
JAKARTA, PMP – Peristiwa Gestok atau G-30-S/PKI terjadi saat Erros Djarot berusia 15 tahun menjadi pelajar SMP Negeri VIII Yogyakarta. Erros menyaksikan bagaimana kekejaman yang dialami kawan-kawan sepermainannya, dan bahkan dirinya sendiri nyaris menjadi korban.
Pengalaman melewati masa kelam Gestok atau Gerakan Satu Oktober itu dikisahkan Erros dalam buku Autobiografi Erros Djarot jilid 1 yang telah beredar di pasaran sejak September 2025.
Bahkan sebenarnya, kelak setelah Erros sudah dikenal sebagai sutradara peraih Piala Citra melalui film Tjoet Nja’ Dhien, dia menulis skenario dan menyutradarai sebuah film berdasarkan kisah nyata yang disaksikannya saat Gestok berjudul Lastri di tahun 2006.
Baca juga : Mendengar Pidato Bung Karno di Radio Setiap 17 Agustus (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 10)
Sayangnya, film yang dibintangi Marcella Zalianty, pemeran utama wanita terbaik pada FFI tahun 2005 itu, “diberedel” rezim penguasa. Kisah film Lastri juga ditulis Erros di buku Autobiografi Erros Djarot. Berikut cuplikan kesaksian Erros seputar peristiwa kelam Gestok :
Massa Orba Binaan CIA
Sayangnya masa cerah dan pencerahan yang membanggakan ini (sebagai kader Marhaen pengikut Presiden Soekarno), mulai redup dan perlahan menjadi buram dan kabur setelah prahara Gestok, Gerakan Satu Oktober 1965, membuka lembaran sejarah baru.
Sejarah yang tercatat dengan nama populer G-30-S (Gerakan 30 September)/PKI ini, merupakan awal pembelahan massa rakyat. Golongan kami massa rakyat Orde Lama atau Orla dengan massa mereka gerakan Orde Baru atau Orba. Massa Orla adalah massa rakyat pendukung setia Bung Karno yang oleh rezim Orba diberi stempel sebagai kelompok “kiri”, afiliator komunis, dan pro-Peking Cina.
Sedangkan massa Orba adalah kumpulan massa binaan tentara di bawah komando Mayor Jenderal Soeharto yang pro-Amerika, dengan mentor politik masa depan ala “kanan-barat” di bawah arahan sebuah institusi berlabel tiga huruf yang sangat kondang, CIA.

Sesama Kawan Diadudomba Saling Menghabisi
Sebenarnya yang terjadi saat itu, walau berita kudeta sudah menyebar pada akhir bulan September dan pada 1 Oktober 1965, keadaan di Yogyakarta baru memanas ketika pada 2 Oktober tersiar berita penculikan Brigjen. Katamso, Komandan Resimen (Danrem.) dan Letnan Kolonel Sugiyono, Kepala Staf Resimen (Kasrem.) 072/Pamungkas Yogyakarta.
Pada tanggal tersebut, kami para pelajar diliburkan dan seingat saya tak lama kemudian diberlakukan jam malam. Sejak saat itulah terjadi berbagai kekerasan antarmassa yang dituding pro dan kontra G-30-S/PKI.
Mereka yang sebelumnya rukun berkawan, tiba-tiba saling bermusuhan dan saling berhadapan. Berita culik menculik dan berita sejumlah orang yang saya kenal kena “garukan”, diciduk yang berwajib untuk dikumpulkan di suatu tempat yang dikelilingi pagar berduri, mulai menyebar dan terdengar sangat menakutkan.

Saya sempat menyaksikan, betapa kami antarsesama kawan saling diperhadapkan dengan semangat saling menghabisi. Kami diadudomba. Banyak kawan-kawan dekat saya anggota Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), adik CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) onderbouw PKI, yang hanya karena terindikasi bersinggungan dengan kegiatan para aktivis Pemuda Rakyat, organisasi pemuda sayap PKI, langsung diciduk dan dipenjarakan sekali pun mereka tak paham PKI, apalagi Marxisme.
