HeadlineIndeksSpotlight

Erros Djarot: Dekat KSAU Omar Dhani, Bapak Difitnah Dukung G30S PKI

×

Erros Djarot: Dekat KSAU Omar Dhani, Bapak Difitnah Dukung G30S PKI

Sebarkan artikel ini
Erros Djarot, Dewi Djarot, dan bapak Djarot Djojoprawiro. (foto: FB @dewidjarot)

JAKARTA, PMP – Djarot Djojoprawiro, bapak dari Erros Djarot dan Slamet Rahardjo, seorang perwira Angkatan Udara (AU) yang pernah menjabat Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Tanjung Pandan Belitung dan dekat dengan KSAU (Kepala Staf Angkatan Udara) Marsekal Omar Dhani. Kedekatan itu dijadikan bahan fitnah, bahwa Komandan Djarot pendukung G-30-S/PKI.

Peristiwa di seputar tahun 1965 itu ditulis Erros Djarot dalam buku Autobiografi Erros Djarot jilid 1 yang beredar di pasaran sejak September 2025. Berikut cuplikan naskahnya yang merupakan serial tulisan ke-12 di PMP, berkisah setelah Erros dan Slamet “dipaksa” bapaknya untuk pindah dari Yogyakarta ke Tranjung Pandan setelah situasi politik di Kota Gudeg dan nasional memanas pasca-Gestok (Gerakan Satu Oktober) atau G-30-S/PKI:

Baca juga:  G30S PKI: Diseret Keluar Rumah, Digebuki hingga Nyawa Melayang

Saat itu Indonesia dan Singapura memang sedang bersitegang, bahkan putus hubungan diplomatik. Singapura diposisikan Bung Karno sebagai antek imperialis Amerika yang harus disetrika dan Inggris harus dilinggis.

Saya mulai didaftarkan dan bersekolah sebagai murid kelas 3 di SMP Negeri I, Tanjung Pandan. Di sekolah ini cukup banyak kawan sekolah yang berasal dari keturunan Tionghoa. Bahkan salah satu adik kelas saya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP, gadis belia yang wajahnya sangat menawan bernama Tjung Yie Sim, kepadanya sempat saya berikan perhatian khusus. Orang menamakan perasaan seperti itu sebagai cinta monyet.

Sementara Mas Slamet, entah bagaimana ceritanya, ia terdaftar di SMA Negeri I  Tanjung Pandan, sebagai murid di kelas 2 SMA. Perbedaan antara kami berdua yang semula hanya terpaut satu tingkat, kini berubah menjadi beda dua tingkat. Saya duduk di bangku SMP kelas 3, sedangkan Mas Slamet SMA kelas 2.

Satu hal yang istimewa, bapak berpesan agar saya merahasiakan kegemaran saya berorganisasi dan berbagai aktivitas politik sebagai siswa aktivis GSNI. Pesan bapak itu bisa saya penuhi. Tak satu pun dari mereka yang mengetahui latar belakang saya sebagai Banteng cilik.

Karena Bapak sangat keras melarang saya untuk tidak melakukan atau bahkan membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan politik, maka saya harus mengubah budaya hidup saya 180 derajat.

Di Tanjung Pandan ini, hal yang diharuskan dan menjadi kewajiban utama adalah belajar, belajar, dan belajar. Saya dan Mas Slamet dibebaskan bermain apa saja selama wajar, sebagaimana lazimnya remaja belia yang lain. “Belajar dan bermain Yes, politik No! Titik.”

Buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, dan jilid 3. (Budaya Cerdas)

Bersama Slamet Rahardjo Mulai Berkesenian

Itulah sebabnya di Tanjung Pandan ini, saya dan Mas Slamet sempat aktif menghidupkan organisasi Pramuka. Anggotanya mayoritas siswa SMA. Hanya saya dan dua orang anggota lain yang masih duduk di bangku SMP. Tapi beruntung karena saya anak Komandan dan kegiatan Pramuka banyak difasilitasi oleh AURI, maka saya masuk dalam tim inti penggerak Pramuka di Tanjung Pandan.

Baca Juga :  Menjadi Santri dan Remaja Banteng di Yogyakarta (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 9)

Bahkan dalam satu kegiatan khusus, saat kami menyelenggarakan malam amal dengan menggelar pertunjukan musik dan sandiwara, saya dan Mas Slamet yang selama di Yogyakarta tidak pernah berkecimpung dalam komunitas anak band, dengan berlatih keras menjadi berani tampil duet untuk bernyanyi dalam acara amal tersebut. Saya masih ingat lagu yang kami bawakan, salah satunya adalah lagu Awan Putih ciptaan Koes Bersaudara.

Satu hal lagi yang istimewa nekatnya, saya yang selama di Yogya sempat mengikuti pelatihan drama, memaksakan diri berani menulis naskah drama yang langsung kami pentaskan, di mana saya sekaligus bertindak sebagai sutradara dan Mas Slamet sebagai art director, penata panggung.

