HeadlineIndeksSpotlight

Menjadi Santri dan Remaja Banteng di Yogyakarta (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 9)

×

Menjadi Santri dan Remaja Banteng di Yogyakarta (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 9)

Sebarkan artikel ini
Erros Djarot, K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dan Rachmawati Soekarnoputri (FB @ErrosDjarot)

JAKARTA, PMP – Erros Djarot dan Slamet Rahardjo ditempa kehidupan santri oleh kakeknya Kiai Sjamsiar selama ngenger di Yogyakarta. Pada usia 13-14 tahun, Erros mulai mengagumi jiwa, pikiran, dan semangat Banteng, substansi dari nasionalisme ajaran Bung Karno.

Baca juga : Guntur Tugaskan Erros Dampingi Megawati Soekarnoputri Melawan Orde Baru (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 1)

Kisah dididik sang kakek menjadi santri dan kemudian mulai mengagumi Presiden Soekarno dipaparkan Erros dalam buku Autobiografi Erros Djarot jilid 1. Berikut petikannya :

Kampung Lempuyangan, Kecamatan Danurejan, yang terletak di pinggiran kota bagian selatan Yogyakarta adalah daerah yang menjadi tempat tinggal keluarga kami. Di Kampung Lempuyangan inilah, sejak saya memasuki umur 10 tahun kami menetap, nderek tinggal bersama mbah kakung R. Sjamsiar Djojoprawiro, putra tunggal Kiai Sudjak.

Bagi saya, rumah mbah kakung ini bukan hanya sekadar berfungsi sebagai tempat tinggal, tapi telah terpatri dalam benak dan sanubari sebagai kawah candradimukanya kehidupan. Tempat di mana saya menyelam, berenang, dan berkubang memaknai hidup dengan sejuta ilmu dan laku yang diajarkan mbah kakung kepada para cucunya.

Rumah mbah kakung ini telah memberi andil sangat besar dalam membangun jiwa, pikiran, dan karakter saya sebagai seorang manusia bernama Erros Djarot.

Buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, dan jilid 3. (Budaya Cerdas)

“Asu-Kirik, Asu-Kirik”

Kakek saya, mbah kakung R. Sjamsiar Djojoprawiro adalah seorang kiai yang cukup terpandang dan sangat dihormati serta disegani oleh penduduk setempat. Di samping statusnya sebagai seorang kiai, selain sebagai “naib” juru nikah, ia adalah seorang guru kehidupan, seorang filsuf, seorang yang sangat taat agama, menguasai, dan menjiwai ilmu tauhid secara sempurna.

Seorang kiai yang sehari-harinya tak pernah melepaskan tasbih dari tangannya. Seharian beliau berzikir, berselawat, dan hal ini merupakan budaya yang telah melembaga dalam jiwa dan perilaku kesehariannya sebagai seorang kiai. Istimewanya, beliau selalu menghindar untuk dimuliakan dengan sebutan kiai bagi dirinya.

Ada satu peristiwa aneh. Ketika mbah kakung tengah berzikir di teras rumah, sekelompok ibu-ibu lewat di gang jalan depan rumah. Teras rumah kami dipisahkan oleh halaman kecil yang langsung menempel pada bahu jalan. Jarak antara sekelompok ibu-ibu yang tengah berjalan di gang depan rumah, kurang lebih sekitar tiga meter dari tempat di mana si mbah duduk berzikir.

Tiba-tiba yang mengagetkan, saya dengar mbah kakung mengubah lafalnya dari melafal, “La ilaha illallah”, diubahnya hingga terdengar menjadi seolah simbah tengah berzikir dengan melafal kata, “Asu-kirik, asu-kirik…”

Ia lafalkan dengan cukup keras, sehingga pasti terdengar di kuping para ibu-ibu yang sedang lewat itu. Wajar saja jika “zikir” aneh yang dilakukan mbah kakung membuat ibu-ibu yang bukan penduduk kampung setempat tersebut menjadi saling pandang, dengan pandangan ke arah mbah kakung seperti melihat sesuatu yang aneh.

Dan ketika rombongan ibu-ibu itu telah menjauh, mbah kakung kembali berzikir seperti biasanya. Nyaris tak bersuara, hanya tampak mulutnya komat kamit.

Slamet Rahardjo dan Erros Djarot.(FB @ErrosDjarot)

Biar Disangka Orang Gila

Saya memberanikan diri menanyakan hal itu karena ini bukan untuk pertama kalinya beliau lakukan, “Lho, kok si Mbah zikirnya begitu?”

