
JAKARTA, PMP – Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra berpulang pada Sabtu (26/9/2026), pukul 04.16 WIB, di Rumah Sakit MRCCC Siloam Semanggi Jakarta. Guruh yang lahir yang lahir di Jakarta, 13 Januari 1953, menutup perjalanan hidup di usia 73 tahun.
Guruh dan Erros Djarot memiliki kedekatan hubungan laiknya saudara, karena Erros selama kurang lebih tiga tahun, 1975—1977, pernah tinggal di Jalan Sriwijaya No. 26, rumah Ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno. Di sana waktu itu tinggal Ibu Fatmawati, Guruh, Sukma dan suami pertamanya, Jiwo Mangkunegoro.
Erros yang lebih tua tiga tahun mengenal Guruh saat keduanya sama-sama menjadi mahasiswa di Eropa kisaran tahun 1972-1974. Guruh belajar antropologi budaya di Belanda, sedangkan Erros kuliah teknik di Jerman. Mereka menjadi sahabat karena Erros adalah pengagum Bung Karno dan junior Guntur Soekarnoputra, kakak Guruh, di GMNI. Keduanya semakin lengket karena sama-sama mencintai dunia kesenian dan terutama musik.
Baca juga : Guntur Dibujuk Jadi Menteri Muda Urusan Pemuda Kabinet Soeharto (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 2)
“Pada minggu pertama bulan April 1975, saya mendarat kembali di Bandara Kemayoran, Jakarta. Menginjakkan kaki kembali di Jakarta setelah selama lima tahun berada di Jerman Barat, perasaan aneh, haru, dan banyak lagi berbaur jadi satu. Ketika melihat Mas Slamet Rahardjo yang datang menjemput, saya berlari dan memeluknya erat-erat. Sangat lama kami saling berpelukan. Kerinduan jumpa kakak, sahabat, dan kawan sejati yang selama lima tahun selalu saya rindukan, membuat saya tak kuasa menahan air mata yang jatuh berderai, begitu pula Mas Slamet,” tulis Erros dalam Autobiografi Erros Djarot jilid 1.
Bau keringat dan kehangatan tubuhnya yang saya sangat kenal, saat itu masih dengan baik saya kenali. Seluruh peristiwa masa kecil yang kami lalui bersama dalam suka dan duka, satu per satu berdatangan dalam benak seperti pemutaran ulang adegan dalam sebuah film nostalgia yang begitu detail.
Saran Inspiratif Ibu Fatmawati
Saat awal di Jakarta, saya menyempatkan diri berkunjung ke kediaman Guruh Soekarnoputra di Jalan Sriwijaya No. 26. Di samping membicarakan masalah musik, saya juga bisa lebih berkenalan secara langsung dengan Ibu Fatmawati, Indonesian First Lady ever.
Saya banyak membicarakan dengan Guruh tentang apa rencana saya selanjutnya, begitu juga Guruh dengan rencana karya musiknya ke depan. Sesekali, saat berdialog dengan Guruh, Bu Fat ikut berpendapat betapa Bu Fat lebih menyukai lagu-lagu tahun 1950-1960-an yang menurut beliau lebih indah dari pada musik yang beredar di pasar musik Indonesia di tahun 1970-an itu.
Bu Fat sangat senang mendengar konsep Guruh yang akan memproduksi musik perpaduan antara musik diatonik “barat” dan musik “timur” pentatonik-tradisional Bali.
“Kau juga Erros, bikinlah musik yang indah. Gunakan Bahasa Indonesia yang baik. Lagu-lagu dulu itu, syairnya indah-indah. Masak kalian tidak bisa?”
“Sedang usaha, Bu.”
“Kalau kalian mau, kalian pasti bisa. Itu yang selalu Bapak, Bung Karno, bicarakan kepada para seniman.”