Acara berjalan sangat meriah. Dan tanpa terasa, sejak itu hidup berkesenian mulai merasuk dalam jiwa kami berdua, saya dan Mas Slamet.

Bapak Diterpa Fitnah Sangat Keji

Tapi keadaan sukacita bersama kawan di organisasi Pramuka maupun kawan-kawan di sekolah ini tak berlangsung lama. Sejenak setelah saya baru saja menikmati senang dan bangganya mengantongi ijazah kelulusan sebagai siswa SMP, muncul prahara yang sangat mengguncang kehidupan kami sekeluarga.

Bapak diterpa fitnah yang sangat keji. Bapak diisukan sebagai Komandan Lanud AURI yang dalam kerjanya banyak membantu berbagai kegiatan organisasi Pemuda Rakyat, onderbouw PKI.

Ditambah lagi dengan disebarkannya isu kedekatan bapak dangan KSAU Marsekal Omar Dhani, sosok perwira tinggi yang dinyatakan terlibat dalam Gerakan 30 September/PKI.

Bapak akrab dengan beliau tentu dalam kaitan tugas negara sebagai tentara Pelaksana Komando Dwikora, tugas Komandan AURI Tanjung Pandan sebagai daerah terdepan dekat dengan Singapura dan Malaysia yang dianggap sebagai musuh  Indonesia.

Marsekal Omar Dhani ini memang atasan sekaligus kawan seperjuangan, berlanjut menjadi sahabat baik bapak. Kedekatannya dengan Om Omar Dhani, begitu saya memanggilnya, hanyalah semata karena bapak sebagai perwira yang lebih senior, lebih dahulu menjadi perwira muda sejak AURI berdiri tahun 1946.

AURI Dicap Pro G-30-S/PKI

Sebagai perwira AURI yang kesatuannya secara politik tengah dipinggirkan oleh Mayjen Soeharto sebagai petinggi militer Orde Baru, AURI sebagai institusi militer terimbas mendapatkan cap sebagai satuan tentara pro-Orde Lama, pro-G-30-S/PKI. Oleh karena itu sejak hari bertebarannya pembusukan terhadap nama dan status bapak oleh pihak tertentu di Tanjung Pandan, Belitung, kehidupan kami tak lagi menyenangkan.

Bapak juga dipojokkan oleh rumor kedekatannya dengan organisasi Pemuda Rakyat. Penyebabnya hanya karena mereka sering menerima bantuan perlengkapan olahraga, dan bapak membiarkan mereka ikut berlatih musik di rumah kami.

Hal itu sebenarnya juga bapak lakukan terhadap organisasi massa yang lain. Bahkan terhadap Suku Laut, penduduk tradisional yang dianggap sebagai salah satu suku peninggalan warisan nenek moyang penduduk di Pulau Belitung, bapak juga sangat akrab. Mereka malah menganggap bapak sebagai pelindung dan kerabat dekat komunitas keluarga Suku Laut ini.

Baca Juga :  Tidak Perlu Jadi Binatang Politik, Tidak Boleh Dipenjara (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 6)

Fitnah yang sangat keji dan yang sangat merusak nama baik bapak itu, berdampak sangat buruk pada kehidupan kami sekeluarga. Betapa geramnya bapak sebagai putra dari seorang kiai, dilabel sebagai pendukung  pemberontakan G-30-S/PKI.

Bapak merasa terpukul dan sangat gusar. Bahwa ia adalah salah satu penandatangan para tokoh setempat yang setia berdiri di belakang barisan pendukung Bung Karno, hal tersebut tidak pernah disangkalnya. Tapi dikelompokkan sebagai tentara pro-Peking Cina-PKI, bapak tak bisa menerima.

Kenal Ahok Sejak Balita

Bisa jadi gosip sengaja disebarkan oleh pengusaha yang memang tak begitu disukai bapak. Selama menjadi Komandan, ia hanya mempercayai seorang pengusaha Tionghoa Tanjung Pandan, asal Kota Manggar, Belitung Timur, yang secara kebetulan adalah ayah dari Ahok, Basuki Tjahaja Purnama. Saya mengenal Ahok memang sejak ia masih balita.

Gosip yang disebar pengusaha saingan orang tua Ahok ini dijadikan peluru gorengan politik yang menyudutkan posisi bapak, oleh para petinggi politik pro-Orde Baru yang cemburu atas ketokohan bapak selaku Komandan AURI di Tanjung Pandan. Terutama karena bapak sangat dikenal dan dicintai oleh masyarakat di Tanjung Pandan.

Selanjutnya…, kami diperlakukan oleh Komandan Kodim setempat dengan secara tidak baik dan sangat tidak pantas. Apa-apa yang menjadi milik kami, semuanya disita. Bapak diperlakukan seperti layaknya seorang tahanan rumah, dilucuti segalanya. Kami sangat geram dan frustrasi menahan luapan amarah, namun tak dapat melakukan apapun kecuali melihat hancurnya perasaan bapak kami.

Ia yang biasanya tampak gagah dan perkasa, saat itu tampil sedikit lesu lunglai, seperti Napoleon Bonaparte saat pulang ke Paris usai menelan kekalahan di Waterloo melawan tentara Rusia yang lebih perkasa.