“Memangnya kenapa Nyuk?” Si mbah balik bertanya.

Beliau menyebut saya dengan panggilan yang sangat ia sukai yaitu “nyuk”, kependekan dari kata munyuk atau monyet. Anehnya panggilan terhadap Mas Slamet selalu sesuai dengan kependekan namanya, “Met”.

Mungkin saya cucu paling nakal? Atau perilaku saya yang sering membuat keonaran? Sampai hari ini saya tidak dan belum sempat bertanya dan mengetahuinya. Tapi saya memaknainya sebagai panggilan kepada cucunya yang teristimewa. Setidaknya pemaknaan versi saya ini untuk membuat hati saya tetap besar dan tegar.

Baca Juga :  Benarkah Pilkada Jawa Timur 2018 Tanpa Risma?

“Kowe ngerti Nyuk, kenopo zikirku mau koyo ngono?” Kamu tahu Nyuk, kenapa saya tadi berzikir aneh seperti itu?

“Mboten Mbah.” Tidak mbah.

“Aku ngono ben dikiro wong ra waras.” Saya tadi begitu biar dikira orang tidak waras. “Nek zikirku khusyuk metenteng, engko ibu-ibu mau ngiro yen aku iki kiai.” Kalau zikir saya khusyuk dan serius, nanti ibu-ibu tadi mengira saya ini seorang kiai.

“Lho, si Mbah niku pancen kiai to?” Lho, kakek memang seorang kiai kan?

“Sanajan bener ngono, yo ra perlu pamer.” Sekalipun benar begitu, ya tidak perlu pamer. “Sing iso mastekno aku kiai opo dudu iku mung Gusti Allah, Nyuk.” Yang bisa memastikan saya ini benar-benar kiai atau bukan, hanya Allah.

Penjelasan mbah kakung ini selalu kembali terngiang di telinga saya, setiap kali saya jumpa dengan para dai maupun para kiai besar di negeri ini. Tapi seperti pesan mbah kakung, hormati saja setiap orang yang menamakan dirinya seorang kiai. “Sedikit pun kamu tak berhak menyangsikannya. Itu bukan urusan kamu!”

Begitu pesan mbah kakung yang selalu saya pegang. Dari caranya mengajarkan saya makna kata dan makna kehidupan, saya memberanikan diri untuk menyatakan bahwa beliau sungguh seorang agamawan, seorang pemeluk Islam yang sangat islami, dan juga saya pastikan beliau memahami betul makna di balik kalimat, “Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin.”

Erros Djarot dan Gus Dur. (FB @ErrosDjarot)

Wajib Puasa Wajib Tirakat

Oleh karenanya, sejak kecil mbah kakung mendidik saya, Mas Slamet, dan ke lima adik kami yang lain; Tin Agustin, Suprantio (Tio), Hendro Susanto (Dendo) almarhum, Agus Safardan (Agung) almarhum, dan Susilo Budiono (Budi) almarhum, dengan pola dan cara hidup layaknya para santri pondok pesantren.  Sembahyang lima waktu, nderes, melafal Al-Qur’an, wajib turut dalam kegiatan tahlilan, dan segala keharusan lain yang lazim dilakukan oleh para santri di pondok pesantren.

Dalam menekuni kehidupan yang serba islami ini, balutan budaya Jawa yang menjadi dasar dan akar budaya keluarga di Lempuyangan ini sangat sinkretik. Hampir sebagian besar acara ritual berbasis akidah Islam, sentuhan budaya Jawa yang sangat kaya nuansa, begitu kental mewarnai.

Selain wajib menghafal Al-Qur’an dalam Bahasa Arab yang harus benar lafal dan tajwidnya, berbagai jenis doa dalam Bahasa Jawa juga diajarkan untuk kami kuasai. Hal itu sebagai kekayaan pelengkap dan ciri khas insan pemeluk agama Islam yang akar budaya nenek moyangnya adalah Suku Jawa.

Jadi selain wajib hafal seluruh surah dalam Juz Amma, sejumlah doa berbahasa Jawa dengan nuansa Islam yang terasa terpadu indah, juga diajarkan kepada kami untuk dihafal dan dihayati. Karena diucap dalam Bahasa Jawa yang sangat kami pahami arti dan maknanya, maka doa berbahasa Jawa yang sangat islami ini lebih saya rasakan sangat melekat kuat hingga dasar relung batin dan jiwa kami.

