HeadlineIndeksSpotlight

Erros Djarot dan Slamet Rahardjo Anak Broken Home (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 8)

×

Erros Djarot dan Slamet Rahardjo Anak Broken Home (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 8)

Sebarkan artikel ini
Adik kakak, Erros Djarot (Sugeng Waluyo) dan Slamet Rahardjo. (FB @DewiDjarot)

JAKARTA, PMP – Erros Djarot dan kakak sulungnya Slamet Rahardjo sejatinya anak broken home sejak orang tua mereka bercerai pada awal 1959, saat itu Erros 9 tahun dan Slamet 10 tahun.

Mereka tujuh bersaudara. Perceraian menyebabkan Erros dan Slamet serta dua adiknya harus beberapa kali pindah dari kota satu ke kota yang lain mengikuti bapaknya Djarot Djojoprawiro yang prajurit TNI AU. Sementara tiga adik terkecil tetap ikut mamah Eni Sulesni Tanudireja tinggal di Jakarta. Mereka pindah mulai dari Balikpapan, Yogyakarta, Belitung, dan “kembali” ke Jakarta saat Erros masuk SMA.

Baca juga : Terinspirasi Fatmawati, Guruh dan Erros Perkaya Frasa Bahasa Indonesia dalam Lirik Lagu-Lagu Mereka (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 3)

Perjalanan awal kehidupan menjadi anak broken home dikisahkan Erros dalam buku Autobiografi Erros Djarot jilid 1. Berikut petikannya :

Akibat perceraian kedua orang tua, kami (berempat) terpaksa meninggalkan Jakarta menuju Balikpapan karena bapak menjabat sebagai Komandan Pangkalan Udara (Lanud) AURI Sepinggan di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Untungnya di kemudian hari, saya (9) dan Mas Slamet Rahardjo (10) menyikapi perceraian kedua orang tua kami ini sebagai peristiwa manusia biasa yang bisa terjadi pada keluarga mana pun. Perceraian orang tua kami pada akhirnya membuat kami menjadi anak-anak yang harus terus berjuang memaknai banyak hal dalam kehidupan ini. Kami tidak terus meratap dan menjadi cengeng kehilangan sentuhan langsung kasih sayang seorang ibu, sejak kecil.

Baca Juga :  Dihadiri Erros Djarot dan Christine Hakim, Sandiaga Gelar Nonton Bareng Tjoet Nja' Dhien

Sebagai kompensasi, kami berusaha menempatkan bapak sebagai “our hero” dalam melangkah ke depan. Memasuki kehidupan tahun demi tahun sebagai anak broken home, tapi tetap bertahan untuk tidak merusak diri.

Kami bahkan merasa tumbuh sejak awal sebagai pohon kecil yang perlahan tumbuh dengan siraman air penyubur dan sinar matahari yang menghidupkan kami secara alami, sehingga kami berdua dapat kokoh berdiri sebagai pohon rindang dengan batang yang kuat karena berhasil tegak berdiri secara mandiri.

Buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, dan jilid 3. (Budaya Cerdas)

Di sekolah, Mas Slamet yang biasanya menjadi anak manis, kalem, dan ramah, sedikit berubah menjadi perkasa dan suka berkelahi. Sementara saya sering mencari gara-gara dan pada saat terjadi pertengkaran, di mana anak-anak yang marah menantang saya untuk berkelahi, Mas Slamet-lah yang saya dorong untuk melawan mereka. Pada masa itu, Mas Slamet menjadi sangat gemar berkelahi. Ia sangat pemberani.

Satu hal yang juga selalu kami kenang dan tak mudah dilupakan adalah saat menghadapi datangnya perayaan Hari Ibu. Saya dan Mas Slamet, entah atas pemikiran apa, kami berdua bersepakat untuk mengurung diri di bawah meja belajar yang terdapat di kamar kami. Meja itu kami tutup dengan kain selimut. Kami tak mau bersekolah pada hari itu karena merasa tak nyaman, menghindar bertemu kawan-kawan di sekolah.

Baca Juga :  Guntur Dibujuk Jadi Menteri Muda Urusan Pemuda Kabinet Soeharto (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 2)

Kami dihantui bayangan, takut dihujani pertanyaan, “Di mana Ibu kalian?”

Pertanyaan itu kami bayangkan ada di benak ketika melihat teman-teman lain datang bergandengtangan dengan ibu-ibu mereka. Sementara saya dan Mas Slamet harus melihat pemandangan itu dengan perasaan hancur merindukan kehadiran mamah.

Sebetulnya pertanyaan tak menyenangkan dari teman-teman seperti yang kami bayangkan itu, sampai hari ini belum pernah saya dengar. Namun peristiwa menggelikan itu menjadi kenangan menyedihkan tapi sekaligus juga indah dalam hidup saya, walaupun antara peristiwa bodoh itu dengan saya sekarang ini telah berjarak puluhan tahun.

Bapak Menikahi Kawan Kami Main Kasti

Kehidupan saya, Mas Slamet, dan kedua adik mulai goyah ketika kami baru saja melalui tahun pertama tinggal di Balikpapan. Bapak mengawini Herti, putri asli Dayak, teman kami bermain kasti. Padahal jarak umur Herti dengan Mas Slamet hanya terpaut lima tahunan.

Kami terpana karena sebelum itu, selama kami bermain kasti bersama Herti, kami mengira bapak akan menikahi guru kami, Ibu Nur, kakak tiri Herti. Namun rupanya Ibu Nur sudah bersuami dan entah mengapa bapak mengawini Herti.

Baca Juga :  Guntur Tugaskan Erros Dampingi Megawati Soekarnoputri Melawan Orde Baru (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 1)

Sejak pernikahan bapak dengan Herti, kawan kami bermain kasti itu, kami  memanggilnya dengan panggilan tambahan, Tante Herti. Keadaan menjadi tak nyaman lagi. Kerinduan pada mamah, menjadi kembali terbangun kuat. Perceraian orang tua saya inilah yang membuat mamah dan saya hidup berjarak. Baik secara fisik, yang lambat laun membangun rasa dan suasana batin menjadi turut, seakan ada jarak dan memang berjarak.

Perasaan gundah dan gelisah menyelimuti benak kami di sepanjang hari. Hidup satu rumah dengan pendatang baru yang sebelumnya berstatus sebagai kawan, berubah posisi sebagai ibu tiri, dengan sendirinya membuat saya dan Mas Slamet berkedudukan dalam status anak. Tumbuh dalam hati kami protes terpendam yang tak terucapkan.

Kondisi batin dan kejiwaan kami seperti terkurung dalam ruang yang pengap tanpa jalan keluar. Kehidupan yang kurang kondusif buat pertumbuhan jiwa saya, Mas Slamet, dan kedua adik ini, akhirnya membuat kami menyetujui ketika suatu malam bapak menawarkan kami untuk pindah ke Yogyakarta, di mana kakek, mbah kakung kami, Kiai R. Sjamsiar Djojoprawiro tinggal di sana, di Kampung Lempuyangan.(Kukuh Bhimo Nugroho)