
BOGOR, PMP – Ribuan pengungsi dari berbagai negara yang dilanda konflik hidup dalam ketidakpastian selama bertahun-tahun di Indonesia. Tanpa izin untuk bekerja dan kepastian kapan bisa dipindahkan ke negara tujuan suaka, mereka hanya dapat mengandalkan dukungan keluarga serta bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, akses layanan kesehatan dan pendidikan.
PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) terpanggil untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp500 juta kepada 500 pengungsi di wilayah Bogor dan sekitarnya. Bantuan ini diberikan melalui Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia, organisasi kemanusiaan yang selama ini aktif mendampingi para pengungsi dari luar negeri.
Direktur Sido Muncul Dr. (H.C.) Irwan Hidayat mengatakan mengatakan, kondisi para pengungsi yang hidup tanpa kemampuan bekerja dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari menjadi alasan utama pihaknya turun tangan.
“Pengungsinya macam-macam, dari Afghanistan, Irak, Myanmar, sampai 50 negara. Dan repotnya, para pengungsi itu nggak bisa kerja. Kalau kerja ditangkap, dideportasi. Padahal mereka nggak punya paspor. Ada yang tinggal di sini sampai 12 tahun, bahkan lebih,” katanya melalui keterangan yang dikutip Selasa (2/12/2025)
Irwan menceritakan bahwa niat memberikan bantuan muncul setelah ia berbincang dengan pihak gereja yang tengah membahas kondisi para pengungsi luar negeri dan upaya penggalangan dana untuk mereka.
“Kemarin saya ke gereja, ngomong soal refugee (pengungsi). Mereka cari dana di gereja-gereja. Saya bilang nanti kami nyumbang. Makanya dilaksanakan pada 19 November ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, pilihan menyalurkan bantuan melalui JRS Indonesia karena lembaga tersebut sudah lama mendampingi para pengungsi yang tidak memiliki akses legal bekerja.
Dalam kesempatan itu, Irwan mengungkapkan empatinya terhadap nasib para pengungsi yang harus meninggalkan semua yang mereka miliki akibat konflik.
“Saya tidak kebayang kalau jadi pengungsi. Pergi seminggu saja saya tidak tahan, apalagi harus meninggalkan semuanya, hidup di negeri orang bertahun-tahun,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat Indonesia harus bersyukur karena hidup dalam kondisi damai dan makmur dibandingkan negara-negara asal para pengungsi.
Dalam sambutannya, Marco Jonathan Hidayat, menjelaskan Sido Muncul sejak lama menjadikan nilai kemanusiaan sebagai dasar dalam menjalankan program corporate social responsibility (CSR).
Menurutnya, kondisi para pengungsi yang masih membutuhkan dukungan dalam pemenuhan kebutuhan dasar menjadi alasan perusahaan terus konsisten menyalurkan bantuan.
“Sido Muncul memandang persoalan kemanusiaan sebagai tanggung jawab bersama, tanpa batas negara atau latar belakang,” ujarnya.
Marco berharap bantuan uang tunai dari Sido Muncul ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam membantu dan meningkatkan kualitas layanan kemanusiaan bagi para pengungsi.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Nasional JRS Indonesia, Romo Martinus Dam Febrianto SJ, menyampaikan apresiasi atas dukungan Sido Muncul di tengah menurunnya bantuan kemanusiaan global dari negara-negara maju.
“Dukungan dari perusahaan lokal seperti Sido Muncul merupakan kabar baik bagi para pengungsi. Kami sangat senang Sido Muncul hadir di antara kami dan mendukung sebagian dari komunitas pengungsi di Cisarua, Bogor. Semoga bantuan ini juga dapat menginspirasi perusahaan-perusahaan lain untuk menunjukkan solidaritas kepada mereka yang membutuhkan,” ujarnya.
Ia menegaskan, bantuan yang diberikan akan dijalankan secara akuntabel hingga awal tahun depan dan diarahkan sepenuhnya bagi para pengungsi yang paling membutuhkan.
Romo Martinus menambahkan sebagian para pengungsi yang tinggal di Cisarua, Cipayung, dan wilayah sekitar Bogor telah hidup di Indonesia lebih dari 10 tahun dan tidak diperbolehkan bekerja sehingga menggantungkan hidup pada bantuan lembaga kemanusiaan.
“Kami kalau mau memberikan bantuan kepada para pengungsi itu ada kriteria mereka yang paling rentan itu yang kami bantu. Ada semacam need assessment,” ujarnya.
Abdullah Saffari (43 tahun), pengungsi asal Provinsi Daykundi, Afghanistan, mengungkapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Sido Muncul. Abdullah sudah tinggal di Indonesia sejak 2013 dan kini memasuki tahun ke-12 sebagai pengungsi.
“Saya tinggal di Indonesia sudah hampir 12 tahun. Di sini kami tidak punya hak kerja. Kadang-kadang ada yang sakit, tapi tidak bisa bayar biaya rumah sakit atau biaya hidup,” ujarnya.
Selama hidup di Indonesia, Abdullah mengaku banyak bergantung pada bantuan JRS, UNHCR dan lembaga kemanusiaan lainnya. Biaya hidup hariannya kini mencapai lebih dari Rp2 juta per bulan, terutama akibat kenaikan sewa rumah.
“Hari ini sudah dapat bantuan dari Sido Muncul. Kami berterima kasih karena mereka sudah bantu kami,” kata Abdullah, sembari berharap proses penempatan ke negara ketiga bisa kembali berjalan. (hap)