Salah satu doa yang paling mudah diingat, yang hingga hari ini masih selalu saya lafalkan sebagai doa pengantar tidur, adalah rangkaian kalimat sejenis mantra doa sangat pendek dalam Bahasa Jawa.

Baca Juga :  Ini Kisah Terciptanya Lagu “Selamat Jalan Kekasih” yang Dipopulerkan Chrisye (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 5)

Bunyinya; “Turu-turu ojo lali, raga turu ati tangi, roh madep maring Allah, amin.” Tidur dan tidurlah tapi jangan lupa, biarkan ragamu tertidur, namun jagalah agar hatimu tetap bangun mendamping rohmu yang senantiasa selalu menghadap ke Sang Maha Kuasa, amin.

Satu doa lagi yang juga selalu saya lafalkan hingga sekarang, “Urup-urup Rasulullah, murup mubyaring Zat Allah, yo aku iki sak jatining manungso, amin.” Senantiasa hiduplah cahayamu ya Rasul Muhammad dan limpahkan sinar terang zat Illahi untukku, karena aku ingin menjadi manusia sejati ciptaan-Mu di jalan-Mu, amin.

Berpuasa wajib di bulan suci Ramadan, puasa Senin-Kamis, puasa mutih hanya berbuka dengan air putih dan nasi tanpa sentuhan garam, gula, dan sejenisnya. Ngerowot, puasa dan berbuka puasa hanya dengan menyantap buah-buahan. Pati geni ngebleng, puasa 24 jam tanpa boleh tertidur. Topo bisu, puasa tidak mengeluarkan suara sedikit pun hingga saat berbuka.

Mocopatan atau menjabarkan nasihat maupun tuntunan budi pekerti yang terkait erat dengan perintah Sang Maha Kuasa, maupun riwayat serta petuah nabi yang didendangkan dalam pakem tembang Jawa yang khas, Mocopat.

Kami juga diwajibkan tirakatan, ciri khas budaya kehidupan para santri Jawa yang bertujuan melatih ketahanan raga, jiwa, dan pikiran menghadapi derita dalam mengatasi berbagai cobaan.

Mengasah ketahanan melawan derita dan berbagai godaan dengan berkonsentrasi mengalahkan hawa nafsu dalam upaya mempertebal iman keyakinan kita, bahwa maha besar kuasa dan kekuatan Allah. Meminta kekuatan dan perlindungan dari-Nya, merupakan kegiatan rutin yang wajib kami lakukan.

Padahal sebelumnya, sejak balita hingga tumbuh sebagai bocah, saya hidup di lingkungan yang lebih cenderung sekuler. Begitu pun dalam hal mengenyam pendidikan formal.

 Dipindah Mbah Kakung ke SMP Kristen

Saat masih duduk di bangku sekolah taman kanak-kanak, saya jalani di Jakarta, tepatnya di Strada Polonia yang kental ajaran Katoliknya, bahkan sedikit berbau Belanda. Saya masih ingat, guru saya di kelas nol besar adalah Mefrau Menzi. Sedangkan SD hingga akhir kelas satu, saya tempuh di SD Sumbangsih, Grogol, Jakarta Barat. Kelas 2 baru saya tempuh di Balikpapan, tapi menjelang kelas 3 saya dipindahkan dari Balikpapan ke Yogyakarta.

Anehnya, waktu masuk ke jenjang kelas 3 SD, mbah kakung memindahkan sekolah saya ke SD Bopkri III. Gedungnya terletak di pinggiran Kali Code. Posisinya berada di kiri jalan bila ditempuh dari arah Pakualaman menuju Gondomanan, bangunannya bertingkat dua menjorok ke bawah, sangat terlihat membujur berderet persis berdiri tegak sebelum melewati Kretek Kewek.

Di sekolah yang para pendiri dan 80 persen muridnya adalah pemeluk agama Nasrani ini, nama saya terdaftar sebagai murid. Masyarakat se-Yogyakarta sangat mengenal bahwa Bopkri adalah sekolahan dengan predikat sekolah Kristiani, walaupun juga menerima murid-murid beragama lain.

Maka dapat dibayangkan, setelah hampir tiga bulan penuh saya secara intensif berada dalam gemblengan mbah kakung sebagai santri, namun ketika bersekolah justru dimasukkan ke SD Kristen yang jauh dari alam dan dunia santri pondok, sungguh saat itu menjadi pertanyaan besar dalam hati saya.

Karena sejak awal tinggal di Lempuyangan, saya sempat berkenalan akrab dengan anak-anak kampung di sekeliling rumah, dan mereka kemudian sering memperolok saya dengan melontarkan pertanyaan yang menjengkelkan.

