol, tetapi saya tidak akan pernah meminta maaf soal siapa saya dan asal keturunan saya,” kata Rashford.

Pada laga final itu, Marcus Rashford dan Jadon Sancho memang baru diturunkan oleh pelatih Gareth Southgate tepat di menit ke-120 atau menit akhir babak perpanjangan waktu yang berarti keduanya memang disiapkan untuk menjadi algojo pada drama adu penalti.

Namun sayang, baik Rashford yang menjadi penendang ketiga dan Sancho keempat, keduanya gagal mencetak gol. Sedangkan Bukayo Saka, gelandang sayap Arsenal yang baru berusia 19 tahun dan menjadi penendang kelima, tampaknya terlalu berat memikul beban mental menjadi penendang terakhir untuk menyamakan kedudukan gol di saat Three Lions sudah ketinggalan 3-2 sehingga tendangannya terlalu mudah diantispasi Gianluigi Donnarumma.

Baca Juga :   Ini Tiga Faktor Keberuntungan Italia, Jawara Tak Terkalahkan EURO 2020

Beban paling berat tampaknya memang dirasakan Rashford karena bola yang dieksekusinya hanya membentur tiang kanan gawang sementara Donnarumma justru sudah terlanjur bergerak ke kiri. Adapun Sancho dan Saka, tendangan keduanya dipatahkan Donnarumma.

Berikut pernyataan lengkap Marcus Rashford seperti dirilis manutd.com. situs resmi Manchester United yang juga telah mengutuk teror rasisme yang diterima striker andalannya tersebut :

Marcus Rashford (11) dan Šime Vrsaljko (7), bek kiri Kroasia
Marcus Rashford (11) dan Šime Vrsaljko (7), bek kiri Kroasia, pada laga pembuka grup D yang dimenangkan Inggris 1-0.(uefa.com via getty image)

“Saya bahkan tidak tahu harus mulai dari mana dan saya bahkan tidak tahu bagaimana mengungkapkan dengan kata-kata tentang bagaimana perasaan saya saat ini. Saya sedang mengalami masa sulit dan saya pikir mungkin semua orang melihat dengan jelas bahwa saya masuk ke lapangan pada laga final itu dengan rasa kurang percaya diri.

Padahal saat itu saya justru terus berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa saya bakal berhasil mengeksekusi penalti. Namun rasanya memang ada sesuatu yang terasa tidak pas dan saya merasa seolah bakal mengecewakan seluruh rekan satu tim dan pendukung.

Baca Juga :   Inggris vs Denmark : Menunggu Wembley Bergemuruh Sambut Rekor Baru Three Lions

Padahal penalti adalah tugas yang dipercayakan kepada saya agar bisa berkontribusi untuk kemenangan tim. Jika saat tidur saja saya bisa bermimpi mencetak gol lewat tendangan penalti, mengapa saya tidak melakukannya di laga final yang krusial? Jujur saja, kesempatan emas seperti itu tentu sudah tertanam di kepala saya sejak mulai belajar menendang bola.

Jadi sepertinya memang tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan bagaimana perasaan saya saat itu (melihat bola membentur tiang). Padahal itu merupakan laga final, satu kesempatan penalti, penantian 55 tahun buat Inggris dan tentu saja memecahkan kebuntuan sejarah. Satu kata yang bisa saya ucapkan hanyalah : Maaf.

Apa yang saya harapkan ternyata hasilnya jauh berbeda dan saya meminta maaf kepada seluruh rekan satu tim dan seluruh pendukung. Padahal musim panas ini telah menjadi salah satu kamp terbaik (bersama tim Inggris melakoni EURO 2020) yang pernah saya alami. Sebuah persaudaraan telah dibangun dan tidak bisa dihancurkan. Kesuksesanmu adalah kesuksesanku dan kegagalanmu adalah kegagalanku juga.

Saya tumbuh besar di dunia olah raga sehingga saya sudah terbiasa membaca berbagai hal yang ditulis tentang diri saya. Entah itu tentang warna kulit saya, tempat saya dibesarkan, atau bagaimana saya menghabiskan waktu di luar lapangan. Jadi saya siap untuk sepanjang hari menerima kritik dan meminta maaf atas penampilan saya, tendangan penalti saya yang gagal, tendangan penalti yang seharusnya menjadi gol, tetapi saya tidak akan pernah meminta maaf soal siapa saya dan asal keturunan saya.

Baca Juga :   Top Skor, Top Assists dan Sprinter Tercepat EURO 2020 Jelang Delapan Besar

Anda perlu tahu bahwa saya tidak pernah merasakan momen yang lebih membanggakan dibanding mengenakan kostum Three Lions di dada dan melihat keluarga menyemangati saya di antara puluhan ribu orang. Sejak kecil saya telah memimpikan momen tersebut.

Pesan yang saya terima hari ini sangat luar biasa dan melihat tanggapan di Withington membuat saya hampir menangis. Komunitas yang selalu mendukung saya ternyata terus memberi dukungan.

Saya Marcus Rashford, pria kulit hitam berusia 23 tahun dari Withington dan Wythenshawe, Manchester Selatan, sudah tidak punya kata-kata lagi untuk disampaikan, hanya itu, terima kasih untuk semua pesan baik. Saya akan kembali kuat dan kami semua akan kembali lebih kuat.”(bim)