Lebih menyedihkan lagi terjadi pada karib saya, Mas Uul, anggota abu-abu GSNI, yang karena berpacaran dengan salah satu pengurus komisariat IPPI di sekolahnya, ia harus mendekam di penjara selama tiga tahun tanpa proses pengadilan apapun. Beruntung Mas Uul kemudian berhasil kabur dan hingga sekarang menetap di Kaledonia Baru, menjadi warga negara di sana.
Baca juga : Menjadi Santri dan Remaja Banteng di Yogyakarta (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 9)
Erangan Rasa Sakit Begitu Nyaring Melengking
Tak sedikit yang bernasib lebih buruk. Digerebek, diseret keluar dari rumah dan digebuki hingga nyawanya melayang. Erangan rasa sakit yang begitu nyaring melengking membahana saat diri meregang nyawa, masih sering terdegar menusuk-nusuk gendang telinga dan perasaan saya selama bertahun-tahun.
Peristiwa sadis yang sangat mengerikan itu selalu terbayang, setiap kali saya pulang ke Lempuyangan menuju rumah kediaman mbah kakung melalui jalan lorong kampung di samping kuburan, melewati rumah Mas Edy, Ketua Pemuda Rakyat setempat.
Sungguh situasi saat itu sangat mencekam. Sering berseliweran anggota pasukan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat), anak buah Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, berpatroli memasuki lorong di berbagai jalan sempit di Kampung Lempuyangan, saat itu.
Di antara mereka tidak semuanya kejam dan bengis. Ada yang sangat baik dan penolong, tapi tetap saja atas nama menjalankan perintah atasan, mereka turut menangkapi kawan-kawan saya yang masih ingusan dan buta politik, bahkan tanpa dosa politik sedikit pun.

Banteng ASU vs Banteng OSA-USEP
Dalam keadaan inilah saya terancam oleh hembusan jahat yang memberi saya stempel sebagai GSNI aliran Ali Surachman (ASU). Pada masa itu, kader Banteng dibelah menjadi dua kubu: kubu ASU pro-Bung Karno diberi stempel pro-BK-Peking-PKI dan kubu OSA-USEP (Osa Maliki Wangsadinata dan Usep Ranumihardja) Banteng pro-Orde Baru, Soeharto, dan Amerika.
Sementara saya sendiri di saat itu, walau masih belia, tidak pernah berada dalam dua kubu yang saling berseberangan, dan secara tegas saya tidak mengakui keberadaan keduanya. Pikiran dan hati saya berketetapan, saya adalah GSNI pro-Bung Karno, tanpa label apa-apa dan embel-embel yang lain kecuali BK.
Baca juga : Guntur Tugaskan Erros Dampingi Megawati Soekarnoputri Melawan Orde Baru (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 1)
Saya masih ingat, di suatu tengah malam terjadi ketegangan antara saya dan para pemuda kampung yang terdiri para aktivis Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Kegaduhan ini bertujuan mengintimidasi saya. Tapi karena saya adalah cucu seorang kiai, maka hal itu menyelamatkan saya dari segala intimidasi maupun segala bentuk kekerasan fisik.
Walaupun keberadaan saya dan Mas Slamet di Lempuyangan sebenarnya relatif aman, agaknya kabar situasi Lempuyangan yang memanas dan penuh pergesekan politik tak menentu ini sampai juga ke telinga bapak.
Ikut Bapak Malam Ini Juga
Pada suatu tengah malam, bapak yang saat itu menjabat sebagai Komandan Lanud di Tanjung Pandan, Belitung, Sumatera Selatan ketika itu, tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumah. Kami seisi rumah, tak terkecuali mbah kakung dan mbah putri sangat terkejut, setengah tak percaya atas kehadiran bapak yang muncul tiba-tiba.
Setelah masuk rumah dan seperti biasa sungkem kepada mbah kakung dan berbincang sejenak, bapak langsung memanggil saya dan Mas Slamet.
Dalam keadaan sangat kaget dan masih setengah mengantuk, kami berdua bertanya-tanya, mengapa bapak datang di tengah malam dengan masih mengenakan seragam dinas lapangan seorang militer.
Tak berpanjang-panjang, bapak menyuruh saya dan Mas Slamet duduk di bangku tamu yang terletak di ruangan serambi kamar mbah kakung. Saya dan Mas Slamet duduk saling berhadapan dengan bapak yang mengambil tempat duduk berseberangan.

