kurs
SURABAYA, PMP – Pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berlanjut disebabkan kondisi ketidakpastian yang terjadi baik di pasar global dan internal. Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Selasa (22/4/2025) pagi di Jakarta melemah sebesar 38 poin atau 0,23 persen menjadi Rp16.845 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.807 per dolar AS.
Pakar Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair Prof Imron Mawardi menjelaskan bahwa faktor penyebab pelemahan rupiah dapat dilihat dari dua sisi yakni faktor global dan domestik.
“Faktor global yang cukup panas, seperti kebijakan tarif Trump, menyebabkan ketidakpastian di pasar global. Kebijakan tersebut memengaruhi ekonomi dunia dan pasar keuangan yang berimbas pada penurunan nilai tukar berbagai mata uang, termasuk rupiah,” jelasnya di Surabaya, Selasa.
Sementara ketidakstabilan politik dan ekonomi domestik, seperti penurunan harga komoditas dan kebijakan yang tidak konsisten, membuat investor merasa ragu dan menarik investasinya. Hal itu memicu tekanan pada nilai tukar rupiah.
Dampak dari pelemahan rupiah ini cukup signifikan, terutama bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor. Kondisi itu menyebabkan harga barang dan produksi dalam negeri meningkat, yang pada gilirannya memicu inflasi.
“Ketika rupiah melemah, biaya impor menjadi lebih mahal, terutama untuk bahan baku industri. Ini akan berdampak pada harga produksi, yang kemudian menyebabkan inflasi cost-push, yaitu inflasi yang dipicu oleh peningkatan biaya produksi,” katanya.
Meskipun begitu, Imron optimistis Indonesia masih memiliki potensi besar untuk menarik investasi, meskipun ada tantangan dari negara lain seperti Vietnam. Indonesia memiliki pasar yang besar dan daya tarik yang kuat. Namun, untuk tetap kompetitif, perlu diciptakan iklim usaha yang kondusif, dengan memberikan insentif bagi investor asing dan menciptakan kebijakan yang lebih stabil.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah.
“Pemerintah harus mendorong ekspor dan menarik investasi asing dengan cara yang lebih terstruktur. Sementara BI perlu melakukan intervensi untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah di jangka pendek,” tuturnya.
Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, menjaga stabilitas ekonomi membutuhkan kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Peningkatan ekspor, stabilitas kebijakan ekonomi, serta peran aktif masyarakat dalam mendukung produk lokal menjadi kunci untuk mengatasi pelemahan rupiah yang terus berlanjut.(hap)