Kalimat ini, yang keluar begitu saja apa adanya dari Ibu Fatmawati, istri “guru besarku” ini, tanpa disadarinya telah turut mendorong saya dan Guruh dalam perjalanan selanjutnya di dunia penciptaan karya musik.
Dalam perjalanan selanjutnya, Guruh dan saya bersepakat untuk menempatkan pemuliaan Bahasa Indonesia dalam dunia lirik lagu-lagu ciptaan kami berdua. Sebagai catatan, selanjutnya saya dan Guruh sengaja membeli beberapa kamus Bahasa Indonesia dari sejumlah karya ahli bahasa yang berbeda. Sementara Guruh yang memang sekolah pada jurusan antropologi budaya semasa kuliah di Belanda, memperdalam dan mengutak-atik Bahasa Sansekerta saat meramu karya lagu-lagu musik Guruh Gipsy.

Menjadi Music Director Film “Kawin Lari” Sebuah “Kecelakaan”
Sambil menunggu kegiatan selanjutnya, saya melihat kegiatan Mas Slamet yang tengah merampungkan syuting film Kawin Lari. Film ini dibintangi Christine Hakim dan Mas Slamet, dengan sutradara Teguh Karya. Nama Teguh Karya sebagai sutradara, Mas Slamet dan Christine sebagai aktor dan aktris, saat itu tengah naik daun setelah film Cinta Pertama meraih sukses di pasar film Indonesia. Film mereka ini membuat Mas Slamet dan Christine menjadi pasangan yang diidolakan publik, terutama di kalangan kaum muda.
Di suatu siang, saya berjanji akan menemui Mas Slamet di Sanggar Teater Populer yang waktu itu masih berlokasi di Jalan Kebon Kacang IX, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Tapi ternyata Mas Slamet meminta saya menemuinya di sebuah kantor film yang berlokasi tak jauh dari pertokoan Pasar Baru.
Setibanya saya di lokasi, saya diterima penjaga kantor yang memang sudah ditinggali pesan oleh Mas Slamet, agar saat saya datang langsung diantar ke ruang preview, di mana rush copy film Kawin Lari tengah diputar.
Rush copy adalah hasil dari pengambilan gambar yang sudah diproses melalui laboratorium menjadi gelondongan film positif. Oleh seorang editor, gelondongan film itu disusun adegan demi adegan agar bisa diputar melalui proyektor untuk ditonton oleh sutradara, pemain film, dan film crew.
Tahapan ini diperlukan, karena masa itu shooting dilakukan secara analog. Perekaman gambar masih menggunakan film negatif. Belum melalui proses digital di mana hasil pengambilan gambar bisa langsung dilihat oleh sang sutradara. Tidak perlu melalui proses pencucian film negatif di laboratorium film.
Rupanya siang itu, rush copy film Kawin Lari tengah diputar. Ketika saya memasuki ruang preview, tempat pemutaran rush copy, ruangan sudah dalam keadaan gelap. Pada saat saya melipir menuju ke deretan kursi paling belakang, sekilas sempat saya lihat Mas Slamet, Christine, dan Teguh Karya duduk di deretan kursi paling depan. Di belakangnya, sederetan tempat duduk diisi oleh para crew dan pemain film yang lain.
Saya sengaja mengambil tempat di pojok deretan tempat duduk paling belakang. Adegan demi adegan yang diputar ulang berkali-kali dan sesekali dikomentari Teguh Karya, terpaksa harus saya saksikan tanpa tahu apa yang sedang terjadi.
Teguh Karya sebagai sutradara terkadang berdiri dan berbicara kepada para crew dan terkadang langsung kepada Christine atau Mas Slamet, memberi petunjuk dan arahan setiap kali adegan yang dirasakan kurang pas. Begitu seterusnya, berulang kali, pindah dari adegan yang satu ke adegan yang lain.
Hampir satu jam saya harus sendiri duduk di pojok dalam kegelapan tanpa kegiatan lain, kecuali menonton pemutaran rush copy, tanpa suara, seperti tengah menonton film bisu. Karena di masa itu, pengisian suara termasuk dialog, dilakukan masih dalam teknik pengadaan suara yang harus dibuat lewat proses dubbing.
