
JAKARTA, PMP – PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) menegaskan komitmennya mendukung kebijakan Pemerintah meningkatkan penggunaan energi bersih dan berkelanjutan (energi baru terbarukan/EBT) hingga mencapai 91% persen mulai dari listrik hijau, biomassa, dan energi surya.
Direktur Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, menegaskan Sido Muncul konsisten memilih energi ramah lingkungan meski harus mengeluarkan biaya yang lebih tinggi.
“Kami sudah menunjukkan komitmen menggunakan energi hijau. Untuk listrik saja, kami membayar listrik hijau yang lebih mahal. Listrik biru itu lebih murah, tetapi kami tidak memilih itu. Tahun 2022 kami masih memakai PLN biasa, dan mulai 2023 kami menggunakan listrik hijau,” ujar Irwan melalui keterangan yang dikutip, Minggu (7/12/2025)
Irwan menegaskan komitmen perusahaan tidak berubah meski insentif untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap on-grid belum tersedia. Dirinya juga menghormati kebijakan pemerintah dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024 tentang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap on-grid.
“Tahun 2024 kami tetap menggunakan listrik mahal. Kemudian 61 persen energi kami berasal dari biomassa. Walaupun tidak ada insentif PLTS, tidak apa-apa. Kami tetap mendukung program pemerintah, karena perusahaan mampu membayar,” ungkap Irwan saat di Kantor Sido Muncul, Cipete, Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).
Irwan menegaskan perusahaan menyambut baik regulasi baru yang menghapus pembatasan pemanfaatan PLTS Atap maksimal 15%. Ia menilai kebijakan tersebut membuka peluang lebih luas bagi industri dalam mendorong penggunaan energi baru terbarukan (EBT).
Irwan juga meluruskan pemberitaan yang menyebut perusahaannya mengkritisi kebijakan insentif PLTS. Ia menegaskan bahwa penjelasan teknis mengenai potensi dampak pengurangan insentif bukanlah bentuk kritik.
“Sido Muncul mendukung apa pun kebijakan pemerintah. Tulisan yang beredar itu hanya tafsir. Jika insentif berkurang, maka investasi PLTS memang bisa berkurang. Itu masuk akal, tetapi bukan kritik,” ujarnya.
Porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) Sido Muncul meningkat dari 69 persen pada 2022 menjadi 89 persen pada 2023, dan kembali naik hingga mencapai 91 persen pada 2024. Peningkatan ini didorong oleh optimalisasi pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi utama, yang secara konsisten memberikan kontribusi di atas 60 persen setiap tahunnya.
Biomassa menjadi pilar utama transisi energi di pabrik Sido Muncul, disusul oleh pemanfaatan listrik surya (solar PV) yang terus menunjukkan pertumbuhan positif, dari 2,17 persen pada 2022 menjadi 4,03 persen pada 2024.
Di tahun 2024, Sido Muncul juga memperluas diversifikasi energi rendah emisi melalui penggunaan Steam CODB yang memberikan kontribusi 2,16 persen terhadap bauran energi. Inisiatif ini melengkapi upaya perusahaan dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis fosil seperti gas CNG dan minyak solar yang porsinya terus menurun dari tahun ke tahun.
Irwan menjelaskan biomassa menjadi salah satu pilar utama energi bersih perusahaan, terutama yang berasal dari limbah jamu. Sementara minyak solar hanya digunakan sebesar 1,63 persen dan CNG sebesar 7,48 persen.
“Dari dulu biomassa kami sudah 60 persen. Biomassa berasal dari limbah jamur. Kami zero waste. Total penggunaan EBT kami sudah 91 persen (tahun 2024),” jelasnya.
Irwan menegaskan kembali bahwa alasan perusahaan memilih energi hijau semata-mata karena kepedulian pada lingkungan.
“Kami memilih listrik yang mahal, bukan yang murah. Untuk apa? Supaya kepedulian kami terhadap lingkungan itu lebih ditingkatkan. Ya harus peduli sama lingkungan, makanya kami enggak mau pakai listrik murah,” tegasnya.
Sebelumnya, Manager Energi dan Produksi Sido Muncul, Iwan Setyo Wibowo juga telah memaparkan perjalanan perusahaan dalam mengimplementasikan energi baru terbarukan (EBT) dalam kegiatan Dialog Perkembangan EBT di Daerah dan Target EBT 2025–2030 yang berlangsung di Semarang. Ia juga menjelaskan strategi, capaian, serta hambatan yang masih dihadapi industri dalam transisi menuju energi bersih.
Dalam kesempatan itu, Iwan menyinggung soal dihapusnya skema ekspor-impor listrik PLTS atap ke PLN serta tidak dapat diklaimnya nilai ekonomi karbon (NEK) oleh industri.
“Dua hal ini sebenarnya bisa menjadi insentif menarik bagi industri untuk memasang PLTS atap. Ekspor-impor listrik bisa mengurangi tagihan listrik, dan NEK dari PLTS atap nilainya cukup besar karena bisa menurunkan emisi sekitar 1.000 ton CO₂ ekuivalen per tahun dikali Rp 50.000 per ton,” jelasnya
Meski demikian, Iwan mengatakan Sido Muncul tetap berencana memperluas penggunaan energi surya dan menargetkan penambahan kapasitas PLTS atap sebesar 1 megawatt pada tahun depan.
“Kami berencana menambah kapasitas PLTS atap sekitar 1 MW lagi tahun depan karena itu komitmen top manajemen untuk menggunakan energi terbarukan sebanyak mungkin, kalau bisa 100 persen. Saat ini EBT kami sudah 91 persen, tinggal 9 persen lagi,” kata Iwan.
Tahun ini, Sido Muncul menetapkan target penurunan emisi karbon tambahan sebesar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya dengan mendorong efisiensi energi di seluruh lini operasional. (hap)