“Lho, kok kamu sekolah di sekolahan orang Kristen?  Kamu kan cucu Kiai Sjamsiar dan buyutnya kiai besar Mbah Buyut Sudjak?”

Baca Juga :  Guntur Dibujuk Jadi Menteri Muda Urusan Pemuda Kabinet Soeharto (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 2)

Mereka sering menanyakan dan mempersoalkan hal ini. “Lebih pas dan lebih pantes kan sekolah di SD Muhammadiyah,” sindir mereka setengah mencibir.

Didikan Menjadi Lebih Toleran

Ya memang, kebanyakan kawan saya sekampung bersekolah di SD Muhammadiyah. Sekolah SD Muhammadiyah ini berlokasi masih di sekitar Lempuyangan, Danurejan, jarak tempuhnya pun tak sejauh SD Bopkri III yang berada di Gondomanan.

Karena kenyataan ini, saya sempat berpikir dan bertanya-tanya atas alasan apa mbah kakung tidak menyekolahkan cucunya ke SD Muhammadiyah. Apa mungkin karena mbah kakung merupakan sosok ulama Nahdliyin, sedangkan di antara sekian banyak ulama di daerah Lempuyangan, Danurejan, kebanyakan mereka adalah warga Muhammadiyah? Tapi ternyata itu bukan alasan utamanya.

Baru setelah saya lulus sekolah dasar, mbah kakung menjelaskan mengapa beliau mengirim saya ke sekolah Nasrani.

“Kowe kui Nyuk, pasti akan menjadi lebih toleran. Lebih bisa memahami perbedaan antara Islam dan Kristen, tapi saling menghargai sebagai pemeluk agama yang sama-sama ada. Lan elingo yo, kabeh agomo iku tujuane pada.” Semua agama itu tujuannya sama, agar manusia menjadi lebih baik.

“Ngroso dadi bedo, amargo bodo.” Merasa jadi berbeda karena bodoh. “Iku podo wae karo srawung guyub, kumpul mergo ngroso podo, ning sikut-sikutan.” Itu sama saja dengan kumpul guyub karena merasa sama, tapi sikut-sikutan terus.

Mbah Kakung Maha Guru

Lewat proses dakwah santai sejenis inilah, saya menjadi orang Indonesia yang lebih menjiwai perbedaan, tanpa penolakan atau mempersoalkannya, kecuali bersyukur atas kedamaian hati menerima perbedaan dalam persamaan sebagai hamba Tuhan.

Penjelasan mbah kakung ketika itu, bagi saya merupakan wejangan singkat tak bertele-tele, tapi sangat merasuk dalam hingga ke tulang sumsum, dasar otak, ke dalam relung hati dan jiwa saya, hingga sekarang.

Ditambah lagi mbah kakung selalu meminta saya untuk senantiasa mencintai budaya Jawa, budaya nenek moyang, sebagai warisan leluhur yang wajib dijadikan sajadah panjang dalam perjalanan menjadi manusia Indonesia yang baik.

“Ben kowe iso dadi wong Jowo sing becik, pinter, apik, tur temoto.” Biar kamu bisa menjadi orang Jawa yang baik, cerdas, bagus, dan bertatakrama dengan baik.

“Jadi orang Sunda, Batak, atau suku lain, jadilah orang baik. Ketika menjadi Kristen jadilah yang baik, menjadi Islam jadilah yang baik, baru kamu bisa menjadi manusia Indonesia yang sejati dan yang baik. Sak jati ning manungso Indonesia. Eling kui yo Le.”

Begitu menurut pitutur dalam keyakinan mbah kakung itu, ternyata seperti itu pula yang diajarkan Bung Karno kepada rakyatnya. Sehingga bagi saya, mbah kakung adalah seorang maha guru, pembimbing intelektual spiritualitas, seorang yang berelijiusitas tinggi dan saya berani pastikan, mbah kakung adalah seorang nasionalis Indonesia yang membumi.

Itulah sebabnya, mengapa ketika baru saja duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dalam umur yang baru sekitar 13-14 tahun, jiwa, pikiran dan semangat Banteng, substansi dari nasionalisme ajaran Bung Karno, sudah tertanam begitu mengakar dalam diri ini.(Kukuh Bhimo Nugroho)

*Naskah ini dinukil dari buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1 yang terbit September 2025. Buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, jilid 3, dan “Erros Djarot Apa Kata Sahabat”, bisa dibeli melalui link berikut : Budaya Cerdas.