Sesekali terdengar suara Teguh Karya memberi arahan, terkadang menjawab pertanyaan dari pemain maupun crew yang meminta penjelasan lebih detail dari adegan tertentu.
Ruangan preview kembali senyap. Hanya suara mesin proyektor yang menjadi sumber suara satu-satunya yang memenuhi seisi ruangan. Adegan demi adegan yang dilihat berkali-kali berjalan mulus. Artinya semua berjalan sesuai harapan dan arahan dari sutradara, Teguh Karya. Namun ketika ada adegan yang diputar berulang kali tanpa koreksi Teguh Karya, entah mengapa, mungkin didorong rasa jenuh yang sangat saya rasakan, tanpa sadar saya nyeletuk.
“Wah, gak mungkin itu. Terlalu over,” celetuk saya.
Atas celetukan spontan ini, tiba-tiba terjadi satu peristiwa yang sangat mengejutkan. Saya yang tak bermaksud apa-apa melontarkan celetukan yang memang tidak biasa dilakukan oleh para crew maupun pemain, mendadak shock. Saya merasa bersalah karena telah melakukan sesuatu yang sangat tidak pantas. Mata saya menatap ke arah Teguh Karya yang berdiri mengarahkan pandangannya ke tempat di mana saya berada.
Dengan suara penuh wibawa ia bertanya, “Siapa tadi yang komentar?”
Menyadari pertanyaan itu ditujukan pada diri saya, demi Tuhan saya mendadak ciut, pucat, salah tingkah, dan gelisah ketakutan. Tapi saya yang merasa telah melakukan kesalahan terpaksa angkat tangan mengakui.
“Oh kamu, baru aja jadi musisi kemarin sore udah sok tahu.”
“Maaf, Om Steve.”
Saya memang selalu memanggilnya dengan sebutan Om Steve kepada Teguh Karya yang sudah kami anggap seperti saudara tua Mas Slamet.
“Enggak usah minta maaf. Jangan mulut besar. Buktiin kamu ngerti film. Kamu bikin ya musik buat film ini. Jangan cuman bisa ngomong doang. Ya udah itu aja.”
“Iya, Om.”
Teguh Karya kembali duduk. Tubuhnya yang hanya terkadang dapat terlihat karena adanya percikan sinar lampu proyektor, bagi pandangan mata saya saat itu, seperti tengah melihat sosok hantu yang sangat menakutkan.
Guruh Yakinkan Erros Garap Musik “Kawin Lari”
Saya temui Guruh Soekarnoputra dan langsung menceritakan apa yang terjadi. “Aku nervous Gur. Boro-boro bikin musik buat film, musik film itu apa dan bagaimana pasalnya aja gue gak tahu Gur.”
“Lho, kamu kan orang nekat, tumben takut? Kalo pendapat gue Ros, ini kesempatan. Kesempatan yang sama, jarang datang dua kali. Ambil Ros!” kata Guruh.
Selanjutnya kami berdua terlibat percakapan panjang. Akhirnya saya teryakinkan.
“Oke deh Gur. Kamu kan tahu gue gak bisa baca tulis do-re-mi-nya musik. Mana temen-temen gue di Barong’s Band semua dah pada pulang ke Jerman. Kalo si Tri Sudewo masih ada di Jakarta, gue gak senervous begini…!”
“Tapi kan kamu punya Om yang pemusik juga, temennya Mas Idris Sardi yang pemain perkusi di Band Eka Sapta sama Mas Ireng Maulana, dan lain-lain. Minta tolong dia aja. Dia kan bisa baca tulis musik juga? Lagian filmnya kan masih belum selesai shooting. Masih banyak waktu.”
