
JAKARTA, PMP – Saat masih SMP usia 13-14 tahun, Erros Djarot sudah sangat mengagumi Presiden Soekarno dan setia mendengar pidato Bung Karno di Radio Republik Indonesia (RRI) pada setiap peringatan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus.
“Jiwa, pikiran dan semangat Banteng, substansi dari nasionalisme ajaran Bung Karno, sudah tertanam begitu mengakar dalam diri ini,” tulis Erros Djarot dalam buku Autobiografi Erros Djarot jilid 1 yang terbit September 2025.
Baca juga : Menjadi Santri dan Remaja Banteng di Yogyakarta (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 9)
Berikut kisah selengkapnya :
Sebagai belia yang baru memasuki jenjang remaja, kekaguman saya pada sosok Sang Proklamator, Bung Karno, saya rasakan begitu berlebihan. Kehadiran Putra Sang Fajar sebagai Bapak Bangsa yang sangat mencerahkan jiwa dan pikiran rakyatnya, membuat saya selalu berangan-angan ingin menjadi manusia seperti dirinya. Manusia cerdas, gagah, elegan, berwibawa, dan sangat dicintai rakyat.
Itu pula sebabnya, mengapa bertahun-tahun sejak usia bocah, setiap upacara kenegaraan 17 Agustus digelar di Istana Merdeka Jakarta, saya selalu tak mau jauh dari radio yang saat itu menjadi alat satu-satunya untuk dapat mengikuti laporan langsung. Hanya satu acara yang selalu saya tunggu dari setiap peristiwa kenegaraan 17 Agustus yang diliput langsung Radio Republik Indonesia (RRI), tidak lain hanyalah pidato Bung Karno, Sang Singa Podium.
Saat berpidato, suara Bung Karno begitu kaya akan diksi dan intonasi yang membuat siapa pun yang mendengarnya pasti tersirap, hanyut dalam kebanggaan yang menghangatkan darah dan pikiran. Sungguh tak salah bila ia selalu saya hormati dan tempatkan dalam kalbu dan pikiran saya, sebagai Sang Pemimpin Besar Revolusi, presiden, pemimpin, dan guru saya.

Banteng Ingusan Jadi Junior Indoprop
Saya pernah begitu bangga ketika di suatu saat mendapat kesempatan untuk ikut serta dalam sebuah perhelatan para petinggi komunitas Banteng di Yogyakarta. Saat itu hadir para pemimpin dari Partai Nasional Indonesia (PNI), kakak-kakak dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), kakak-kakak senior di Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) yang rata-rata adalah pelajar siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).
Saat itu, seingat saya, kami berkumpul untuk mendengarkan ceramah Cak Roeslan Adulgani, Menteri Penerangan RI, yang juga senior ideolog PNI. Saat itu saya masih mengenakan celana pendek sebagai siswa kelas 3 SMP.
Namun, walau saat itu saya masih berusia sekitar 15-16 tahun, masih dalam posisi sebagai kader Banteng ingusan, saya merasa sangat beruntung dan bangga karena saya telah dimasukkan dalam kelompok kakak-kakak senior GSNI sebagai anggota Junior Indoprop, indoktrinasi propaganda.
Saya masih ingat, senior GSNI yang langsung membimbing saya adalah Mas Ngurah Datraja, orang Bali. Saya ditugaskan untuk membawahi sejumlah komisariat dalam hal tugas organisasi sebagai Indoprop. Bahkan sering juga saya berkeliling ke kampung-kampung untuk melakukan tugas sebagai Indoprop kepada para siswa dan muda-mudi setempat yang terkadang umurnya jauh lebih tua dari saya.
Walaupun sesungguhnya saat itu saya pribadi masih “rabun” pengetahuan seputar Marhaenisme ajaran Bung Karno, tapi karena kegemaran saya membaca setiap naskah tulisan Bung Karno yang tersedia dan saya rajin mengikuti setiap kali Bung Karno berpidato, maka saya jadi cukup hafal. Karena hafal agak lumayan baik, maka para senior mengira saya sungguh memahami, bahkan melebihi para senior yang malas membaca. Hal itulah yang menyebabkan saya menjadi seorang siswa yang dikenal sebagai aktivis.