Entah apa yang hendak ia lakukan, tangan bapak menarik sebuah koper cukup besar ke dekatnya. Koper dibuka, ternyata kosong. Saya dan Mas Slamet saling menatap dengan wajah yang menyimpan tanda tanya besar.
“Kamu Geng dan kamu Met.” Panggilan dari kependekan nama kami, Sugeng Waluyo dan Slamet Rahardjo.
“Bapak datang malem-malem begini langsung naik pesawat diantar teman Bapak, sengaja terbang untuk menemui kalian berdua.”
Kata pembuka bapak ini membuat hati kami berdua ketar-ketir merasa tak nyaman.
“Dengar Bapak baik-baik. Terutama kamu Geng. Situasi politik sedang sangat tidak baik. Saling fitnah dan saling menghabisi, sudah gak pakai aturan. Kalian, terutama kamu Geng, kamu ini masih ingusan. Kalau kamu milih mati selagi kamu masih ingusan, kamu tinggal di sini. Kamu juga Met, biar kamu tidak terlalu aktif di GSNI, tapi kamu kakak dia!”
Telunjuk bapak mengarah ke wajah saya yang diam seribu bahasa.
“Tapi kalo kamu mau hidup dan tumbuh sebagai pemuda yang sehat, pemuda berilmu yang bisa berbuat banyak di masa depan, ikut Bapak malam ini juga. Bapak mau dengar jawaban kalian berdua sekarang juga!
Kalau menerima tawaran Bapak, sekarang juga penuhi koper ini dengan pakaian yang kalian perlukan. Selebihnya Bapak sediakan di Tanjung Pandan. Atau kalian biarkan koper ini tetap kosong, karena kalian berdua memilih tetap tinggal di sini dan Bapak yang akan segera pergi balik ke Tanjung Pandan. Silakan. Jelas kan?” kata bapak sambil mendorong koper kosong di depannya, ke arah kami.
Baca juga : Tidak Perlu Jadi Binatang Politik, Tidak Boleh Dipenjara (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 6)
Erros dan Slamet Rahardjo Tinggalkan Yogyakarta
Terus terang, saat itu kami berdua tak tahu harus menjawab apa. Dalam benak saya, terlintas bayangan teman-teman seperjuangan di GSNI dan para sahabat di sekolah SMP VIII. Saya yakin di benak Mas Slamet saat itu juga dipenuhi hal yang sama.
Kami berdua sangat terpojok, kebingungan memilih jawaban apa yang terbaik. Di tengah kebingungan dan ketegangan, mbah kakung angkat suara. Sungguh saat itu suara mbah kakung sangat kami tunggu.
“Ngene yo Nyuk, karo kowe Slamet, kowe kabeh putuku.” Kalian semua cucu saya. “Sebagai kakek kalian, saya pikir ajakan Bapakmu itu merupakan ajakan langkah jauh ke depan, agar kalian berdua bisa sampai menatap masa depan dengan lebih sehat. Nasihatku, meluo le, rasah mikir dowo-dowo meneh! Bismillah, lungoo, tak dongakno!” Ikutlah bapakmu, tidak usah berpikir panjang-panjang lagi. Bismillah, pergilah, saya doakan!
Dengan fatwa yang keluar dari mulut mbah kakung, guru besar kami, saya dan Mas Slamet langsung bersiap menuruti apa yang beliau sarankan.
Mbah putri dan tante saya, Bulik Walid, dengan berlinangan air mata turut membantu mengemasi apa yang harus kami masukkan ke dalam koper. Kedua adik, kami biarkan tertidur lelap karena hanya saya dan Mas Slamet yang memang diminta untuk ikut bersama bapak. Malam itu juga kami terbang meninggalkan Yogyakarta menuju Tanjung Pandan, Belitung.(Kukuh Bhimo Nugroho)
*Naskah ini dinukil dari buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1 yang terbit September 2025. Buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, jilid 3, dan “Erros Djarot Apa Kata Sahabat” bisa dibeli melalui link berikut : Budaya Cerdas.












