HeadlineIndeksSpotlight

Kisah Lahirnya Nama Erros Djarot

×

Kisah Lahirnya Nama Erros Djarot

Sebarkan artikel ini
Erros Djarot (tengah) bersama The GIBS tampil di TVRI pada tahun 1970. (dok. pribadi Erros Djarot)

JAKARTA, PMP – Nama Erros Djarot sejatinya merupakan nama panggilan sebagai pengganti nama lahir Sugeng Waluyo, yang diberikan oleh teman-teman bermusik Erros di usia sekitar 17 tahun, yang menganggap nama panggilan Sugeng tak cocok buat “anak band”.

Nama Sugeng Waluyo sendiri, menurut Erros, diambil dari Bahasa Jawa yang memiliki arti yang sama dengan nama Slamet Rahardjo, kakak kandungnya yang lahir setahun lebih dulu. Keduanya berarti sama, yaitu “selamat dan mulia”.

Kisah lahirnya nama Erros dikisahkan sendiri oleh pencipta album Badai Pasti Berlalu ini melalui buku Autobiografi Erros Djarot jilid 1 yang sudah beredar di pasaran sejak September 2025. Saat acara rilis buku, autobiografi ini mendapat penghargaan MURI sebagai “Buku Autobiografi Pertama yang Ditulis dengan Kaidah Sastra”.

Berikut kisah lahirnya nama Erros yang dikutip dari Autobiografi Erros Djarot dan merupakan serial tulisan ke-13 di PMP :

Sekolahnya Mbak Tutut 

Tahun 1959, pascaperceraian orang tua, saya meninggalkan Kota Jakarta. Pada tahun 1967, saya kembali menghirup hawa ibu kota dalam usia 17 tahun. Saat kembali menginjakkan kaki di ibu kota, sangat terasa adanya satu perbedaan yang sangat mencolok, yaitu udaranya tak sebersih dan selega hawa laut Kota Balikpapan, Tanjung Pandan, maupun udara Kota Yogyakarta yang jauh dari gangguan polusi.

Baca Juga :  Erros Djarot: Dekat KSAU Omar Dhani, Bapak Difitnah Dukung G30S PKI

Baca juga: Erros Djarot: Dekat KSAU Omar Dhani, Bapak Difitnah Dukung G30S PKI

 Tibalah giliran saya harus mencari tempat di mana saya harus bersekolah. Seperti biasa, bapak selalu melepas untuk secara mandiri mencari sekolah yang saya mau. Suatu kebiasaan yang sejak di Yogyakarta hingga Tanjung Pandan sudah saya lakukan.

Dari kawan-kawan, terutama Dadang, saya mendapat gambaran bahwa sekolah keren yang menjadi pilihan dari anak-anak gedongan di Jakarta adalah sekolah SMA Negeri I Budi Utomo (Budut) yang terletak di bilangan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Pada awalnya bapak sangat terkejut ketika saya merujuk SMAN I Budi Utomo menjadi sekolah pilihan saya. Mungkin terlintas dalam pikiran bapak saat itu,  SMAN I Budi Utomo adalah sekolah elite, di mana murid-muridnya terdiri dari anak-anak orang berada.

Kalau tidak anak pejabat, mereka setidaknya anak-anak dari keluarga mampu. Mbak Tutut, putri sulung Pak Harto, terdaftar sebagai salah satu murid di sana. Namun hal ini tidak membuat saya berkecil hati. Saya tetap nekat mendaftar di sekolah itu.

Dengan bermodalkan kenekatan, saya melakukan pendaftaran ke bagian administrasi sekolah SMAN I. Saya sempat diterima dan malah bisa bertemu dengan kepala sekolahnya. Saat itu kepala sekolah SMAN I seingat saya bernama Bapak Djamalus. Saya diajak berkeliling melihat suasana keseharian kelas dan kehidupan para siswa SMAN I.

Baca Juga :  Erros Djarot dan Slamet Rahardjo Anak Broken Home (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 8)

Tapi akhirnya dengan berbagai pertimbangan, saya sampaikan pada Pak Djamalus ucapan terima kasih dan saya memilih untuk masuk SMAN V, setelah Pak Djamalus memberi sedikit gambaran.

SMAN V berada di gedung yang sama, hanya berbeda waktu masuk sekolah. SMAN I dimulai jam 07.00 pagi, sedangkan SMAN V memulai pelajaran jam 13.00 siang. Atas pertolongan Pak Djamalus saya diperkenalkan kepada Pak N.T. Padidie, Kepala Sekolah SMAN V. Saya langsung diterima sebagai murid barunya.

Nama Eros Menghapus Jejak Aktivis Anti-Orba

 Sebenarnya si Fryke yang pada awalnya, ketika saya bergabung dalam komunitas Band Budut (diambil dari nama SMA Budi Utomo), berinisiatif mengubah panggilan nama saya yang biasanya ia panggil dengan sebutan si Djarot, kemudian si Djaros, dan berakhir dengan panggilan Eros.

Saya merasa nyaman saja dengan panggilan baru Eros, karena ternyata Eros adalah nama Dewa Cinta dalam mitologi Yunani kuno.

Apalagi sahabat saya yang bernama Dirson Nukman, siswa SMA Negeri I Budut, terus mengompori bahwa nama Eros Dewa Cinta itu keren, siapa tahu membawa berkah dengan banyaknya yang jatuh cinta nanti. Kompornya ini sangat membesarkan hati.

Baca Juga :  Saya Nggak Mau Dengar Lagi Mas Taufiq Kiemas Bermain-Main dengan BAKIN (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 4)

Saya langsung lapor kepada Mas Slamet dan bapak. Anehnya, di luar perhitungan, bapak malah merestui. Apalagi menurutnya akan lebih menghapus napak tilas seorang aktivis anti-Orde Baru, kader GSNI dengan nama Sugeng Waluyo Djarot.

Untuk itu bapak memberi restu dengan sengaja melakukan acara adat berupa gelar doa dengan bubur merah putih sebagai upacara pengesahan nama secara resmi.

Sejak saat itu hingga sekarang, nama Eros menjadi nama panggilan saya sehari-hari, di luar maupun di dalam rumah. Beberapa tahun kemudian, kurang lebih satu dekade kemudian, nama Eros ditambah satu “R” menjadi Erros, karena ternyata nama Eros dengan satu “R” adalah nama kawasan merah yang ada di Kota Hamburg, Jerman, yaitu Eros Center.(Kukuh Bhimo Nugroho)

*Naskah ini dinukil dari buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1 yang terbit September 2025. Jika ingin membaca kisahnya secara lengkap, buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, jilid 3, dan “Erros Djarot Apa Kata Sahabat”, bisa dibeli melalui link berikut: Budaya Cerdas.