EkbisHeadlineIndeksMakro

Ekspor Kopi 60% Masih Biji Mentah, BI Dorong Petani Terus Tingkatkan Nilai Tambah

×

Ekspor Kopi 60% Masih Biji Mentah, BI Dorong Petani Terus Tingkatkan Nilai Tambah

Sebarkan artikel ini
Direktur Advisor BI Jatim, Ridzky Prihadi Tjahyanto (kedua dari kiri) bersama tiga pembicara Talkshow JCFF 2025 di Surabaya, Senin (25/8/2025).

“Kopi menjadi salah satu komoditas perkebunan yang strategis di Indonesia dan memberi kontribusi yang cukup besar bagi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi karena melibatkan sekitar 1,8 juta petani di industri ini,” katanya dalam Talkshow Java Coffee and Flavor Festival (JCFF) 2025 bertema ‘Kopi Spesialti dari Desa, Strategi Branding dan Cerita Kopi’ di Hotel Arcadia, Surabaya, Senin (25/8/2025).

Rizdky mengatakan setidaknya ada 20 daerah yang memiliki potensi produksi kopi seperti di beberapa daerah Jawa Barat, di Jawa Timur seperti Banyuwangi ijen, Malang, juga dari Toraja Sulawesi, dan Kintamani Bali. Produksi kopi di Pulau Jawa tercatat menyumbang 13% produksi nasional.

Produksi kopi di Jatim yang sudah mampu bersaing di skala global seperti kopi dari Bondowoso, Banyuwangi,  Jember, dan Malang. Rizdky menyebut pada 2024 produksi kopi Jatim mencapai 57.365 ton dari perkebunan rakyat. Jumlah ini menyumbang 16% dari volume ekspor kopi Indonesia.

“Namun 60% ekspor produksi kopi Indonesia masih dalam bentuk mentah. Karenanya nilai tambah komoditas kopi masih bisa kita dorong agar lebih tinggi,” tandasnya.

Baca Juga :  JCFF 2025 Bernuansa Wisata Kota Lama Surabaya, Suguhkan Olahan Kopi, Rempah, dan Coklat

Ridzky pun mengungkapkan Bank Indonesia mendorong petani kopi agar terus meningkatkan nilai tambah, baik melalui peningkatan merk, peningkatan kualitas produk hingga menjual melalui cerita dan kisah pembuatan kopi.

“Mungkin tidak hanya menjual kopi di kafe-kafe namun juga harusnya bisa menjual cerita seperti apa sih produksi kopi dari mulai menanam, prosesnya. Bahkan, ternyata kunci utama produksi kopi ini ada diprosesnya, bagaimana rostingnya sehingga menghasilkan cita rasa yang unik,” kata Rizdky.

Itulah mengapa, lanjutnya, BI sangat concern untuk mendorong kemajuan UMKM kopi dalam pengembangan usaha mulai dengan bagaimana desain visual, brandingnya agar memiliki daya saing.

Rizdky menegaskan program BI Jatim ikut memajukan perkebunan kopi ini merupakan salah satu mandat  dari BI yaitu mendorong ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

“Kita coba untuk memberdayakan UMKM perkebunan kopi supaya tidak hanya selevel menjual biji kopi mentah saja, tapi lebih bisa diolah jauh lagi. Hilirisasinya seperti apa, karena hilirisasi kan salah satu cita-cita pemerintah juga dan bagian dari misi gerbang baru Nusantara  khususnya di Jatim untuk meningkatkan produksi kopi kita agar lebih bernilai tambah,” kata Rizdky.

Baca Juga :  BI dan Pemprov Pastikan Iklim di Jatim Kondusif bagi Investasi

Kiat BI Jatim meningkatkan produksi kopi agar lebih bernilai tambah salah satunya melalui JCFF 2025 yang digelar selama tiga hari (23-25 Agustus) yang menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari Educafe sebagai ruang edukasi bagi UMKM kopi melalui talkshow dan workshop, hingga business matching yang mempertemukan pengusaha dengan pembeli potensial dari dalam dan luar negeri. BI Jatim menargetkan transaksi sebesar Rp30 miliar serta penyaluran pembiayaan untuk UMKM hingga Rp20 miliar.

Pada hari ketiga, kegiatan talkshow dengan tema Kopi Spesialti dari Desa, Strategi Branding dan Cerita Kopi menghadirkan tiga pelaku industri kopi yang diharapkan bisa memberi inspirasi banyak UMKM meningkatkan nilai tambah melalui kualitas produk dan branding agar mampu bersaing di skala global. Ketiganya yakni Juara 2 World Brewers Cup 2025 Bayu Prawiro, Head of People and Coffee Solution Anomali Group Donna Elvina, dan pemilik Wanoja Coffee Jawa Barat Eti Sumiati.

Baca Juga :  Ekspedisi Rupiah Berdaulat Nasional ke-17 Digelar di Lima Pulau Terpencil di Jatim

Bayu Prawiro menceritakan kiprahnya yang dimulai dari kantin kopi di kampusnya, mengajak para pemilik kafe untuk terus meningkatkan branding melalui inovasi produk minuman. Donna Elvina mengajak para petani untuk terus meningkatkan kualitas melalui kurasi kopi agar mampu bersaing di tingkat global. Bahkan melalui academy coffe Donna mengajak petani bermitra menghasilkan berbagai campuran kopi bercita rasa buah-buahan yang mulai banyak diminati pasar.

Sementara pensiunan ASN, Eti Sumiati (71 tahun) mengisahkan sepak terjangnya menggeluti industri kopi sejak tahun 2012, suka dukanya memperoleh label SNI, halal PIRT hingga HACCP. Hasilnya Wanoja Coffee yang sudah memiliki lebih dari 100 karyawan yang didominasi perempuan kini mampu mengekspor kopi hingga 18 ton ke Belanda. (hap)