Murid Bagong Kussudiardja dan N. Simanungkalit
Dulu di sekolah saya, SMP Negeri VIII Yogyakarta, saya sempat menjabat sebagai Ketua GSNI melanjutkan senior saya Mbak Herawati, merangkap ketua sejenis OSIS, serta ketua Korps Pelajar Serbaguna (Kojarsena).
Oleh karenanya waktu itu, saat Pak Menteri Olahraga Maladi dan Menteri Penerangan Cak Roeslan Abdulgani mengumandangkan seruan agar pelajar nasionalis turut giat mengampanyekan motto: Mens sana in corpore sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, maka sebagai kader nasionalis dalam skala Banteng belia, tim sekolah SMPN VIII yang saya pimpin sempat menjuarai lomba gerak jalan, tenis meja walau bukan sebagai yang utama, deklamasi, serta cerdas tangkas antarpelajar SMP se-Yogyakarta.
Hal itu semata untuk menunjukkan bahwa Banteng-Banteng belia pun sehat jasmani, rohani, dan pikiran.
Selain itu kami juga menerima sejumlah pelajaran yang berkaitan dengan olah rasa. Karena itu sebagai kader Banteng, sejak belia kami sudah diperkenalkan dengan dunia kesenian.
Saya masih ingat, salah satu guru kesenian kami di bidang tari tradisional adalah Romo Bagong Kussudiardja, ayah dari Butet Kartaredjasa. Seni tari modern diajarkan oleh Pak Wisnu Wardhana. Primadona siswi penari balet di sekolah saat itu, saya masih ingat adalah Indita atau Ita.
Sedangkan seni suara dan musik di bawah bimbingan Pak Supolo dan tokoh musisi nasionalis, dirigen kondang, Pak N. Simanungkalit. Mereka semua adalah para senior dan para pengikut Bung Karno yang setia.
Tak lupa masa itu di sekolah pun, masalah etika, agama, dan budi pekerti wajib kami perdalam, sehingga sebagai Banteng belia kami sudah mendapat tuntunan tentang apa itu etika, logika, dan estetika. Itulah yang menyebabkan saya bangga menjadi kader Banteng saat itu, ketika semangat nasionalisme masih berkobar apinya, bukan abunya yang berhamburan hingga menutup mata hati, mata batin, dan pikiran.
Saya tak bisa melupakan betapa besar jasa Ibu Mandoyo, Kepala Sekolah SMPN VIII selama saya menjadi murid bimbingannya. Beliau memberi andil besar membangun pola pikir dan budi pekerti saya sebagai pelajar berlabel nasionalis, yang selanjutnya turut mengantar hingga saya bisa menerjemahkan pesan mbah kakung dengan baik, menjadi manusia Indonesia sejati.
Saya resapi betul keindahan ideologi Marhaenisme yang mencerahkan dan yang selalu mengobarkan bara semangat perjuangan mencerdaskan bangsa, melepaskan rakyat dari berbagai belenggu penjajahan.
Buram Setelah Gestok
Sayangnya masa cerah dan pencerahan yang membanggakan ini, mulai redup dan perlahan menjadi buram dan kabur setelah prahara Gestok, Gerakan Satu Oktober 1965, membuka lembaran sejarah baru. Sejarah yang tercatat dengan nama populer G-30-S/PKI ini, merupakan awal pembelahan massa rakyat.
Golongan kami massa rakyat Orde Lama atau Orla, dan massa mereka gerakan Orde Baru atau Orba. Massa Orla adalah massa rakyat pendukung setia Bung Karno yang oleh rezim Orba diberi stempel sebagai kelompok “kiri”, afiliator komunis, dan pro-Peking Cina.
Sedangkan massa Orba adalah kumpulan massa binaan tentara di bawah komando Mayor Jenderal Soeharto yang pro-Amerika, dengan mentor politik masa depan ala “kanan-barat” di bawah arahan sebuah institusi berlabel tiga huruf yang sangat kondang, CIA.(Kukuh Bhimo Nugroho)
*Naskah ini dinukil dari buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1 yang terbit September 2025. Buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, jilid 3, dan “Erros Djarot Apa Kata Sahabat”, bisa dibeli melalui link berikut : Budaya Cerdas.