Benar juga, saya memang mempunyai paman, adik ibu saya, yang juga seorang art director di film Kawin Lari. Namanya Benny Benhardi. Minta pertolongan kepadanya sangat tepat untuk membuat musik film Kawin Lari.
Musik untuk Kawin Lari saya konsepkan agar tidak terlalu mendayu, dipenuhi pola full orkestra. Selain saya hindari, juga pasti tak mampu karena menyadari saya tidak sehebat Mas Idris Sardi yang memang musisi profesional. Sedangkan yang saya konsepkan adalah sebuah ilustrasi musik sederhana, perpaduan antar musik umum di dunia pop dengan musik keroncong stambul, yang menjadi konsumsi musik kalangan tertentu dan masih lekat aroma tradisionilnya.
Sedang untuk grup keroncong yang saya mau, sudah saya dapatkan rekomendasi dari Guruh, yaitu grup Keroncong Tugu yang mayoritas pemainnya terdiri para lanjut usia. Sementara untuk musik yang bersifat umum, saya masih mempunyai kawan yang tetap ada di Jakarta, Debby Nasution.
Dengan kumpulan personel inti yang sudah lama saya lobi dan akhirnya terbentuk menjadi satuan kerja kesenian, saya mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menghadirkan musik film Kawin Lari.
Piala Citra Pertama
Beberapa hari berada di Paris sepulang saya dari Jakarta, pada suatu pagi sekali, ruang kamar Kemal di mana saya tidur saat menginap di situ, diketuk Dewi yang memberitahu ada telepon dari Jakarta.
“Halooo Dik, iki aku.” Halo Dik, ini saya. Suara yang terdengar sayup, tak salah lagi saya pastikan suara dari Mas Slamet.
“Ono opo Mas?” Ada apa Mas? Saya bertanya khawatir akan menerima berita duka karena tak seperti waktu biasa ia menelepon.
“Ora ono opo-opo, Dik. Aku mung arep nyampekke, selamet kowe menang Piala Citra, Dik.” Nggak ada apa-apa, Dik. Saya hanya ingin menyampaikan, selamat kamu menang Piala Citra, Dik.
“Opo kui?” Apa itu?
“Lho kamu nggak tahu? Piala Citra itu semacam Oscar-nya di perfilman Indonesia. Kamu menang sebagai penata musik terbaik, The Best Music Director.”
Saya hanya terdiam, tidak tahu harus bicara apa.
“Halo Dik, haloooo…, ya sudah, saya hanya mau ngasih tahu itu.”
Tanpa basa-basi, Mas Slamet menyudahi percakapan lewat telepon. Saat percakapan selesai, saya masih kurang mengerti apa yang barusan Mas Slamet sampaikan. Tidak langsung bersukacita mendengar berita yang menggembirakan itu. Yang terjadi malah saya jadi bingung, mau apa saya dengan Citra itu? Saya tidak begitu tahu apa itu Citra. Tidak pernah membayangkan, apalagi mengharapkan mendapatkannya.
Saya mengerjakan ilustrasi untuk film itu hanya karena terpaksa memenuhi janji, setelah menyanggupi membuat musik untuk film Teguh Karya Kawin Lari yang dibintangi Mas Slamet dan Christine Hakim. Tanpa mengetahui secara pasti apa dan bagaimana musik film berfungsi dan apa perannya dalam sebuah film. Sehingga etos kerja yang terbangun dalam kerja saat merampungkan penggarapan musik film Kawin Lari, saya buat semampu saya dengan penggaris bawahan, bisa menyelesaikannya tepat waktu saja sudah untung. Jadi tidak cukup kuat alasan bagi saya untuk merayakan kemenangannya. Begitu kira-kira yang ada dalam benak saya. (Kukuh Bhimo Nugroho)
*Naskah ini dinukil dari buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1 yang terbit September 2025. Buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, jilid 3, dan “Erros Djarot Apa Kata Sahabat”, bisa dibeli melalui link berikut : Budaya Cerdas.