Satu hal yang membesarkan hati kami, dari sinar dan tatapan matanya, terlihat ia bukan tipe seseorang yang mudah menyerah. Pasti ada rencana lain di dalam benaknya. Mengalah bukan berarti kalah. Mungkin bapak adalah sosok perwira yang lebih mengandalkan otak ketimbang otot dalam melakukan perlawanan menghadapi musuh-musuh yang lebih dipersenjatai dan didukung pasukan yang lebih banyak dan kuat. Kami yakini bapak pasti akan melakukan perlawanan.

Hanya saja kami tidak rela melihat bapak kami dinistakan oleh mereka secara tidak pantas. R. Djarot Djojoprawiro adalah sosok seorang ayah yang sangat kami cintai dan banggakan. Sedangkan kami, saya dan Mas Slamet, merupakan sosok dua orang anak yang selalu akrab mendampinginya dalam keadaan apapun, baik dalam suka maupun duka. Kedekatan kami sudah melampaui batas lazimnya hubungan anak-bapak.

Senajan Pangkate KSAU, Tak Bedil Ndase!

 Tak jelang lama, bapak mendapat surat panggilan untuk menghadap atasan di Markas Besar Angkatan Udara, Jakarta. Saya dan Mas Slamet, bersama ibu tiri kami Tante Herti dan anaknya, Bowo, dengan hati dan perasaan yang gundah, tetap tinggal di Tanjung Pandan.

Baca Juga :  Mendengar Pidato Bung Karno di Radio Setiap 17 Agustus (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 10)

Sekitar dua minggu bapak berada di Jakarta. Entah apa yang dilakukan selama berada di Jakarta, sungguh kami tak mengetahuinya. Hanya saat bapak kembali ke Tanjung Pandan dari kepergian ke Jakarta yang bagi kami penuh misteri, saya sangat terkejut melihat rambut di kepala bapak sudah pelontos. Tampilannya persis seperti seorang tawanan yang baru saja masuk penjara kemudian digunduli.

Tubuhnya tampak lebih kurus dengan wajah yang tampak sangat lelah. Turun dari mobil yang membawanya kembali ke rumah, kami langsung memeluknya. Seperti biasa, Mas Slamet sigap menyambar tas kerja bapak dan langsung ditentengnya berjalan mendampingi bapak. Sambil berjalan memasuki rumah, saya sempat bertanya penuh rasa sangat khawatir, “Bapak di Jakarta ditahan ya?”

“Hah? Kamu itu macem-macem aja. Nggak ada yang nahan, memang ada yang bilang Bapak ditahan?”

Saya tidak menjawab kecuali menggelengkan kepala. Setelah bapak menyambut pelukan Tante Herti, kami semua mengikuti langkah bapak menuju tempat duduk yang selalu digunakannya untuk meregangkan otot berelaksasi.

Sambil turut membantu melepas kaos kakinya sebagaimana yang biasa saya lakukan, pertanyaan saya ajukan, “Tapi kenapa kepala Bapak digundulin?”

“Sopo sing wani nggunduli ndasku?” Siapa yang berani gunduli kepalaku?

“Ya pasti atasan Bapaklah!”

“He, rungokno yo. Sopo wae, senajan pangkate KSAU, wani nyekel ndasku, tak bedil ndase!” He, dengar baik-baik ya, siapa pun, walau dia seorang KSAU sekali pun, berani dia memegang kepalaku, saya akan tembak kepalanya!”

Pindah Tugas ke Jakarta

Mendengar jawaban bapak yang sangat tegar, saya dan Mas Slamet yang sejak bapak turun dari mobil hingga beliau duduk merebahkan diri di sofa selalu bertanya-tanya dalam hati, merasa lega mendengar ucapannya.

Pernyataan sikapnya yang vulgar tapi tegas ini, seketika mengembalikan kelesuan jiwa saya dan Mas Slamet yang selama sekitar dua minggu terkurung dalam resah, terpukul hebat oleh fitnah yang menghujam ke jantung kehidupan keluarga kami.

Keesokan harinya, setelah ketegangan sedikit mereda dari benak dan perasaan kami, barulah bapak menyampaikan kepada saya dan Mas Slamet berita yang harus kami terima sebagai kenyataan.

Bapak menyampaikan kepada kami bahwa bapak harus segera, dalam waktu satu bulan ke depan, pindah tugas ke Jakarta, karena bapak dibebastugaskan sebagai komandan AURI di Tanjung Pandan. Ia dipanggil untuk bertugas di Markas Besar Angkatan Udara di Jakarta. Rasa sulit menerima kenyataan ini pun tak dapat kami tutupi.(Kukuh Bhimo Nugroho)

*Naskah ini dinukil dari buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1 yang terbit September 2025. Jika ingin membaca kisahnya secara lengkap, buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, jilid 3, dan “Erros Djarot Apa Kata Sahabat”, bisa dibeli melalui link berikut: Budaya Cerdas.