HeadlineIndeksSpotlight

Ini Kisah Terciptanya Lagu “Selamat Jalan Kekasih” yang Dipopulerkan Chrisye (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 5)

×

Ini Kisah Terciptanya Lagu “Selamat Jalan Kekasih” yang Dipopulerkan Chrisye (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 5)

Sebarkan artikel ini
Erros Djarot, Sekar Putih, Banyu Biru, dan Dewi Trijati Surianegara Djarot. (dok. pribadi Erros Djarot)

JAKARTA, PMP – Lagu “Selamat Jalan Kekasih” yang disenandungkan Chrisye dan meledak di blantika musik Indonesia di pertengahan 1980-an, merupakan salah satu lagu fenomenal ciptaan Erros Djarot untuk isteri tercintanya, Dewi Trijati Surianegara Djarot, yang tengah merampungkan disertasi doktoral di Paris Perancis.

Lirik lagu “Selamat Jalan Kekasih” ini begitu puitis khas lagu-lagu Erros, yang rupanya sejak awal berkarya telah terinspirasi Ibu Fatmawati Soekarno yang menyarankan Erros dan Guruh Soekarnoputra untuk menciptakan lirik-lirik lagu dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan indah. Erros memaparkan kisah “Selamat Jalan Kekasih” dalam buku Autobiografi Erros Djarot jilid 1 yang diterbitkan pada September 2026. Berikut cuplikan naskahnya :

Tak memakan waktu lama, saya sampai di kediaman mertua, di Jalan Teuku Umar No. 6, Menteng, Jakarta Pusat. Rumah mungil di Jalan Teuku Umar ini, walau bagi banyak orang hanya sebuah rumah kecil yang nyelip di antara rumah-rumah besar di sepanjang Jalan Teuku Umar, tapi bagi saya terlalu banyak menyimpan kenangan yang tak terlupakan.

Baca juga : Terinspirasi Fatmawati, Guruh dan Erros Perkaya Frasa Bahasa Indonesia dalam Lirik Lagu-Lagu Mereka (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 3)

Baca Juga :  Langkah Gibran Jokowi Maju Wali Kota Solo Bakal Tak Terganjal

Di rumah ini, para aktivis sering berkumpul. Di rumah ini, perdebatan sengit sering terjadi antara garis keras yang nonkompromi, dengan aktivis yang masih membuka diri mau berkompromi dengan pihak penguasa dengan alasan hanya merupakan langkah taktis.

Di tempat ini pula, saya pertemukan Gus Dur dengan Megawati Soekarnoputri untuk pertama kalinya. Dan di rumah mungil ini, dalam kegiatan berkesenian, sebuah lagu yang hingga hari ini masih sering didengar masyarakat pecinta lagu Indonesia berjudul “Selamat Jalan Kekasih” tercipta.

Lagu ini sepenuhnya saya peruntukkan istri saya, Dewi, ketika tengah menyelesaikan disertasi doktoralnya di Universitas Sorbonne, Paris. Sebagai ungkapan rasa rindu dan penyemangat baginya agar tak perlu mengkhawatirkan keadaan saya di Jakarta, karena doa dan cita-cita membangun masa depan kami berdua selalu mendampingi dan mengawal perjuangannya. Menjadi doktor harus dimaknai sebagai bagian membangun cita-cita itu.

Selamat Jalan Kekasih

Resah rintik hujan,

Yang tak henti menemani,

Sunyinya malam ini,

Sejak dirimu jauh dari pelukan.

 

Selamat jalan kekasih,

Kejarlah cita-cita,

Jangan kau ragu tuk melangkah,

Demi masa depan dan segala kemungkinan…

Rumah Milik Mertua Dubes Ilen Surianegara

Baca Juga :  Guntur Tugaskan Erros Dampingi Megawati Soekarnoputri Melawan Orde Baru (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 1)

Rumah dalam bentuk khas peninggalan zaman dulu tempat tinggal mertua ini, walau tampak mungil dibandingkan rumah-rumah para pejabat lain yang berjejer di sepanjang Jalan Teuku Umar, tetapi bagi saya rumah ini merupakan tempat tinggal indah yang banyak menyimpan kenangan.

Saya dan istri, juga anak pertama kami Banyu Biru, sempat tinggal menempati rumah ini selama hampir lima tahun, sepanjang mertua bertugas di luar negeri sebagai duta besar. Rumah sangat sederhana ini, jaraknya dari rumah kediaman mantan Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri, hanya kurang lebih seratus meter.

Buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, dan jilid 3. (dok. Budaya Cerdas)

Uniknya, meskipun rumah mungil ini berada di kawasan Menteng, tapi di setiap kamarnya tidak diperbolehkan dipasang air conditioner (AC). Mertua yang ekstrem kerakyatan, marxian-intelectual tulen, berdalih bahwa dengan memasang AC membuat kita nyaman dapat nyenyak tidur, hanya akan dengan mudah melupakan derita rakyat yang hidup di kampung-kampung Jakarta, yang pasti selalu kepanasan tidur tanpa AC.

Pada awalnya saya sangat geram dan menentang. Tapi setelah terbiasa dan mau memaknai larangan memasang AC yang mertua gariskan, ternyata perasaan hidup seadanya dan jauh dari kenyamanan hidup ala hedonis, terasa sangat menyehatkan perasaan dan mempertebal empati terhadap amanat penderitaan rakyat.

Sayangnya sekarang, rumah mungil penuh kenangan ini sudah lepas dari kepemilikan kami, dirampas oleh para mafia tanah. Sampai sekarang masih kami perkarakan, terbengkalai, tak bisa dibangun, dan berada dalam keadaan kosong. Dulu, saat Kantor Imigrasi masih berada di seberang jalan, di mana bagian belakang kantor tepat saling berhadapan dengan rumah mertua, di bagian depan pagar rumah, ada pedagang bakso yang dikenal dengan nama “Bakso Teuku Umar”.

Baca Juga :  Saya Nggak Mau Dengar Lagi Mas Taufiq Kiemas Bermain-Main dengan BAKIN (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 4)

Pedagang bakso itu kami biarkan berjualan mencari nafkah di tempat itu. Bahkan ketika acap kali terjadi razia dari Satpol PP yang terkadang perilakunya saat melakukan pembersihan sangat tidak manusiawi, para pedagang saya perbolehkan masuk ke dalam halaman rumah berikut dagangannya.

Sehingga dengan demikian, para penggusur sadis pun tak berani menyentuh mereka. Saya sengaja pasang badan melindungi mereka. Itulah sebabnya mengapa rumah sederhana, unik, dan mungil ini telah menjadi bagian dari sejarah hidup saya, maupun bagi para pedagang kecil sebagai manusia. Kenangan tentang hal itu sangat indah.(Kukuh Bhimo Nugroho)

*Naskah ini dinukil dari buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1 yang terbit September 2025. Buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, jilid 3, dan “Erros Djarot Apa Kata Sahabat”, bisa dibeli melalui link berikut : Budaya Cerdas.